Sunday, August 14, 2016

SYARIAT DALAM AMALAN TASAWWUF

SELURUH pengamal Tasawwuf yang mengamalkan pengamalan Tarikat Muktabarah sepakat bahwa landasan utama peramalan itu adalah pengamalan Syariat yang kuat. Semua lembaga Tarikat Muktabarah berlandaskan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang sangat menekankan pengamalan Syariat yang sempurna, adalah satu-satunya jalan untuk berhasilnya pengamalan Tarikat itu. 

Sementara itu ada sebagian orang yg berpura pura mengaku pengamal Tasawwuf tapi tidak mengamalkan Syariat, mengatakan mereka telah sampai ke tingkat yg tinggi, telah sampai ke tingkat Musyahadah yg dibuktikan dgn beberapa kekeramatan kekeramatan. Pengakuan yg demikian ini adalah sesat, kerana sangat bertentangan dgn Al Qur'an dan Al Hadis, dan tidak sesuai dengan aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah dan berbeda atau sangat bertentangan dgn kenyataan yg dilaksanakan oleh para Tokoh Sufi pengamal Tarikat Al Muktabarah.

Pengakuan2 yang demikian ini umumnya datang dari orang yang berpura pura pengamal Tasawuf atau datang dari pihak-pihak yang tidak senang kpd jalan yg ditempuh oleh para Sufi. Para sufi menekankan peramalannya harus didasarkan kepada 'At Taslim' (penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT), 'At Tafwidh’ (berserah diri sepenuhnya kpd Allah SWT),  'At Tabarri Minan Nafsi' (Pembebasan diri dari hawa nafsu), dan 'At Tauhid bil Khalqi wal  Masyi'ah' (mengesakan hanya Allah sajalah yang Maha Pencipta dan Maha Berkehendak). 

Berbeda dengan golongan Qadariah yang mendasarkan peramalannya kepada 'Al Fi’lu' (perbuatan adalah kehendak yang bersangkutan), 'Al Masyi'ah' (semua kehendak adalah kehendak yang bersangkutan), 'Al Khalqah' (semua yang diciptakan adalah ciptaan yang bersangkutan) dan 'At Takdir' (semua takdir itu tergantung kepada yang bersangkutan).

Mereka ini semuanya, mendasarkan apa saja yang mereka lakukan tergantung kehendak mereka. Di dalam Al Qur'an banyak sekali dalil yang menunjukkan kebenaran landasan peramalan para Sufi tersebut. Hasilnya pun kelihatan dengan pengamalan yg sungguh2 yg didasarkan kepada Syariat yang kuat, para Sufi memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat, ketenteraman dan ketenangan. Apa yang diperoleh para Sufi ini merupakan buah, hasil ibadatnya yang merupakan Rahmat dari Allah SWT. 

Apa yg diperoleh oleh para Sufi ini belum tentu, atau bahkan kecil sekali kemungkinannya dapat diperoleh oleh orang lain. Letak perbedaannya menurut Al-Ghazali, para Sufi lebih gigih dalam riyadah dan mujahadah. Mereka tidak memadai dengan pengamalan2 Syariat wajib saja, tetapi harus juga mengamalkan Syariat Syariat Sunnah. Para Sufi tidak hanya meninggalkan yang haram dan makruh saja, tetapi juga meninggalkan hal-hal yang mubah (kebolehan), yang tidak berfaedah apalagi kalau hal itu dapat membawa kepada melalaikan Syariat.

Ibnu Khaldun menyatakan, berkat riadah dan mujahadah yang sungguh2, maka para Wali memperoleh tanda2 kemenangan yang besar, memperoleh kekeramatan2, sebagaimana  hal itu juga diperoleh para Sahabat Rasulullah  As Sabiqunal Awwalun. Orang tidak boleh tertipu dan terpedaya dengan adanya kekeramatan-kekeramata ini sebelum dibuktikan kuatnya Syariat yang bersangkutan. Kekeramatan ini tidak menjadi  tujuan dan tidak pula menjadi ukuran. 

