Wednesday, February 17, 2016

FAHAMI DULU MAKNANYA LALU PELAJARI ILMUNYA

(Syariat, Thorikat, Hakikat dan Ma’rifat) adalah sudah merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apabila gugur salah satunya berarti gugur pula keseluruhannya. 

1. SYARI’AT: Dari segi bahasa artinya : “Tata-Hukum”. Disadari bahwa dalam alam semesta ini tidak ada yang terlepas dari apa yang dinamakan “Hukum”. Termasuk untuk manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai hamba Allah SWT, perlu diatur dan ditata, sehingga tercipta keteraturan yang menyangkut hubungan antar manusia, manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan Allah SWT Sang Maha Pencipta.

Pembahasan mengenai materi hukum, dimana manusia sebagai objeknya, tercakup dalam beberapa disiplin ilmu; seperti Ilmu Fiqih, Ilmu Adab, dll. Dalam ajaran Islam, melaksanakan aturan dan ketentuan hukum tanpa memahami dan menghayati “apa tujuan hukum”, maka pelaksanaannya tidaklah memiliki nilai yang sempurna. Orang tua-tua dahulu biasa menyebutnya “kulit tanpa isi”. Tujuan hukum adalah kebenaran, atau dalam istilah Kitab Kuning “yang sebenar-benarnya” (hakikat). Untuk mencapai tujuan tentu memerlukan “Jalan” dan “cara”. Tanpa mengetahui jalannya, tentu sulit untuk mencapai tujuan. Hal itu dinamakan “Tarekat”.

2. Tarekat: Persamaan katanya menurut segi bahasa ; “Madzhab” yang artinya : “J a l a n”. Mengetahui adanya Jalan, perlu pula mengetahui “cara” melintasi jalan agar tujuan tidak kesasar. Tujuan adalah kebenaran, maka cara untuk melintasi jalan harus dengan benar pula. Untuk itu harus sudah ada persiapan batin, yakni sikap yang benar. Sikap hati yang demikian tidak akan tampil dengan sendirinya, sehingga perlu adanya latihan-latihan (riyadha) tertentu dengan cara-cara tertentu pula. Sekitar abad ke-2 dan ke-3 Hijriah lahirlah kelompok pertarekatan yang beraliran sufi, dengan metode latihannya berintikan ajaran “ZIKRULLAH”. Sumber pegangannya tidak terlepas dari Ajaran Rasulullah S.A.W. Kelompok ini menamakan dirinya dengan nama “ Tarekat NAQSYABANDIYAH, Tarekat QODIRIYYAH, Tarekat SYADZILIYYAH. Sejalan dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT:

وَأَن لَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا ﴿١٦﴾

Artinya : "Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)". (Q.S.Al-Jin, ayat : 16).

Seseorang yang memasuki Tarekat, dinamakan S a l i k (orang yang berjalan), sedangkan cara yang mereka tempuh menurut cara-cara tertentu dinamakan S u l u k. Banyak hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang salik bila ingin sampai kepada Tujuan, diantara caranya sebagai berikut:

a. khalwat (bersunyi/semedi). Diwaktu khalwat ini diperlukan muraqabah (mengintip perilaku diri).

b. muhasabah (menghitung-hitung/merenungi diri mana yang baik dan mana yang jelek serta mana pula yang tercela).

c. mujahadah (tekun/rajin/sungguh-sungguh) dan banyak lagi istilah-istilah dengan Riyadhoh lahir batin, dll, sesuai dengan petunjuk dari Syekh/Mursid yang ‘Alim, yakni Mursyid yang mengetahui tentang ahwal-ahwal nafsu, Syekh tersebut orang yang telah Sah/Benar Zuqnya/Ma’rifatnya dan telah sampai kepada tingkatan Fana Billah. Inilah seorang Guru yang sebenarnya yang wajar menjadi Pemimpin Tarekat.

3. HAKIKAT: Istilah ini sudah merupakan Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Arab “Haqiqat” yang berarti; “kebenaran”, “kenyataan asal” atau “yang sebenar-benarnya”. Kebenaran dalam hidup dan kehidupan inilah yang dicari dan ini pulalah yang dituju. Hakikat Alam, Hakikat Diri saling berkait “diri mencari sebenar-benarnya diri”, “diri terperi, diri yang diperikan, diri tajali”. Identik dengan pengertian “Jasad, hati, nyawa, dan rasa/zuq”.(selanjutnya ada dibelakang lembaran ini).

Kebenaran bukan hanyak terletak pada akal pikir dan hati, tetapi juga pada “rasa”, yakni rasa-jasmani yang dapat dirasakan dengan rasa pahit, manis, asam, asin, dan sebagainya. Ada yang disebut rasa-rohani; yang dapat merasakan gembira, sedih, bingung, kecewa, ceria, dan sebagainya. Dan selanjutnya terdapat pula pada diri manusia yang disebut “Zuq/Rasa-Nurani”, rasa yang penuh cahaya. Tidak terasa pahit atau manis dan tidak pula seperti rasa gembira dan sedih. Di sinilah kebenaran dan di sini pula istana kebebasan, cinta kasih hakiki.

4. MA’RIFAT: Kata “ma’rifat” (bisa ditulis dalam Bahasa Indonesia “makrifat”) berasal dari kata ‘a r a f a yang artinya: mengenal. Bersumber dari Hadis Rasulullah SAW: “Siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya dia dapat mengenal Tuhannya”. Diri ini penuh dengan serba ketergantungan, kekurangan, kelemahan, f a n a, dibanding dengan Allah SWT., yang memiliki Kebesaran, Kekuasaan, Keperkasaan, dan Kekalan serta memiliki seluruh sifat-sifat Kesempurnaan. Tidak ada seorang manusiapun yang sanggup dan mampu mengenal-Nya dalam arti Hakiki, kecuali dengan Dia. Yakni dengan Sinar-Nya, hidayah-Nya, Qudrat dan Iradat-Nya. Sebagaimana Firman Allah SWT: (QS Al-Ankabut, ayat : 69) “Orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami berikan petunjuk semua jalan Kami”

Menurut para Arif Billah, bahwa seseorang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah SWT, mereka adalah laksana jarum dengan gumpalan besi berani. Kerana getaran magnit itulah, bukan kemampuan si jarum, dia mengejar besi berani. Akhirnya si Jarum tiada sadarkan diri, laksana Nabi Musa ‘alaihis-salam di Bukit Thursina: (Q.S. Al-‘Araf, ayat :143) Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku." 

Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. [565]. Para mufassirin ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah SWT. Bagaimanapun juga nampaknya Allah swt itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak yang sesuai sifat-sifat Allah swt yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.

No comments:

Post a Comment