Friday, April 22, 2016

MUDIK BERSAMA TUHAN

Sebulan penuh umat Islam melaksanakan ritual puasa, tentu demi sebuah ujung primordial yang suci (kembali ke fitrah) dan harapan masa depan yang lebih bertaqwa. Setiap tahun terasa ada kekuatan kembali ke titik margin dari perjalanan setahun yang panjang dengan tumpukan beban nafsu, kepenatan psikhologis yang harus dilepaskan dalam atmosfir kemerdekaan sejati. Paradok-paradok yang dramatis di masa laluselalu membutuhkan pembebasan universal dengan simbol kemenangan jiwa-jiwa suci di hari raya Idul Fitri bersama gema takbir. Menakbiri nafsu dan syetan, menakbiri hasrat duniawi, bahkan menakbiri iamjinasi ukhrowi, hingga berpuncak pada Takbir untuk segala hal selain Allah swt.

Tetapi semua itu tidak dirasakan oleh mereka di penjuru dunia yang lain,. Sebab, di Nusantara ini selalu ada drama sosial yang sangat fantastis, yang menjadi antiklimaks dari seluruh prosesi ritual bulan Ramadhan. Karena ada pusaran organism yang berpusat pada Idul Fitri, elemen-elemen lain yang bergerak, seperti Mudik, Halal Bihalal, Hari Raya Ketupat, pesta-pesta Silaturrahim keluarga, sangat terasa eksotis, sekaligus terjadi putaran-putaran urbanisasi dan pergerakan social ekonomi yang menarik.

Walaupun terkadang melebihi esensi yang tersembunyi dibalik ritual sejati, puasa di bulan suci, peristiwa mudik dan rumpun mudik, menjadi realitas sosial dan budaya yang begitu signifikan, sebuah perpaduan dramatik spiritua transendental dan perubahan-perubahan sosial itu sendiri. Karena akan selalu muncul pagelaran yang unik, dari proses perubahan individu, keluarga dan masyarakat luas.

Pemaknaan kembali ke fitrah primordial saja dinilai tidaklah cukup dengan formalisme agama dalam wujud rasa lapar, gema takbir, atau sekadar pakaian baru, dan presentasi kehidupan baru. Mudik, tiba-tiba menjadi kekuatan yang tak bisa dibendung dari perjalanan di sirkuit modernisasi dan urbanisasi yang biasanya dilalui dengan penuh persaingan, konflik, dan pergeseran nilai-nilai. Rasa terasing dengan diri sendiri, kegersangan-kegersangan spiritual perkotaan, dan himpitan yang memuakkan, dinilai hanya bisa selesai secara tradisional dengan mudik, sebagai eskapisme atas ketakberdayaan manusiawi, bahkan kadang bisa dijadikan refreshing spiritual atas kemunafikan realitas hidup manusia modern.

MUDIK SEBAGAI RUMAH BESAR

Karena mudik merekonstruksi kearifan-kearifan yang hilang, betapapaun tinggi derajat individu dalam landskap ibadah, bila kegairahan sosial tidak terekspressi secara visual, maka derajat ritual seseorang yang tidak sempurna, Maka dibangunlah konstruksi mudik sebagai “rumah besar” yang bisa dihuni oleh keragaman, pluralitas dan interaksi yang tak tertulis dalam hukum-hukum agama, kecuali sebagai wujud rekonsiliasi, ketika masing-masing merasa tercerabut dari akarnya paling dini. Kesatuan keluarga yang membahagiakan.

Barangkali akademi mudik mulai dipersepsi secara intelektual dewasa ini, karena pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi bahkan politik di negeri ini, namun, ketika mudik sudah setara dengan “agama” dalam persepsi psikhologis beragama, nilai-nilai spirit di balik mudik pun banyak mengalami pergeseran dari makna sejatinya. Kita melihat teater mudik, penuh dengan efek yang terkadang memuakkan. Mulai dari soal macet, tingkat kriminalitas, sampai pemanfaatan status sosial baru bagi kaum urban yang ingin menunjukkan kelas tampilan sosial barunya yang materialistik.

