Sunday, July 10, 2016

MENGKAJI RAHASIA HURUF

Awalnya huruf itu hanya melambangkan sebuah rumus yang tidak memiliki arti apa-apa. Kemudian.. Huruf disusun menjadi sebuah kata, susunan kata menjadi sebuah kalimat dan dalam kalimat mengandung sebuah pengertian tetapi.. “Pengertian itu bukanlah sebuah kalimat..!!” Dahulu, sebelum ada kesepakatan manusia mengenai Rumusan Huruf.. Maka.. Huruf adalah sebuah artikulasi yang keluar dari dorongan udara yg terhalang oleh pita suara pada tenggorokan, sehingga menghasilkan suatu bunyi… Seandainya rumus-rumus itu tidak ada.. Maka Huruf dan Kata dan Kalimat pun tidak ada, Namun.. Walaupun rumus-rumus dan huruf-huruf tidak ada.., Tapi.. Hakekat pengertian dalam diri manusia tetap ada. Kita bisa menemukan bahasa yang sama pada diri manusia seluruh dunia yaitu BAHASA JIWA, yang.. Tidak berhuruf.. Tidak bersuara,.. Tidak bergambar… Maka.. benarlah adanya jika demikian bahwa AL-QUR'AN itu awalnya adalah bahasa WAHYU (Bahasa ALLAH). “LA SHAUTIN WALA HARFUN” “Tidak berupa suara dan bukan berupa huruf” Yang kemudian di-translate kedalam bahasa manusia yaitu Bahasa Arab.

Saat itu.. Rasulullah hanya mengerti dengan jelas apa yg telah turun kedalam jiwanya. Bahasa ALLAH itu berupa ILHAM atau WAHYU. Menurut kamus bahasa Arab dalam Munzid, ILHAM itu berarti memasukkan pengertian kedalam JIWA seseorang dengan cepat. Dimasukkan dengan cepat = dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan ke dalam JIWA dalam sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul fikiran dan muqadimahnya, Seperti sesekor lebah, Ketika menerima WAHYU dari ALLAH , binatang itu tidak mengenal huruf, akan tetapi.. Lebah mampu menangkap ajaran ALLAH, ketika ALLAH meng-instruksi-kan untuk membuat rumahnya, maka lihatelah bagaimana Lebah membuat rumah yang indah dan tersusun rapi.

PENGERTIAN itu tidak terdiri dari rangkaian huruf atau suara.. Seperti perasaan CINTA.. Perasaan ini tidak tertulis huruf C-I-N-T-A. Walaupun anda tidak menggunakan rangkaian huruf dan suara mengapa anda memahami cinta itu ?? Yang akhirnya anda menterjemahkan kedalam bahasa manusia menjadi aku cinta …. Selanjutnya.. Setelah anda mengerti uraian diatas.. Maka mari-lah kita membahas mengenai Rahasia Huruf dalam AL-QUR’AN: AL-QUR'AN mengandung 6666 ayat, Terhimpun dalam AL FATIHAH Dan AL FATIHAH pula terhimpun dalam BISMILLAHIRRAHMAN NIRRAHIM Dan BISMILLAHIRRAHMAN NIRRAHIM terhimpun dalam ALIF. Sedangkan ALIF terhimpun dalam BA’ Dan BA’ terhimpun pada TITIK/ NOKTAHnya. Pada TITIK/NOKTAH inilah AWAL MULA semua kejadian bentuk huruf…. Jadi.. Pada seluruh rangkaian firman sebanyak 30 juz itu ternyata terangkum dalam Ummul QUR’AN (AL FATIHAH).

Pada Ummul QUR’AN (AL FATIHAH). menyimpulkan inti ajaran AL-QUR’AN: Tentang masalah Ketuhanan yaitu Sifat, Af’al dan Zat Allah… Dia-lah Allah yang memiliki Sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang.., Tidak ada yang berhak menyandang pujian kecuali Dia. Dia- lah tempat segalanya bergantung.., Karena Dia adalah penguasa alam semesta dan diri manusia. Berarti rangkaian ayat-ayat dalam AL FATIHAH tertumpu pada huruf BA’ (dalam tata bahasa Arab sebagai BA’ Sababiyah). Artinya.. Semua yang ada berasal dari huruf BA’ dengan sebab Ismi/ Nama.

Kalau di pisah BI- ISMI- ALLAH Semua yang ada karena adanya Asma, Pada Asma terdapat yang memiliki Asma yaitu Dzat, Ini terangkum dalam arti TITIK, Huruf BA’ .. akan tidak bermakna apa-apa jika tidak mempunyai TITIK, Maka.. pada TITIK itulah Rahasia dari segala Rahasia ini di mulai.. Karena TITIK baru bersifat KUN (jadilah) maka terjadilah segala sesuatu. Karena KUN-NYA yang dilambangkan dengan TITIK, merupakan asal dari segala coretan huruf berasal dari titik-titik yang beraturan sehingga menjadi garis dan garis menjadi bentuk atau wujud.

