Friday, April 22, 2016

APAKAH ADA PERSELINGKUHAN SPIRITUAL ITU?

Soalan: Asswrwb. Pak Ustadz saya mau nanya, barangkali pertanyaan saya agak kurang etis di zaman yang katanya banyak perselingkuhan ini. Kalau kita amati berita tentang perselingkuhan cukup banyak. Sekarang apakah ada perselingkuhan ruhani atau spiritual? Bagaimana itu modelnya? Apakah kita mengikuti hawa nafsu dan terseret oleh syetan juga bisa disebut berselingkuh dengan syetan? Atau berselingkuh secara spiritual? Wah, kalau ada, dunia modern saat ini penuh dengan perselingkuhan donk Pak Ustadz. Mohon dijelaskan yang tuntas. Terimakasih. Wassalam. (Yasmine Abduh)

Jawapan: Dalam pergumulan masyarakat modern dewasa ini, sehari-hari, (diakui atau tidak) seringkali terjadi perselingkuhan spiritual. Yang paling sederhana dari perselingkuhan itu ketika kita sedang menutupi jiwa kita dari pandangan Allah, kemudian kita bersembunyi dari Allah, berakhir dengan tindakan kita: melanggar aturan Allah. Begitu kita langgar “janji cinta” antara kita dengan Allah, Kemahacemburuan Allah telah mengoyak jiwa kita, tanpa kita sadari sudah begitu lama kita berpaling dari Allah. Bahkan Allah hanya kita jadikan alibi sehari-hari, kita jadikan alasan-alasan kegagalan, kalau perlu Nama Allah kita jualbelikan dalam pasar kebudayaan dan politik, atau kepentingan nafsu lainnya.

Lalu, Allah kita bikin tarik ulur dalam qalbu kita. Terkadang Allah begitu jauh, terkadang begitu dekat, terkadang hadir, terkadang hilang, terkadang pula kita hempaskan ke hamparan hawa nafsu kita. Seakan-akan kita ini memiliki kekuasaan untuk mengatur segalanya, bahkan termasuk mengatur Allah dalam gerak gerik jiwa kita, khayalan dan persepsi kita. Bahkan Nama Allah sering kita sebut hanya untuk diketahui public bahwa kita akrab dengan Allah, kita ahli dzikir, kita sering munajat pada Allah. Padahal hanya kebusukan jiwa kita yang mendorong demikian. Seperti seseorang yang berteriak, “Saya lakukan ini Lillahi Ta’ala,….! Saya ikhlas, lho…ini demi Allah!”, sadar atau tidak ia menikmati riya’ jiwanya, agar disebut sebagai orang yang ikhlas. Dan inilah yang memang dimaui oleh masyarakat syetan modern. Perselingkuhan hebat.

Hadirnya syetan sehari-hari, keakraban Iblis, dan gejolak-gejolak nafsu, sebanding (pada saat yang sama) dengan “hilang”nya Allah dari gravitasi jiwa kita, dari denyut nadi dan jantung kita, dari gerak gerik hati kita. Itulah tercerabutnya iman kita kepadaNya, ketika Allah sengaja kita abaikan. Begitu kita sadar, ternyata kita sedang berada di tengah kubang lumpur yang memuakkan.

Allah memang “hilang” dalam kemunafikan kita. Allah juga hilang dalam kefasikan kita. Allah tidak hadir dalam kedzaliman jiwa kita. Allah begitu terlantarkan ketika hawa nafsu kita menyeretnya ke lembah kehinaan kita. Allah, bahkan tidak diakui dalam lembah-lembah kekafiran. Allah, begitu sebanding dengan berhala-berhala duniawi, berhala-berhala ambisi kita, berhala-berhala harta kita, berhala pesona kemolekan, dan itu begitu jelas ketika kemusyrikan membuka pintunya lebar-lebar. Na’udzubillah min dzaalik.

Kemunafikan dan kefasikan itu hadir dalam pergumulan hidup kita sehari-hari, dalam hubungan sosial, hubungan keluarga, hubungan bisnis dan politik, hubungan-hubungan interaktif kejiwaan kita antar sesama. Bahkan juga diam-diam ada yang menikmati kemunafikan dan kefasikan itu, sebagai “tandingan” Tuhan dalam dirinya. Lalu dengan begitu mudah Allah dijadikan bemper. “Kita gagal, memang sudah takdir dari Allah…”. Tetapi kalau sukses, “Wah ini berkat kerja keras kita semua, ini berkat kreativitas saya dan ide-ide saya…..” Lalu Allah dimana? Kenapa keakuan bias menghapus Allah? Apakah keakuan lebih besar daripada Allah?