Yang menjadi tujuan adalah dekat kepada Allah, mendapat redha-Nya dan yang menjadi  ukurannya mengamalkan Syariat dengan berhakikat sempurna. Pengamal Tasawwuf yang telah memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat, ketenteraman dan ketenangan adalah suatu bukti bahwa dia telah menjalani atau menempuh jalan yang benar dan mengamalkan Syariat yang haq.

Dalam buku "Al Munqiz Minadlalal" diuraikan tentang para Sufi yang banyak memberikan pendapat atau komentar berkenaan Tasawwuf dihubungkan dengan Syariat, ini disebutkan di dalamnya: 

1) IMAM AL GHAZALI mengatakan: "Ketahuilah bahwa banyak org yg mengaku, dia adalah menempuh jalan (Tarikat) kepada Allah, tapi yg sesungguhnya, yang bersungguh2 menempuh jalan itu adalah sedikit. Adapun tanda orang yg menempuh jalan yg sungguh2 dan benar, diukur dari kesungguhannya melaksana kan Syariat. 

Kalaupun ada orang yang mengaku bertasawwuf dan bertarikat dan telah menampakkan semacam kekeramatan kekeramatan, melalaikan atau tidak mengamalkan Syariat, ketahuilah bahwa itu adalah tipu muslihat, sebab orang yang bijaksana (orang Tasawwuf) mengatakan : Jikalau kamu melihat seseorang mampu terbang di angkasa dan mampu berjalan di atas air, tetapi ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Syariat, maka ketahuilah bahwa sebenarnya ia itu adalah setan." 

2) ABU YAZID AL BUSTAMI menyatakan: "Andaikata kamu melihat seseorang yang diberi kekeramatan hingga dapat naik ke udara, maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu dapat melihat dan meneliti bagaimana dia melaksanakan perintah dan larangan Agama serta memelihara ketentuan2 hukum Agama dan bagaimana dia melaksanakan Syariat Agama."

3) SAHL AT TASTURI mengungkapkan tentang  pokok pokok Tasawwuf yg terdiri dari 7 pokok (jalan Tarikat), iaitu:

1) Berpegang kepada Al Kitab (Al Qur'an)
2) Mengikuti Sunnah Rasul
3) Makan dari hasil yang halal
4) Mencegah gangguan yang menyakiti
5) Menjauhkan diri dari maksiat
6) Selalu melazimkan taubat 
7) Menunaikan hak-hak orang lain

4) JUNAID AL BAGHDADI menyatakan, orang yang mengaku ahli Makrifat tetapi dalam gerak geriknya meninggalkan perbuatan perbuatan baik dan meninggalkan, mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan:  “Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan”. Selanjutnya beliau mengatakan : "Ucapan itu adalah ucapan suatu kaum yang mengatakan adanya pengguguran amalan amalan. Bagiku hal itu merupakan suatu kejahatan yang besar, dan orang yang mencuri atau orang yang berzina adalah lebih baik daripada orang yang berfahaman seperti itu."

5) ABUL HASSAN AS SYAZILI mengatakan : “Jika pengungkapanmu bertentangan dgn Al Quran dan Sunnah Rasul, maka hendaklah engkau berpegang kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasul itu, sambil engkau mengatakan kpd dirimu sendiri, sesungguhnya Allah swt telah menjamin diriku dari kekeliruan dlm Al Quran dan Sunnah Rasul.” Allah tidak menjamin dlm segi pengungkapan, ilham, maupun musyahadah (penyaksian), kecuali setelah menyesuaikan perbandingannya dgn Al Quran dan Sunnah Rasul.

Sebagai kesimpulan, semua pengamalan kaum Sufi harus mengikuti semua nas Al Quran dan As Sunnah dan meneladani amaliah2 Rasulullah saw, sebagai panutan tertinggi para Sufi. Sabda Rasulullah saw:  Nabi saw ditanya tentang suatu kaum yang meninggalkan amalan2 Agama, sedangkan mereka adalah org2 yang berbaik sangka kepada Allah swt. Maka jawab Nabi saw: "Mereka telah berdusta. Kerana jika mereka berbaik sangka, tentu amal perbuatan mereka juga adalah baik.”

No comments:

Post a Comment