Friday, April 22, 2016

WUKUF DI PINTU ALLAH AZZA WAJALLA

Anak-anak sekalian. Disana ada perkara-perkara batin yang tidak bisa terungkap kecuali setelah seseorang sambung (wushul) dengan Allah Azza wa-Jalla. Teguh di pintuNya, menemui para tokohNya, wukuf di sana. Maka hendaklah anda di pintu Al-Haq Azza wa-Jalla, terus menerus wukuf di sana disertai adab yang bagus danmenundukkan hati. Maka Allah Azza wa-Jalla akan membuka pintu kea rah hatimu dan menarikmu arah kedekatan padaNya. Lalu dekatnya datang dari DekatNya, tidurnya dari Dia yang menidurkannya, gendangnya bertalu dari gendangNya, celaknya dari CelakNya, riasannya dari RiasanNya, kegembiraan dating dari kegembriaanNya, amannya dai Dia Sang PelindungNya, pembicaraannya dating dariNya, ucapannya dari KalamNya.

Hai orang yang lalai dari Sang Pemberi Nikmat? Dimana kalian semua? Betapa jauhnya dirimu dari perintah yag ditunjukkanNya. Kalian menyangka perkara itu sepele dan mudah, hingga kalian raih melalui gaya beribadah, memaksa diri dan kemunafikan. Perkara ini tidak bisa diraih kecuali dengan benar dan sabar di jalan-jalan takdir. Bila anda kaya, sehat dan sibuk dengan maksiat pada Allah Azza wa-Jalla, bertobatelah dari semua maksiat dan kesalahan itu, baik maksiat yang nyata maupun yang batin, hingga anda berada di tengah padang dan daratan, dan anda hanya mencari Wajah Allah Azza wa-Jalla. 

Jika datang uian dan cobaan, lalu anda mencari diri anda dengan masa lalu duniamu dan kesehatanmu, maka jangan menghadap padanya, berikan itu semua. Jika bisa demikian anda adalah pemilik dunia dan akhirat, sebaliknya jika tidak bisa sabar, anda akan kehilangan semua itu. Hai orang yang taubat, teguhlah dan iklaslah, tetaplah kokoh dirimu dengan datangnya pergolakan bencana dan cobaan. Tetaplah kokoh dan teguh, karena Allah Azza wa-Jalla itu akan menggugah malamnya dan menutup siangnya, dan menimpakan antara cobaan dan keluarga, tetangga serta sahabat-sahabat dekat bahkan pengetahuan-pengetahuan. Dia Azza wa-Jalla menimpakan rasa benci di hati mereka pada cobaan itu, sungguh tak ada yang menyenangi cobaan itu, tak ada yang mendekatinya.

Ingatelah kisah Nabi Ayyub as, ketika hendak mewujudkan cintanya pada Allah Azza wa-Jalla, dan menjai pilhanNya, tak ada yang tersisa darinya, bahkan harta, keluarga, dan anak srta para pengikutnya. Ia didudukkan di tempat sunyi jauh dari keramaian, tak ada yang tersisa kecuali hanya isterinya. Orang-orang dating member makanan. Lalu cobaan itu merenggutnya, daging dan kulitnya, kekuatannya sirna, tinggal pendengaran, mata dan hatinya. Aku lihat kejaiban qudratNya di sana. Ia berdzikir dengan lisan, dan bermunajat dengan hatinya. Ia tetap melihat keajaiban kekuasaanNya dengan mata dan runya yang mengalir di tubuhnya. Sampai para malaikat mendoakan terus padanya, mengunjungi, lalu ia putus dari manusia, namun ia menemukan kebahagiaan. Ia terputus dari usaha, upaya dan kekuatannya, namun ia dalam tawanan cintaNya, kuasaNya, takdirNya, kehdakNya dan berada dalam hamparan kehendak AzaliNya.

