Tuesday, August 16, 2016

SIAPAKAH KHIDHIR?

Ketika kita membaca kisah2 Para Wali, kita sering mendengar sosok yg bernama Khidhir. Sebenarnya siapakah beliau, apakah beliau masih hidup hingga sekarang atau sudah meninggal? Al-Qur'an mengisah kan tentang seorang hamba Allah swt pada masa Nabi Musa as yang mempunyai derajat sangat tinggi di sisi-Nya. 

Kisah itu disebutkan dalam Surah Al-Kahfi, ayat 65: “Lalu mereka bertemu dgn seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya Rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Para Ahli Tafsir mengatakan bahwa yg dimaksud dgn 'hamba' pada ayat tersebut ialah Khidhir as. Kemudian yg dimaksud dgn 'Rahmat' ialah Wahyu dan Kenabian. Sedangkan yang dimaksud dengan 'ilmu' ialah ilmu tentang hal-hal yang Ghaib. Hadis2 Nabi saw juga menceritakan seorang hamba yang soleh ini.

1). Menurut Imam Nawawi kita boleh menyebut Khadhir (dengan membaca fathah kha' dan kasrah dlad), Khidhr (dengan membaca kasrah kha' dan dlad yang dibaca sukun) atau Khadhr (dengan membaca fathah kha' dan dlad yang dibaca sukun).

2). Namun nampaknya masyarakat kita lebih akrab menyebutnya Khidhr atau Khidhir. Al-Imam Kamaluddin Al-Damiri (w. 808 H) dalam ensiklopedianya yang berjudul 'Hayat al-Hayawan al-Kubra' menyatakan tentang perbedaan Para Ulama mengenai nama Khidhir. Namun menurut pendapat sebagaimana yang dinukil dari Para Ahli Sejarah dan juga dari Nabi SAW, sebagaimana yang kutip oleh Imam al-Baghawi dan Ulama lainnya berpendapat bahawa nama Nabi Khidhir adalah Balya. 

Sedangkan ayahnya bernama Malkan. Nabi Khidhir termasuk keturunan Bani Israil dan masih keturunan Para Raja. Beliau lari dari kerajaan, kemudian pergi dan menyibukkan diri dalam ibadah. Para Ulama berselisih pendapat tentang apakah sampai sekarang Nabi Khidhir masih hidup ataupun sudah meninggal. Imam Nawawi dan majoriti Ulama berpendapat bahwa beliau masih hidup dan berada di tengah2 kita sekarang. Pendapat ini disepakati oleh Para Tokoh Sufiyah dan Para Ahli Makrifat. 

Khabar yang mengisahkan tentang seseorang yang dapat berjumpa dan berkumpul dengan Nabi Khidhir sangat banyak. Al-Syeikh Abu 'Amr bin Shalah mengatakan bahwa Nabi Khidhir masih hidup menurut majoriti Ulama, Solehin dan org2 awam pada umumnya. Hanya saja ada sebagian Ahli Hadis yang mengingkari terhadap kehidupan Nabi Khidhir ini. Sementara itu Imam al-Hasan berpendapat bahawa Nabi Khidhir telah meninggal. 

Imam Ibnu al-Manawi mengatakan bahwa tidak ada hadis yang menetapkan tentang hidupnya Nabi Khidhir as. Menurut Imam Abi Bakar bin al-Arabi, beliau telah meninggal sebelum tahun seratus. Pendapat ini mendekati jawaban Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari ketika beliau ditanya tentang Khidhir dan Ilyas, apakah keduanya masih hidup? Maka beliau menjawab:"Bagaimana boleh demikian (masih hidup)!" Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak ada seorangpun yang masih hidup pada hari ini seratus tahun lagi”.

Pendapat yang benar adalah beliau masih hidup. Sebahagian Ulama mengatakan bahwa Nabi Khidhir pernah berkumpul dengan Rasulullah saw, mengunjungi Keluarga beliau, dan mereka memandikan Nabi saw ketika wafat. Riwayat-riwayat yang menceritakan hal itu berasal dari jalur-jalur yang sahih. Dalam tafsirnya, Imam al-Qurthubi juga membenarkan tentang hidupnya Nabi Khidhir as.