Teater paling meyedihkan disaat barisan orang-orang miskin di negeri ini, harus dikorbankan oleh belaskasih materi orang-orang kaya, atas nama kedermawanan, kesuksesan publik, dengan gilanya menikmati ribuan orang fakir miskin yang antri hadiah sembakonya. Sungguh inilah kebahagiaan di atas penderitaan. Kebanggaan sosial yang sangat tidak mendidik peradaban agama dan bangsa ini.

Sementara lembaga-lembaga pengepul dana zakat, infaq dan sedekah mulaui berlomba-lomba meningkatkan omsetnya, dengan jumlah ratusan milyar, tanpa kepedulian public untuk mengontrol transparansi distribusi pada para mustahiqqin (yang berhak menerima santunan). Karena memang kita terbiasa tidak mengukur keberhasilan spiritual sehari-hari, yang seharusnya memang ada muhasabah (monitoring dan refleksi diri), sehingga masyarakat spiritual tidak terjebak pada “tipudaya” (ghurur) yang mengatasnamakan Tuhan bagi sejumlah kepentingan.

Sudah saatnya mudik menjadi kongres tahunan di “rumah besar” bagi bangsa ini, karena sejumlah aktivitas positif bisa berperan mengembalikan jati diri melalui kearifan lokal. Sejumlah resolusi konflik dengan jalinan kasih sayang dan pemaafan sosial, terbangun tanpa biaya besar dari Negara. Karena setiap individu harus memaksa diri untuk menjadi “bayi fitrah” demi derajat spiritualnya, dan pengaruhnya adalah perdamaian social yang luar biasa. Seperti bati-bayi yang berlari dalam pelukan ibundanya.

Bangsa ini selalu mencari kanal-kanal yang menuju samudera luas, demi kompensasi sosialnya. Tanpa saluran itu, kita akan terus bergumul dengan konflik sosial politik dengan kepentingan-kepentingan instan yang memuakkan. Kanal itu harus disiapkan menuju samudera spiritual yang agung, karena jatuh bangunnya suatu bangsa akan dipertanggungjawabkan oleh para pemimpinnya di akhirat kelak.

Ibnu Athaillah as-Sakandary, Sufi besar abad tujuh hijriyah, menegaskan, “Diantara tanda-tanda akhir sukses yang besar , adalah mengembalikan kepada Allah Swt, di awal perjalanan spiritualnya,” bisa dijadikan ukuran apakah pasca mudik menjadi akhir sukses besar perjalanan spiritual, sangat tergantung individu untuk menyadari bahwa perjalanan hidup yang disertai Allah Swt, sangat menentukan apakah kelak ia akan sukses untuk bertemu dengan Tuhannya, atau justru terlempar dalam sahara spiritual yang gersang.

Barangkali tidak berlebihan bila revolusi mental yang dicanangkan Presiden Jokowi harus sarat dengan paradigma Ketuhanan. Para Ulama dan agamawan harus cepat menyadari kiamat global ada di depan mata, dan semua bermula ketika kebangkitan-kebangkitan global justru memberikan tawaran-tawaran tipudaya yang mempesona. Hanya karena menawarkan “Gerakan Tanpa Tuhan” dalam mekanisme globalisasi, peradaban manusia akan menuju lorong gelapnya yang mengerikan.

Indonesia menjadi bagian terpenting dari proses-proses tersebut, untuk mengembalikan fitrah kemanusiaan di era global, yang sudah berada di pinggir jurang dehumanistik. Hal demikian tidak bisa ditangani dengan kebijakan-kebijakan public yang formalistic, tetapi juga harus melibatkan akar spiritual yang terus mengontrol perjalanan historiknya. Tentu, filosufi pendidikan kita menjadi awal yang kita bangun. Karena dunia pendidikan kita tidak memiliki filosufi yang terbuka untuk diterjemahkan oleh institusi formal maupun non formal. 

