Monday, February 29, 2016

FAKTA DISEBALIK ISLAMNYA NUSANTARA

Merujuk sejarah penyebar agama Islam itu jaman dulu melalui saluran tassawuf, ulama-ulamanya yang terkenal sering mereka sebut sebagai wali (waliyullah). Contohnya di kawasan Sumatera seperti Syaikh Ismail yang mengislamkan Merah Silu (Sultan Malik as-Shalih) dan bangsawan serta rakyat Samudera Pasai dan dianggap kerajaan Islam pertama di Indonesia. Syaikh Abdur Rauf Singkel (Syeh Kuala, yang diabadikan namanya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) di Aceh, Syaikh Hamzah Fanshuri, Syaikh Syamsuddin as-Samathrani, Syaikh Abdus Shamad al Palimbani Palembang, Syaikh Burhanuddin (Ulakan, Sumatera Barat) dll—mereka dikenal sebagai "wali" atau para wali yang menyebarkan agama Islam di sana.

Di Jawa sebetulnya tidak hanya walisanga. Sekali lagi......di Jawa pada masa lalu penyebar agama Islamnya "tidak hanya" walisongo. Sebelumnya, yang mula-mula “pertama kali” menyebarkan Islam di Jawa adalah Syaikh Ali Syamsuddin pada jaman Kerajaan Kediri, pemerintahan Raja Jayabaya. Bahkan ada yang mengatakan Empu Panuluh pujangga Kediri itu sebetulnya Syaikh Ali Syamsuddin. Dalam disertasi penelitian Prof. Dr. Sutjipto Wirjosuparto, bahwa Mpu Panuluh pujangga Kediri pada awal abad ke-12 ternyata juga dijumpai beberapa kata bahasa Arab pada kitab sastra karangannya dalam Kakawin Ghatotkacashraya. 

Kecuali Syaikh Ali Syamsuddin, penyebaran Islam di Pulau Jawa terdapat pula nama Syaikh Subakir (Syaikh Muhammad al-Baqir) yang menyusul kemudiaan. Tetapi yang terbesar sebetulnya adalah Syaikh Sayyid Jumadil Kubra (Jamaluddin al-Akbar al-Husaini) pada jaman Kerajaan Majapahit sebab beberapa wali yang menurunkan walisanga sebetulnya keturunannya. Kalau penelitian Dr. Hamka masuknya Islam di Indonesia sudah jauh sebelum Kerajaan Pasai atau Demak ada --- dan disebarkan oleh kalangan para habib yang dimaksud sesungguhnya antara lain anak keturunan Syaikh Jumadil Kubra itu.

Mereka-mereka adalah penyebar agama Islam yang, orang pada masa itu menyebutnya sebagai “waliyullah” atau para wali. Di Kalimantan penyebar pertama kali yang dicatat dalam buku sejarah adalah Tuan Tunggang Parangan (wali yang mengislamkan raja dan dikuti bangsawan serta rakyat Kutai, Kalimantan Timur untuk pertama kalinya). Nama-nama lain sesudahnya adalah Syaikh Arsyad al-Banjari (Tuan Guru KH. Zaini Abdul Ghaniy Martapura yang mengislamkan puluhan ribu rakyat Kalimantan itu konon masih keturunan Syaikh Arsyad), Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari, Syarif Hussain al-Qodri (Kalimantan Barat) semuanya juga dikenal sebagai "wali" penyebar agama Islam di Kalimantan. Di Sulawesi oleh Dato ri Bandang (murid Sunan Giri), Dato Sulaiman, Syaikh Yusuf Makasar dan lain-lain. Mereka juga disebut para “wali”. Tentang Syaikh Yusuf Makasar ini beliau dibuang oleh Belanda ke Afrika, tetapi juga sangat termasyhur disana sebagai "penyebar agama Islam di Afrika Selatan" dan disebut juga sebagai "wali' dan dimakamkan disana. Bahkan desanya di Afrika Selatan sana oleh penduduk di namai Maccasar (dari kata Makasar di Sulawesi untuk menghormati beliau).

Tidak hanya itu bahkan, Presiden Afrika Selatan Nelson Mandella menyebut Syaikh Yusuf Makasar yang aslinya dari Indonesia itu dibanggakan sebagai "salah satu putra terbaik Afrika Selatan". Nama Syaikh Jumadil Kubro yang dikenal ulama di jaman Majapahit, kecuali dikenal sebagai datuknya para walisongo ternyata juga dianggap wali penyebar agama Islam di daerah Wajo, Sulawesi Selatan. Proses islamisasi wilayah-wilayah yang termasuk kawasan negara kebangsaan Malaisya mereka menyebut syaikh-syaikhnya dari berbagai kawasan pada masa lalu juga dengan sebutan “waliyullah”(para wali). Mereka adalah Syaikh Ismail bin Syaikh Abdul Qadir (julukannya Sulthan al- Arifin) di Pulau Besar termasuk yang mula-mula mengislamkan Malaisya. Bahkan Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Paku (Sunan Giri) dari Jawa adalah juga muridnya. Syaikh Ismail bin Syaikh Abdul Qadir adalah cicit dari Syaikh Abdul Qadir al- Jailani yang terkenal dengan Manakibnya itu. Beliau termasuk generasi pertama seorang wali yang menyebarkan Tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Sathariyah ke Malaisya dan Indonesia zaman dahulu.

Adapun penyebar agama Islam yang dianggap "wali" lainnya pada masa -masa kemudian di Tanah Melayu adalah Habib Nuh al-Habsyi, Habib Muhammad bin Salim Alattas, Tok Kenali (Kelantan), Tok Ko Paluh (Trengganau), Syaikh Said Linggi (Saremban) dll masih banyak lagi. Di Pattani, Thailand adalah Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan Syaikh Ahmad al-Fathani juga dikenal “wali” yang menyebarkan agama Islam di sana. Termasuk di Filipina (Sulu dan Mindanao) juga penyebar agama Islamnya disebut demikian. Di Singapura yang paling terkenal adalah Habib Nuh yang juga disebut “wali” yang menyebarkan Islam di kawasan itu. Kesimpulannya, walisanga itu cuma istilah saja karena”wali-nya”berjumlah 9 – itupun terbatas di jaman Kerajaan Demak (menjadi terkenal gara-gara dianggap sebagai "arsitek" kerajaan Islam pertama berdiri di Tanah Jawa (Demak)”— yang menggeser  Kerajaan Majapahit (Hindu)  yang sebelumnya sangat terkenal.

No comments:

Post a Comment