Sunday, August 14, 2016

PENGERTIAN ARASY BAGI KAUM SUFI

Dalam Risalah Qusyairiyah, Dzun Nun Al-Mishri pernah ditanya seseorang tentang ayat yang berbunyi, artinya:  "Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam diatas Arasy." (QS. Thaha: 5). Lalu dijawab, "Dzat-Nya tetap, tempat-Nya tidak ada, sebab Dia ada dengan Dzat-Nya; sedang segala sesuatu ada dengan hukumNya menurut kehendak-Nya.” 

Sedangkan menurut Asy-Syibli firman itu bermakna: "Ar-Rahman bersifat kesentiasaan (tidak bergeser), Al-Arasy (Singgasana-Nya) bersifat baru, dan Arasy pada Ar-Rahman bersemayam.” Adapun Ja'far bin Nashr mengartikannya bahwa ilmu-Nya menyeluruh dengan segala sesuatu. Kerana itu, tak ada sesuatu yang lebih dekat kepada-Nya dari sesuatu yang lain. Ja'far Ash-Shadiq berkata: "Barangsiapa yang meyakini bahwa Allah dalam, dari, dan di atas sesuatu, maka dia telah berbuat Syirik. Kerana, jika Dia berada dalam sesuatu, niscaya Dia terkurung; jika dari sesuatu, maka Dia baru (tercipta); dan jika di atas sesuatu, berarti Dia terpikul. 

Dlm Al-Qur'an disebutkan, artinya: "Allah Yang Maha Pemurah bertahta di atas  'Arasy." (QS. Thaaha:5). Dlm ayat ini disebutkan bahwa Allah bertahta diatas Arasy. Ayat ini termasuk ayat Mutasyabihat. Sebagaimana telah kita pelajari dalam bab sebelumnya bahwa Ulama Salaf mengartikan Istiwa (Istawa) dengan bersemayam atau bertahta menurut zahirnya ayat, sedangkan bagaimana hakikat yg sebenarnya kita manusia tidak dapat mengetahuinya, kita kembalikan kepada Allah sendiri, tegasnya hanya Allah sendirilah yang mengetahui hakekat dari bertahta itu. Dan sudah jelas bahwa bertahta Tuhan berbeda dengan bertahtanya makhluk. 

Sedangkan Ulama Khalaf mengartikan Istawa dengan ‘Berkuasa'. Jadi Allah berkuasa diatas Arasy. Adapun Arasy menurut sebagian Ulama ialah suatu benda yang maha besar yang menjadi pusat markas seluruh alam mengatur perjalanan dunia seluruhnya. Artinya: Dan sebagaimana hakekat wujud Arasy itu hanya Allah sendiri yang Maha Mengerti. Imam Malik berkata: "Istiwa (bertahta) itu sudah maklum diketahui, sedangkan caranya bagaimana majhul yakni tidak dapat kita ketahui.” Menurut sebagian Ulama bahwa kata2 Arasy harus ditakwili, dibelokkan dari arti zahirnya kepada arti lain sesuai ilmu bahasa (termasuk majaz) agar tidak menjadi salah faham, ialah diartikan dgn 'Singgasana.' Jadi Allah bertahta diatas Singgasana-Nya yakni Allah Maha Kuasa dalam segala hal apa saja.

Dalam Al Qur'an disebutkan, artinya: "Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia, Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, tidak menimpa kepada-Nya mengantuk dan tidak pula tidur, bagi-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tidak ada orang yang memberi syafaat di sisi Allah melainkan dengan seizin-Nya, Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak meliputi sesuatu dari Ilmu Allah melainkan apa yang Dia kehendaki, Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan tidak merasa berat memelihara keduanya dan Dia Maha Mulia lagi Maha Agung."
(Q.S. Al Baqarah: 255). 

Dalam ayat diatas disebutkan bahwa Kursi Allah Maha Besar, meliputi langit dan bumi. Berdasarkan ayat ini bahwasanya Allah itu berkursi. Sedangkan kita tidak mengetahui tentang hakekat Kursi Allah itu, hanya Allah sendirilah yg Maha Mengetahui. Dan sudah jelas bahwa Kursi Allah tidak seperti Kursi manusia, melainkan sesuatu yg agung sesuai dgn Kebesaran dan Keagungan Allah.

Di antara Mufassirin ada yang mengartikan Kursi dengan Ilmu. Jadi Ilmu Allah meliputi langit dan bumi, Allah mengetahui apa yang ada di hadapan manusia ataupun yang ada di belakang mereka. Bahkan segala apa saja yang ada di langit dan bumi diketahui oleh Allah. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa arti Kursi ialah Ilmu. Sebagian Mufassirin seperti Al Qafal dan Az Zamakhsyari mengatakan bahwa kata-kata Kursi Allah meliputi langit dan bumi ini termasuk kata-kata majaz yang menggambar Keagungan Allah dan Kebesaran-Nya. Tegasnya Allah Maha Agung dan Maha Besar. 

Tidak ada Kursi dan tidak ada duduk bagi Allah swt (Al-Maraghi : III - 14) Ayat diatas disebut ayat Kursi, kerana di dalam ayat itu disebut kata-kata Kursi. Arasy menurut istilah bahasa artinya Singgasana Raja, yang dimaksud dgn bersemayam ialah yang sesuai dengan Kebesaran Allah dan Kesucian-Nya. Pernah ditanya kepada Malik tentang makna Istiwa (bersemayam, berketetapan). Maka beliau menjawab: “Menurut lughat Istiwa itu terang. Betapa Tuhan bersemayam atas Arasy itu, tak dapat kita ketahui. Menanyakan tentang bagaimana Tuhan bersemayam di atas Arasy, bid’ah."

Demikianlah pendapat Sahabat dan Ulama Salaf. Dan Ulama Salaf menerima hal tersebut dengan tidak menerangkan begini dan begitu dan tidak menyerupakan keadaan itu dengan keadaan makhluk. Mereka menyerahkan hal itu kepada Allah sendiri. Adapun Asy'ariyah mentakwilkan makna ini bahwa sesudah Allah membentuk langit dan bumi, Allah pun mentadbirkan segala urusannya dan menentukan nizhamnya menurut takdir dan hikmah yang telah ditentukan. (Imam Qusyairi).

No comments:

Post a Comment