Departemen yang terkait selalu menjadi “dewa” pendidikan yang hegemonic, sehingga watak manusia dan kepribadian manusia Indonesia seperti apa yang harus dibangun, tidak bisa diukur dengan perspektif yang terbuka. Momentum mudik, tidak berlebihan jika dicanangkan oleh pemerintah dan berbagai pihak dengan tema-tema besar yang menyentuh kepentingan nasional. Tema-tema yang menyadarkan makna fitrah untuk masa depan bangsa ini, tanpa harus melukai esensi agama, seperti ketika agama dijadikan sebagai industri politik dan ekonomi.

Fitrah agama dan kemanusiaan saling berkelindan, antara spiritualisme dan rasionalisme, antara kesatuan umat dengan pluralism, antara masjid dan pasar, antara religiusitas dan nasionalisme. Tanpa hubungan yang harmonic masing-masing, maka akan tumbuh persaingan saling mendominasi yang berujung pada konflik-konlik sejarah yang tak berujung. Penyelesaian akademik, dengan melihat fakta-fakta kebangsaan kita, sebagai bangsa yang religius akan sangat membantu karena akar perdebatannya berujung di sini. Bahkan hingga saat ini polemik-polemik intelektual sudah bercampur aduk dengan fanatisme beragama. 

SUFISME MUDIK

Kesadaran fitrah dalam atmosfir mudik memberi dukungan dialogis, bahwa spritualisme harus turut member pencahayaan setiap proses rasionalisasi. Sekali lagi, Ibnu Athaillah menguatkan, “Cahaya para Sufi senantiasa mendahului wacananya.” Nabi Saw, juga membangun Negara Madinah, dengan karakter kuat yang memadukan rasionalisasi kota, dan spiritualisasi sistemik yang berpengaruh bagi kepribadian peradaban, Kelak dikenal dengan Al-Madinah al-Munawwaroh, kota rasional yang yang dipancari cahaya spiritual. Perpaduan dunia syariat dan hakikat yang bergerak hingga akhir zaman.

Menjadi sangat narsis apabila kaum Sufi modern menghindari keterlibatan dengan peradaban kota yang rasional atas nama berlari “Mudik kepada Tuhan” yang eksklusif. Sebagaimana gersangnya kaum rasionalis dan kaum formalis agama, yang hanya melihat aktivitas keagamaan sebagai bentuk transaksional dengan Tuhan, yang berujung pada keuntungan-keuntungan material.
Mudik kepada Tuhan (ar-ruju’ ilaLah) haruslah berakhir dengan Mudik Bersama Tuhan (Billah). Karena umat Islam telah dihantar melalui Mi’raj Spiritual di bulan Suci, dan ia harus kembali ke alam semesta social dengan penuh rahmatNya (rahmatan lil’alamin). Karenanya Mudik Bersama Tuhan, berarti kembali ke alam realitas publik, penuh dengan jiwa kasih sayang, pemaafan dan memohonkan ampunan kepada Allah swt dosa-dosa umat. Baru akan terjadi proses dialogis yang indah dan damai.

Di alam realitas ia menjadi hamba, sekaligus meneguhkan perjalanan kehambaannya secara benar, mengenal hak-haknya sebagai hamba dan hak-hak makhluk Allah lainnya. Hak kehambaan adalah awal manusia membangun kekhalifahannya di muka bumi, melalui penegakan Hak-hak Ketuhanan dalam spirit pribadinya. Semua akan tersadarkan, betapa pentingnya menegaskan diri sebagai hamba Allah swt, bukan hamba dunia dan nafsu, apalagi hamba syetan dan imajinasi-imajinasi instan yang seringkali menjebak Jalan Lurus menuju Allah. Tanpa kesadaran ini, modernisasi menjadi musuh bersama bagi spiritualitas keagamaan, padahal posisinya adalah realitas bumi yang harus dilindungi oleh cahaya spiritual langit. (KH.M. Luqman Hakim, Ph D, adalah, Pengajar Sufisme and Peace Education Pascasarjana UNIRA, dan Pengasuh Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin Bogor).

No comments:

Post a Comment