Sedangkan Zat tidak berupa titik, karena titik masih merupakan sifat dari pada DzAT. Artinya.. KUN ALLAH bukanlah DZAT. Karena KUN ( KALAM atau WAHYU ) adalah sifat dari pada Dzat, (bukan Dzat itu sendiri) Sehingga arti TITIK adalah akhir dari segala ciptaan, HURUF yang berTITIK menjadi NYAWA bagi AL-QURAN itu sendiri. Pada TITIK ini terkandung ide-ide yang akan tergores suatu bentuk dan pada wilayah inilah yang dimaksud dalam Ilmu Hakekat Usul Diri sebagai NUR MUHAMMAD (Cahaya Terpuji), Karena segala sesuatu akan memuja dan mengikuti kehendak Dzat, Dan Dzat berkata melalui KUN-NYA, maka jadilah semuanya. AL-QUR’AN DALAM DIRI MANUSIA. Di dalam AL-QUR'AN ada 2 ayat yang jelas-jelas menyebuntukan bahwa AL-QUR'AN itu di turunkan oleh ALLAH di dalam diri manusia dengan menggunakan istilah HATI dan DADA.

Pertama: Surah Al-Baqarah ayat 97. “Man kaana ‘aduwwan lijibriila fa-innahu nazzalahu ‘alaa qalbika bi-idznillaahi mushaddiqan limaa bayna yadayhi wahudan wabusyraa lilmu’miniin.” Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya ( AL-QUR'AN ) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Kedua: Surah Al-Qiyamah ayat 16. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan AL-QUR'AN (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Telah kita ketahui bersama bahwa: AL-QUR’AN itu terbentuk dari titik kemudian menjadi huruf dan seterusnya menjadi ayat yang ber-jumlah 6666 ayat dan menjadi panduan hidup manusia… kemudian… di masuk-kan pula oleh Allah ke dalam diri manusia. Pada kesempatan ini mari-lah sama-sama kita coba untuk mengkaji maksud sebenar-nya ayat di-atas karena ayat tersebut sangat JELAS dan MUDAH untuk di-pahami,

Yang menjadi persoalan-nya sekarang ialah.. AL-QUR'AN yang mana-kah yang di-maksud itu? AL-QUR'AN itu sudah berada di dalam hati manusia (Al-Baqarah 97). AL-QUR’AN itu sudah berada di dalam dada manusia (Al-Qiyamah 16) …… sebaiknya tidak perlu di-perdebatkan lagi ….!! Namun… Siapa-kah AL-QUR'AN itu..? Setiap apa yang di katakan AL-QUR'AN itu adalah Qadim (Kalam Qadim) ini ber-arti AL-QUR'AN itu bersifat Qidam.., Jika ia bersifat Qidam maka AL-QUR'AN bukan-lah Muhadas (yang baru)

Sebab.. Yang baru itu adalah makhluk yang di-ciptakan-NYA dan yang di-cipta-kan jika ia ber-bentuk Roh maka jelas ia makhluk. Pandangan sebagian Ulama mengatakan bahwa AL-QUR'AN itu adalah Qadim yaitu: Awal tiada permulaan. Artinya, Kalam yang Qadim yang menjadi Hak ALLAH, Jika ia menjadi Hak ALLAH. Maka.. Ia tidak boleh bersifat Roh akan tetapi harus bersifat DZAT. Jadi.. Yang bersifat Dzat itulah yang di turunkan oleh ALLAH di dalam dada atau hati manusia, Siapakah dia..? Apakah AL-QUR'AN yang berbentuk Jirim..? atau Jisim ? atau Jauharul Fardhi ? atau Jauharul Basits ?

Jika AL-QUR'AN itu berbentuk seperti istilah di atas.. maka apakah dia sebenarnya yang di masukan oleh Allah di dalam hati manusia atau di dalam dada manusia..? Kita wajib mengetahui hal ini sebab dia berada di-dalam diri kita sendiri, dan juga menjadi Panduan Hidup kita…, Jika ia sebagai panduan hidup manusia.., maka dapat kita katakan bahwa dia itu menjadi panduan kepada ROH, AKAL, NAFSU dan TUBUH yang terdiri dari tulang, daging, urat, darah, rambut, dsb, Tanpa ia semua yang ada pada sebuah batang tubuh manusia menjadi tiada berarti sama sekali, Oleh sebab itu-lah dikatakan agar mencari sesuatu di dalam Diri.. Apa yang dicari dalam Diri..? Ini adalah isyarat untuk memahami bahwa AL-QUR'AN itu ada di dalam hati manusia dan ada di dalam dada manusia, Mungkin awal-nya kita merasa sulit untuk memahami bahwa AL-QUR'AN itu ada di dalam Diri manusia, Walau apapun itu…… inilah ketentuan ALLAH dalam AL-QUR'AN ,