Hari-hari ini, memang hawa nafsu sedang menjadi mendung di atas langit-langit anda. Mendung itu sesungguhnya adalah awan penghinaan Allah pada makhlukNya, dan hanya mereka yang selalu menghadirkan Allah dalam qalbunya, yang terlindung dari penghinaan itu. Banyak orang-orang yang sedang stress, dan ketika menjalani tekanan hidupnya, mereka tidak kembali kepada Allah. Sangat terasa sekali betapa atmosfir Ridlo Allah tertutup oleh kepentingan ego masing-masing. Kemudian, tentu saja, seseorang kehilangan rasa ridlonya terhadap apa yang telah ditentukan Allah. Hari-hari ini, betapa sempitnya dada orang, ketika rasa syukur saja telah hilang dari lembah jiwanya. Apalagi mengembangkan senyum bunga di hatinya. Mereka lebih senang memuja egonya dari pada memuja Allah atas nikmat-nikmatNya. Padahal Allah dengan segala CintaNya tak henti-hentinya memanggil, “Ingatelah kepadaKu, niscaya Aku ingat kepadamu…..Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah mengingkari diriKu….”

Hari-hari ini, banyak orang memburu kemuliaan, kebesaran, derajat-derajat, tetapi mereka lupa bahwa yang mereka tapaki adalah bukit-bukit kegersangan yang fana. Fatamorgana itu merasuki cita-cita, hasrat dan mimpi-mimpi. Bahwa gundukan tanah tinggi itu, sesungguhnya adalah gundukan dari lobang-lobang kuburan kefanaannya, keruntuhan dan kehinaannya. Lalu Ibnu Athaillah as-Sakandary mengingatkan, “Janganlah kalian mencari kemuliaan pada hamparan kehinaan yang sirna. Carilah kemuliaan pada hamparan yang abadi, tak pernah fana dan sirna….”. Dan tak ada keabadian yang menjadi harapan kita semua, melainkan Allah yang hadir dalam kebersamaan kita.

Fafirruu Ilallah (kembalilah kepada Allah)! Sebagaimana ketika Rasulullah, Muhammad SAW dipel;uk oleh Jibril As, di gua kefanaan Hira’, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu……” Lalu Rasul pun membacanya dengan Nama Tuhannya, dan nama itu tidak lain adalah Allah. Rasul membaca dengan gemuruh Allah…Allah…Allah…sampai sekujur tubuh gemetar dalam kemajdzuban (ekstase Ilahiyah), tetapi justru itulah rasulullah SAW bias menirukan apa yang dituntun Jibril As.
Apakah Allah masih terus berubah dalam diri anda? Sesunggunya yang berubah itu adalah diri anda, bukan Allah. Asma’, Sifat, Af’aal, dan Dzatullah tidak berubah selamanya, sejak dahulu hingga abadi kelak, Allah tetap sebagaimana adaNya.

Apakah anda masih terus menggugat Allah, menggugat janji Allah, menggugat keadilan Allah, menggugat Cintanya Allah? Padahal gugatan itu adalah keresahan hawa nafsu anda, yang sangat pahit ketika menerima kebenaran Allah. Dan gugatan itu akan berhenti ketika anda sudah mampu menggugat diri anda sendiri. Sebab kesombongan intelektual anda, kesombongan moral anda, kesombongan jabatan anda, kesombongan fasilitas dan kekuasaan anda, kesombongan popularitas anda, hanyalah kotoran debu yang membungkus diri anda, lalu anda duga itu sebagai kemuliaan, padahal hakikatnya adalah kehinaan.Apakah anda masih terus mencari Allah? Padahal Allah tidak pernah hilang, Allah tidak ghaib, Allah juga tidak pernah bergerak dari sisi anda. Hanya imajinasi liar anda lah yang melemparkan diri anda dalam hijab yang gelap sehingga anda merasa kehilangan Allah. 

No comments:

Post a Comment