Friday, April 22, 2016

CINTA JUNAID AL-BAGHDADI

Al-Junayd ditanya tentang cinta, ia menjawab, “Cinta berarti merasuknya sifat-sifat Sang Kekasih, mengambil alih sifat-sifat pecinta. Jika cinta itu benar, maka aturan adab telah gugur. Anda tak akan pernah mendengar seorang ayah yang memanggil anaknya dengan penuh pengghormatan, sementara orang lain menggunakan sebutan yang penuh sopan santun untuk memanggil anaknya itu. Malah ayahnya sendiri memanggilnya dengan, “Hai si Fulan!”. Cinta itu mengabaikan hasrat tanpa harap.”

Suatu hari as-Sary memberikan sepotong kertas kepadaku tertulis disana, “Ini lebih baik bagimu daripada 700 kisah atau hadits.” Disana tertulis bait-bait syair:

Ketika diri mengaku cinta
Ia berkata, “Kau dusta padaku!”
Lalu apa bagiku
Ketika kulihat tubuhmu yang elok?
Sungguh tiada cinta sampai melekat di urat nadi
Sampai dirimu layu tak tersisa
Untuk menjawab sang penyeru
Engkau pun terpatah-patah
Sampai tak ada lagi hasrat cinta
Selain mata yang berlinang
Penuh munajat.

“Semua cinta dengan suatu tujuan. Jika tujuan hilang, maka cinta pun hilang pula.” Ketika masalah cinta sedang didiskusikan antara para Syeikh di Mekkah selama musim haji. Diantara peserta yang paling muda usianya adalah Al-Junayd. Tiba-tiba ada yang memanggilnya, dan bertanya kepadanya: “Hai orang Irak, katakana kepada kami bagaimana pendapatmu tentang cinta.” Seketika itu Al-Junayd menundukkan kepalanya, dan airmatanya berlinang, lalu berkata: “Cinta adalah sang hamba yang meninggalkan jiwanya, melekatkan dirinya dan mengingat Tuhannya, mengokohkan diri dan melaksanakan perintah-perintahNya dengan kesadaran terus menerus, betapa Dia dalam hatinya. Cahaya DzatNya membakar hatinya dan ia meneguk minuman suci dari cangkir CintaNya. Yang Kuasa tersibak tiraiNya, ketika ia bicara, ia pun bicara dan bergerak dengan PerintahNya, ketika ia diam, ia bersamaNya. Dia selalu bersama Allah, hanya bagi Allah dan beserta Allah.”

Mendengar uraian Al-Junayd serta merta para Yseikh itu menangis dan berkata: “Oh, tak ada lagi yang perlu kau ungkapkan. Semoga Allah mengokohkanmu wahai mahkota para ‘arifin.” As-Sary pernah bertanya kepadaku tentang cinta, lalu kujawab, “Kaum sufi mengatakan bahwa cinta adalah keserasian dengan Allah swt. Yang berkata cinta adalah memprioritaskan yang dicinta, yang lain mengatakan begini dan begitu.” Lalu Sary mengipas kulit sikunya dan membeberkannya namun tidak sampai, tiba-tiba ia bicara: “Demi Keagungan allah swt. Seandainya engkau bicara, kulit ini akan kering di atas tulang karena cinta yang membara, engkau benar.” Setelah berkata begitu As-Sary jatuh pingsan, tiba-tiba wajahnya berputar, seakan-akan rembulan yang bercahaya.

No comments:

Post a Comment