Tapi, Dalam bentuk apa? Jika berbentuk AL-QUR'AN sebagaimana yang kita ketahui (bentuk kitab yang ada huruf dan rupa) Maka itu adalah MUSTAHIL, karena tidak mungkin AL-QUR'AN ber-bentuk seperti itu di masukan ke-dalam jasad kita. AL-QUR'AN adalah panduan hidup dan mati manusia. AL-QUR'AN adalah Kalam Tuhan, yang bersifat NUR untuk seluruh alam ciptaan Tuhan. Bagi orang yang berfikir.. akan melihatnya sebagai sesuatu yang Benar dan Suci dan Bersih dengan tiada keraguan terhadapnya,

Oleh karena itu layak-lah AL-QUR'AN di namakan Kalam yang Qadim yaitu Kalamullah, Rasullullah sendiri tidak akan ber-bicara melainkan pembicaraan-nya adalah AL-QUR'AN ini ber-arti berbicara yang benar dan Haq itu di dalam AL-QUR'AN . Ada ayat yang meng-gatakan AL-QUR'AN ini sebagai Hablillah (tali Allah) yaitu tali yang mengaitkan antara hamba dengan Tuhannya. Jika tali ini tidak di pegang teguh, maka akan bercerai berai-lah manusia bersama Allah. Sedangkan, Hablillah ini mengenal Tuhan-nya sejak dari alam ROH dan ROH-lah yang mengakui bahwa Tuhan itu adalah Rabbi yaitu Tuhan yang mencipta-nya, Kalam-Nya tidak pernah dusta. Sebagaimana Rasullullah bersabda tidak mengikut perasaan-nya melainkan mengikut panduan AL-QUR'AN semata-mata,

KESIMPULAN: AL-QUR’AN itu bukanlah berbentuk Jirim, Jisim atau Jauhar yang Fardhi karena istilah tersebut adalah berbentuk dalam wujud ke-benda-an. AL-QUR'AN yang di maksud-kan oleh ALLAH swt ini bukanlah berbentuk kitab yang ber-jilid dan naskah, akan tetapi ia adalah berbentuk JAUHAR yang sulit untuk di lihat dengan mata kasar. AL-QUR'AN tersebut adalah berbentuk Zat, karena Basits itu adalah sebagian dari pada Zat yang di ujud-kan oleh ALLAH dan sesuai dengan Asma ALLAH yang Ma’anawiyah di samping ia adalah IMAM. Fungsi-nya sebagai IMAM atau Pemimpin sebagaimana yang di kehendaki oleh ALLAH pada setiap muslim menjawab-nya ketika di tanya oleh malaikat Mungkar dan Nangkir di dalam kubur atau berbentuk Hablillah (tali Allah).

Karena ia IMAM maka ia adalah makhluk yang bertaraf Zat Di alam ROH. Ketika ROH itu di tanya oleh ALLAH swt (QS. Bani Isroil ayat 85 dan 86) Maka yang menjawab pertanyaan tersebut ialah yang menjadi ketua atau IMAM kepada ROH, AKAL dan NAFSU. AL-QUR’AN adalah NUR MUHAMMAD atau HAKEKATUL MUHAMMADIYAH atau di kenal sebagai NYAWA atau NAFS kepada sumber segala kehidupan (Al-Basit). Maka dia juga di kenal sebagai makhluk La Yakhluqu = Zat yang tidak menjadikan sesuatu (An-Nahl ayat 17),

Yang jelas, AL-QUR’AN yang di masuk-kan oleh ALLAH ke dalam DIRI manusia itu ialah: NUR MUHAMMAD atau HAKEKATUL MUHAMMADIYAH atau DIRI KEBATINAN manusia yang sebenarnya atau DIRI SEBENAR DIRI yang tidak menanggung dosa. Karena ia adalah makhluk bertaraf Dzat maka.. Ia tidak terkecuali dari beribadah kepada Allah swt, Karena, Ia beribadah dengan nama Shuhud kepada Wahdah dan juga Kasrah dan Sir. Ia juga-lah yang di kenal sebagai NAFSAHU pada ayat mengenal diri dan Tuhan, Ia juga-lah yang di kenal sebagai INSAN yang Sempurna yang tidak ada cacat dan celanya.

ALAM adalah firman ALLAH yang tak tertulis (ayat-ayat KAUNIYAH). AL-QUR’AN adalah ayat-ayat KAULIYAH. Semua ALAM SEMESTA ter-kandung dalam Asma ALLAH (BISMILLAH). Asma terkandung Kehendak, Kehendak terkandung dalam Sifat, Sifat terkandung dalam Af’al, Af’al terkandung pada Dzat, Semua itu adalah HIJAB, karena Asma, Sifat, Af’al bukanlah DZAT itu sendiri. Itulah yang dimaksud bahwa segala yang tergambarkan adalah HURUF, dan merupakan HIJAB. Sedangkan Dzat berada dibalik TITIK. Dzat tidak bisa digambarkan oleh sesuatu. Untuk mengetahui Zat ALLAH kita harus MENYINGKIRKAN HURUF dan TITIK.

No comments:

Post a Comment