Thursday, March 10, 2016

APAKAH IBADAH KITA BEBAS DARI NAFSU?

Syekh Ibnu Atha'illah menjelaskan: “Ibadah yang disertai dengan hawa nafsu memang akan terasa ringan dikerjakan, sedangkan ibadah yang tidak disertai hawa nafsu menjadi sangat berat. Begitu beratnya ibadah yang dikerjakan tanpa dilihat orang. Sebaliknya, begitu ringannya ibadah yang dilakukan saat dilihat, dipuji, dan disanjung oleh orang.

Contoh yang paling mudah dan jelas dilihat adalah ketika engkau mengerjakan haji sunnah (setelah melaksanakan yang wajib) sekian puluh kali. Tapi, itu tak akan memberatkanmu. Namun, kalau ada yang menganjurkanmu untuk bersedekah sebanyak ongkos haji tersebut kepada orang-orang fakir dan miskin atau untuk pembangunan masjid, kau menjadi bakhil dan merasa sangat berat melakukannya. Mengapa? Sebab, haji disaksikan dan diketahui banyak orang. Disinilah hawa nafsu kau bermain. Karena sering berhaji, kau bisa menjadi orang yang terkenal. Sedangkan bersedekah adalah perbuatan rahasia dan tak diketahui banyak orang, sehingga tak ada yang bisa membanggakannya.

Demikian pula saat kau menuntut ilmu tidak karena Allah. Pada kondisi tersebut engkau mampu belajar semalam suntuk. Nafsu dan keinginanmu menjadi terpuaskan. Tapi, jika kau disuruh shalat malam dua rakaat, itu akan terasa berat, sebab dalam dua rakaat yang kau lakukan itu nafsumu tidak mendapat tempat. Sedangkan dengan membaca dan belajar, nafsumu mendapat tempat karena bisa membanggakan ilmu yang kau miliki di hadapan orang. Karena itu, belajar dan membaca terasa ringan”. (Syekh bnu Atha'illah dalam kitab Bahjat An-Nafus). 

No comments:

Post a Comment