Wednesday, March 23, 2016

SOPAN SANTUN ALA SUFI

Dzu Nun Al-Mishri mengatakan, “Jika seorang murid telah keluar dari kesopanan, berarti dia kembali dari mana asal dia datang.” Allah SWT berfirman, “Dan, (ingatlah kisah) Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiya: 83)

Menurut Syekh Abu Ali Ad-Daqaqq, pada ayat ini, Nabi Ayyub a.s. tidak mengatakan “Ya Allah kasihanilah aku” karena Ayub telah menjaga kesopanan pada Tuhan yang dimintainya.  Demikian juga Nabi Isa a.s. ketika mengatakan, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.” (QS Al-Maidah: 118). Nabi Isa a.s. tidak mengatakan permintaannya secara terus terang untuk menjaga kesopanan di hadapan Allah.

Imam Al-Junaid, yang juga dikenal dengan panggilan akrab Abu Qasim, menceritakan bahwa di hari Jumat ada beberapa orang kaya dan terhormat datang kepadaku dan mengatakan, “Kirimkanlah seorang yang miskin bersamaku agar dia datang kepadaku dengan senang hati dan makan-makan bersamaku.” Lalu, tiba-tiba, aku bertemu dengan seorang yang tampak miskin. Aku melihat dia sangat kelaparan, lalu aku panggil dia dan kukatakan padanya, “Hai saudaraku! Pergilah bersama Syekh ini dan hiburlah dia!”

Orang miskin ini pun menuruti perintahku. Dia pergi bersama tamu-tamuku itu ke rumahnya. Tetapi, sejurus kemudian, tiba-tiba, salah seorang tamuku datang menghampiriku dan mengatakan, “Wahai Abu Qasim, lelaki miskin ini tidak makan kecuali hanya sesuap saja. Lalu, dia pergi meninggalkan kami?!” “Mungkin kalian mengatakan kata-kata yang tak sopan?” tanyaku. “Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab salah satu tamuku.

Aku pun berpaling, dan kulihat lelaki miskin itu sedang duduk di sudut rumahku. Aku bertanya kepadanya, “Kenapa tak kau sempurnakan kebahagiaan mereka?” “Wahai tuanku, aku keluar dari Kuffah menuju Baghdad tanpa makan apa pun. Aku tidak ingin tampak kurang sopan di hadapan tuan hanya karena rasa laparku. Ketika tuan memanggilku, aku sangat senang sekali. Karena, hal itu merupakan awal dari perkenalanku dengan tuan yang sangat kukagumi. Aku menuruti perintah tuan untuk ikut bersama mereka, sedangkan aku tidak rela mendapatkan surga karena itu. Aku menginginkan sesuatu yang lebih tinggi. Ketika aku duduk dekat meja makan mereka, dia memberi aku sesuap makanan sambil berkata, ‘Makanlah! Makanan ini lebih aku senangi daripada seribu dirham.’ Aku mendengar ucapan ini. Aku tahu bahwa niatnya kurang baik. Karena itu, aku berusaha makan sesuap saja.’”

Setelah mendengar ucapan lelaki miskin ini, Imam Al-Junaid berkata pada orang kaya ini, “Ternyata benar apa yang kutakan padamu tadi. Engkau memang telah berlaku kurang sopan kepadanya!” “Wahai Abu Qasim, aku sangat menyesal…” “Sekarang, pergilah bersamanya! Kini giliranmu menghibur lelaki miskin itu!” perintah Al-Junaid. (Risalah Al-Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi).

No comments:

Post a Comment