3). Lebih lanjut Al-Imam Al-Nawawi dalam kitabnya 'Tahdzib al-Asma' yang menukil pendapat Wahb bin Munabbih menyatakan, bahwa nama Khidhir sebenarnya merupakan laqab (julukan), sedangkan nama asli beliau adalah Balya bin Malkan bin Faligh bin 'Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. 

Para Ulama berbeda pendapat tentang alasan mengapa beliau disebut Khidhir. Majoriti Ulama mengata kan bahwa beliau disebut Khidhir kerana sesungguhnya ketika beliau duduk di atas permukaan tanah yg kering (menurut pendapat lain rerumputan kering), maka dari permukaan tanah itu tumbuh rerumputan yang berwarna hijau. Pendapat ini di dasarkan pada sabda Nabi saw: “Dinamakan Khidhir kerana ia duduk di atas tanah yg kering, kemudian dari bawah tanah itu tumbuh rerumputan yang hijau”. (HR. Bukhari). Menurut pendapat yang dinukil dari Imam Mujahid mengatakan, kerana ketika beliau solat, disekitar beliau menjadi hijau (muncul tumbuh-tumbuhan).

4). Sedangkan menurut Imam al-Khuthabi, beliau dinamakan Khidhir kerana ketampanannya dan wajahnya yang bersinar.

5). Nabi Khidhir mempunyai kuniyah Abu Al-Abbas dan merupakan sahabat Nabi Musa as. Allah swt telah memuji sosok Khidhir ini melalui firman-Nya: “Lalu mereka bertemu dgn seorang hamba di antara hamba2 Kami, yang telah Kami berikan kepadanya Rahmat dari sisi Kami, dan yg telah Kami ajarkan kpd nya ilmu dari sisi Kami." (Q.S. al-Kahfi: 65). Kemudian pada ayat2 berikutnya Allah swt menceritakan keajaiban2 yang dimiliki oleh Nabi Khidhir as. 

Para Ulama juga berbeda pendapat mengenai Khidhir, apakah ia seorg Nabi atau seorg Wali. Imam al-Qusyairi dan Para Ulama yg lain mengatakan bahwa Khidhir adalah seorang Wali. Sementara itu sebahagian Ulama mengatakan bahwa Khidhir adalah seorang Nabi. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam al-Nawawi. Imam al-Maziri mengatakan bahawa majoriti Ulama berpendapat Khidhir adalah seorg Nabi. Ada pendapat lain yg mengatakan beliau adalah seorang Malaikat, namun pendapat ini oleh Para Ulama dinilai sbg pendapat yg gharib (asing), lemah dan bathil.

6). Para Ulama yang berpendapat bahwa beliau seorang Nabi, juga masih berbeda pendapat, apakah beliau diutus untuk umat manusia atau tidak? Yang jelas mengenai nama, kehidupan dan kenabian Khidhir as terdapat perbedaan pendapat di kalangan Ulama. Keterangan yang pasti dalam al-Qur'an mengatakan bahwa Khidhir adalah salah seorang hamba Allah swt yang dikurniai Rahmat dan ilmu dari sisi-Nya. Penyebutan hamba pada ayat tersebut berarti beliau seorang Nabi ataupun seorang laki-laki yang Soleh (Wali). 

Keterangan yang pasti dalam hadis menyebutkan bahwa hamba itu bernama Khidhir. Sementara itu dalam al-Qur'an maupun al-Hadis tidak ada keterangan yang jelas mengenai keberadaan Khidhir, apakah beliau telah meninggal, masih hidup hingga sekarang, bertemu dengan Para Nabi dan Para Wali atau beliau mengucapkan salam pada sebahagian orang, kemudian mereka menjawab salamnya? Semua itu tidak ada dalil yang dapat digunakan sebagai pijakan secara pasti.

7). Namun setidaknya kita lebih tenang dan yakin dengan berita-berita yang disampaikan oleh Para Wali Allah tentang hidupnya Nabi Khidhir, mengunjungi mereka dan mengucapkan salam kepada mereka.

No comments:

Post a Comment