Tuesday, April 5, 2016

MENGHADAP ALLAH DAN SHALAT BERSAMA RASUL

Salik mendapat pengalaman baru ketika shalat di Sor-Baujan (di bawah Pohon Trembesi). Dia merasakan getar hati yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Shalat yang terasa damai, namun menggetarkan kalbu dengan perasaan yang sukar dilukiskan. Saat Matin datang menemuinya, segera menyerang dengan pertanyaan.
Salik (S): Apakah mungkin kita bertemu dengan Rasul saat shalat?

Matin (M): Hmmm. Memang apa yang kau rasakan?
S: Jawab dulu? Mungkin nggak kita bertemu Rasul?
M: Mungkin.
S: Ok, sudah cukup!!! Hehehe [Salik tertawa terbahak-bahak]
M: Cerita dong! Bagi pengalaman!
S: Hahaha. Wani piro?! (Berani bayar berapa?)
M: Dasar mata duitan!

S: Bro, sekali lagi saya tanya, apa mungkin kita melihat Rasul saat shalat?
M: Wani piro?!
S: Hahaha. Kena deh!
M: Makanya, ceritakan saja!
S: Tadi saya shalat. Jiwa ini terasa tenang banget. Damai...hening...Saya menghayati makna setiap bacaan shalat. Lalu merasakan makna-makna ayat demi ayat dalam Al-Fatihah. Saya merasakan sesuatu yang lain. Sukar dijelaskan.
M: Lalu?

S: Saya merasakan kesadaran fisik dan kesadaran batin secara bersamaan. Setiap hembusan nafas, detak jantung dan getaran jiwa kian membuncah dari semenjak takbiratul-ihram. Bahkan, sejak wudu, saya sudah merasakan kesadaran cipta rasa yang sukar didefinisikan. Ini jarang terjadi dalam shalat saya.
M: Hehehe. Jangan lebay! (berlebihan)

S: Serius. Ya sudah kalau kau tak percaya!
M: Jangan merajuk. Lanjutkan ceritamu, Bro!
S: Saya merasakan seolah shalat saya benar-benar disaksikan oleh Allah. Dari berdiri ke posisi rukuk, dari rukuk ke ‘tidal, sujud dan seterusnya. Saya merasakan kehadiran-Nya.
M: Kamu harus bersyukur, sebab itu adalah anugerah Allah.
S: Lalu, saya juga merasakan bahwa shalat saya dihadiri Rasulullah. Beliau duduk berjajar di sisi saya. Sementara puluhan lain, orang-orang shaleh ikut makmum di belakang saya.
M: Mantappppp!
S: Apa shalat saya benar, Bro?

M: Insya Allah, shalatmu benar. Tidak ada yang salah. Ini adalah pengalaman batin yang bagus untuk terus kamu minta kepada Allah, agar Dia selalu memberimu kesadaran jiwa dan raga dalam shalat. Khusyuk dalam arti yang sesungguhnya. Tidak hanya saat shalat, tapi juga merasakan di luar shalat, yakni dengan menjalankan konsekuensi dari nilai-nilai shalat dalam kehidupan.
S: Bukankah shalat itu menghadap Allah, lalu mengapa saya juga merasakan kehadiran Rasul, sahabat dan orang-orang shaleh dalam shalat saya? Apakah ini hanya halusinasi?
M: Batinmu sendiri yang bisa menilai ini halusinasi atau bukan. Namun, sebenarnya, penjelasannya ada pada konsep “IHSAN” ‘antabudallah ka’annaka tarahu, fa ilam tara, fa innahu yara’ka (Menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, kalau kau tidak melihat-Nya, maka sesungguh-Nya Dia melihatmu). Pahami saja.

S: Bagaimana dengan kehadiran Rasul saat duduk tahiyat awal dan akhir?
M: Bukankah saat tahiyat kau membaca “Assalamu’alaika ayyuhan-nabiyu warahmatullahi wa barakatuh” (Salam sejahtera kepada engkau, Wahai Nabi, dan semoga rahmat dan keberkahan Allah terlimpahkan kepadamu). Bukankan secara bahasa, penyebutan “Assalamu ‘alaika” sebenarnya Nabi berada di situ, hadir dan ada di depanmu?
S: Hehehe. Iya juga yah?!

M: Begitu juga kehadiran hamba-hamba yang shaleh. Kau menyebut “Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahi-shalihin” (Salam sejahtera kepada kami dan kepada hamba-hamba yang shaleh). Secara bahasa, sebenarnya engkau sudah ditunjukkan bahwa jiwamu sedang menghadap Allah, merasakan kehadiran Allah dalam setiap hembusan nafas, gerakan dan getar jiwa. Kau juga memang sedang diajarkan bagaimana merasakan kehadiran Nabi dan hamba-hamba yang shaleh berada di dekatmu.
S: Mereka hadir disitu.

M: Yup. Karena Rasulullah itu tak mati. Para nabi, syuhada, sahabat, ulama pewaris para nabi itu tak mati. Mereka hadir disitu. Secara ruhani, sebenarnya kita sedang diajarkan untuk merasakan kehadiran mereka.
S: Hmmmm. 
M: Ketika selesai shalat, kamu mengucapkan salam?
S: Ya...Memang itu rukun shalat!
M: Kalau kamu mengucapkan salam (Assalamu’alaikum warahmatullah), sebenarnya itu ucapan kepada siapa?
S: Nah loh? Heheheh

M: Apakah itu ucapan salam kepada tukang bakso yang sedang memukul mangkok terlalu keras?
S: Hehehehe
M: Atau itu ucapan salam kepada tukang sol sepatu? Orang-orang di sekitar tempat kamu shalat? Atau salam kepada makmum atau jamaah masjid? Salam kepada siapa?
S: Hehehe. Iya, pasti bukan kepada mereka. Kalau salam itu ditujukan kepada mereka, pasti mereka wajib menjawab “Wa’alaikum salam.”
M: Sekarang kamu paham!!!
S: Saya paham. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment