Wednesday, March 23, 2016

JANGAN KAU DUAKAN CINTANYA

“Tidaklah engkau mencintai sesuatu melainkan engkau menjadi hamba baginya dan Allah tidak ingin engkau menjadi hamba bagi selain-Nya”. (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam). Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa jika engkau mencintai dunia, engkau akan menjadi budaknya karena kecintaanmu terhadap sesuatu membuatmu tunduk dan terikat kepadanya. Bahkan, engkau juga tidak akan mau melepas dan mencari gantinya. Sebagaimana dikatakan, “Cintamu kepada sesuatu akan membutakan matamu dan membuatmu bisu.” Artinya, apa yang engkau cintai akan memperbudakmu. Jika engkau mencintai selain Allah, apa pun bentuknya, maka ia akan memperbudakmu.

Sementara itu, Allah tidak mau kau menjadi budak bagi selain-Nya. Allah tidak rela jika kau menduakan cinta-Nya. Dalam hadis disebutkan, “Celakalah budak dinar! Celakalah budak dirham!” Imam Al-Junaedi mengatakan, “Sesungguhnya engkau tidak akan benar-benar menjadi hamba Allah yang sebenarnya selama engkau mencari selain-Nya. Kau pun tidak akan sampai kepada kebebasan yang sesungguhnya karena engkau harus menunaikan hak-hak ‘ubudiyyah (penghambaan) kepada-Nya.” (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi). 

2). TIGA TUGAS ORANG BERAKAL

Nabi Dawud a.s. pernah berkata: “Telah diwahyukan kepadaku dalam Zabur bahwa tugas orang yang berakal adalah tidak menyibukkan diri, kecuali dalam tiga hal:

1. Menyiapkan bekal untuk kembali (ke akhirat)
2. Mencari biaya untuk penghidupan di dunia; dan
3. Mencari kenikmatan dengan cara yang halal.”

Tiada bekal yang bermanfaat untuk menyambut Akhirat, kecuali amal yang shaleh. Karena itu, dianjurkan untuk memperbanyak amal shaleh. Begitu juga hendaklah seseorang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar tidak menjadi beban bagi orang lain, tetapi sudah pasti harus dengan cara yang halal. Berusaha mencari nafkah yang halal hukumnya wajib bagi setiap Muslim. (Imam An-Nawawi Al-Bantani, Kitab Nasha'ihul ‘Ibad). 

3). MEMAHAMI REZEKI DAN TUNTUTAN NAFSU

Imam Al-Ghazali mengatakan: “Untuk mengatasi kendala rezeki, sebenarnya engkau cukup bertawakal dengan sebenar-benarnya, yakni engkau pasrahkan kepada Allah dalam urusan sumber rezeki dan kebutuhanmu, dalam semua keadaan.” Menurutnya, ada dua alasan mengapa kita harus bertawakal kepada Allah:

1) ”Agar engkau bisa berkonsentrasi penuh beribadah dan berbuat kebaikan lainnya. Sebab, orang yang tidak bertawakal (berserahdiri) pasti lahir dan batinyya lebih sibuk pada urusan mencari rezeki dan kebutuhan dunia lainnya daripada beribadah kepada Allah. Ia menggunakan tubuhnya untuk bekera sepanjang hari untuk memperoleh nafkah, namun hati dan pikirannya selalu memikirkan rezeki dengan rasa was-was. Padahal, ibadah itu membutuhkan konsentrasi hati dan tubuh, sementara konsentrasi itu tak bakal terwujud kecuali pada orang-orang yang memasrahkan diri secara total.

2) Meninggakkan sikap tawakal itu membahayakan iman kita. Bukankah Allah telah menyertakan rezeki kepada makhluk-Nya? “Dan bertawakallah kepada Allah yang Maha Hidup kekal, yang tidak akan mati.” (QS Al-Furqan: 58). “Dan hanya kepada Allah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman,” (QS Al-Maidah: 23)

Maka, barangsiapa yang tidak memahami ayat ini berarti tidak merasa cukup dengan janji Allah, tidak tenang dengan jaminannya, dan tidak puas dengan pembagian rezeki-Nya. Lalu, ia lalai untuk menjalankan perintah-Nya, lupa janji ancaman-Nya. Maka, lihatlah bagaimana jadinya orang ini, ujian apa yang bakal dijalani akibat perbuatan semacam ini.

Rasulullah SAW pernah berkata kepada Abdullah bin Umar r.a., “Bagaimana jika engkau tinggal di tengah-tengah kaum yang suka menimbun harta mereka selama setahun karena kurang percaya dan kurang bergantung kepada Allah?” Hasan Al-Bashri mengatakan, “Allah SWT melaknat kaum yang tidak percaya dengan janji-Nya dalam soal rezeki.”

Diriwayatkan bahwa ada seorang penggali kubur telah bertobat dengan karena sebab Abu Yaziid al-Busthami. Abu Yazid lalu menanyakan keadaannya, dan penggali kubur itu menjawab, “Aku telah menggali seribu liang lahat dan aku tidak pernah melihat wajah mereka menghadap kiblat, kecuali dua orang lelaki.” Abu Yazid kemudian berkata, “Sungguh kasihan mereka. Wajah mereka dipalingkan dari arah kiblat lantaran meragukan rezeki dari-Nya.” 

Seorang sahabat saya menuturkan bahwa dalam mimpinya dia melihat seorang yang saleh, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apakah engkau selamat karena imanmu?” Orang saleh itu menjawab, “Iman hanya menyelamatkan orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Marilah kita memohon kepada Allah Ta’ala, semoga Dia memperbaiki kita dengan anugerah-Nya dan tidak menyiksa kita walau sebenarnya kita memang pantas untuk disiksa. Sesungguhnya Dia adalah Zat Yang Maha Pengasih dari yang paling pengasih.” (Dikutip dari Kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghazali).

No comments:

Post a Comment