Kesabarannya sampai pada fakta nyata yang memuncak, ketka awalnya pahit dan berakhir manis, ia menikmati kebaikan hidupnya dalam cobaan, sebagaimana kebaikan yang diterima Ibrahim as dalam kobaran apinya. Umumnya kaum sufi terbiasa sabar dalam cobaan, tidak stress seperti anda. Cobaan itu sosoknya berbeda-beda, ada cobaan hati, ada cobaan sesame dan ada cobaan dari Sang Khaliq, Allah Azza wa-Jalla. Tak ada kebajikan tanpa cobaan.

Cobaan itu adalah culikan Ilahi, yang dilahap oleh ahli ibadah dan zahid. Di dunia sebagai kemuliaan dan di akhirat adalah syurga. Bagi sang arif adalah lahapan tetapnya iman dan bersih dari nerakaNya di ahirat, sehingga memang itulah konsumsi mereka. Cobaan demi cobaan. Hingga dikatakan pada hatinya sendiri, apakah ini? Diamlah, dan tetaplah beriman kamu, karena cobaan pada dirimu membuat orang-orang beriman meraih cahaya pada iman mereka, sedangkan esok kamu akan menjadi penyelamat dan ucapanmu diterima, Kamu menjadi penyebab bagi penyelamatan makhluk dari neraka. Engkau berada di hadapan Nabimu, yang menjadi pemuka pemberi syafaat. Ayo sibukklah untuk tidak memikirkan cobaan ini. Demikian kata pada hatinya.

Inilah tanda bagi tetapnya iman dan ma’rifat serta keselamatan masa depabn, dan berjalan bersama apara Nabi, para Rasul dan shiddiqin yang menjadi makhluk pilihan. Setiap ia mrasa aman dari cobaan malah semakin tambah rasa takutnya, dan setiap ia takut maka semakin tambah syukur dan adabnya. Para Sufi sangat memahami firman Allah Azza waJalla: “Dia berbuat apa yang dikehendakiNya” (Al-Baqoroh 253). “Dan Dia tidakditanya apa yang Dia lakukan, dan merekalah yang akan ditanya (apa yang mereka lakukan)” (A;-Ambiya’ 23). “Tiada ada yang mereka kehendaki kecuali karena kehendaknya Allah Tuhan Semesta alam” (At-Takwir 29)

Mereka memahami bahwa Dia Allah Azza wa-Jalla, yang berbuat sesuai kehendakNya, bukan menurut kehendak makhlukNya, dan Dia Allah Azza wa-Jalla, setiap hari dengan urusanNya. Mengajukan dan menunda, mengangkat dan meletakkan, memuliakan dan merendahkan, menyingkirkan dan mengangkat derajat, mematikan dan menghidupkan, mengkayakan dan menfakirkan, member dan menggagalkan. Hati para sufi tidak pernah bergeser bersama Allah Azza wa-Jalla, walau Dia merubah mereka, mengganti mereka, mendekatkan dan menjauhkan mereka, menetapkan dan mendudukkan mereka, memuliakan dan menghinakan mereka, member dan menghalangi mereka. Situasi dan kondisi senantiasa berubah pada kaum sufi, namun mereka tetap kokoh dalam perwujudan kehambaan dan adab yang bagus disertai kepatuhan.

Ya Allah berikan kami rizki adab yang bagus bersamaMu, bersama makhluk pilihanMu. Janganlah kami jadi orang yang bergantung pada usaha sebab akibat, dan janganlah kami mengandalkan usaha itu. Kokohkan tauhid kami padaMu, kepasrahan kami padaMu dan merasa cukup anya padaMu, mengembalikan rasa butuh kepadaMu. Janganlah Engkau jadikan kami mengandalkan ucapan dan amal kami, dan jangan Engkau siksa pula kami dengan ucapan dan amal itu. Kami beramal karena anugerah kemuliaanMu, karena ampunan dan kemurahanmu. Amiin. (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani).

No comments:

Post a Comment