Monday, January 6, 2014

BENARKAH ORANG ISLAM BOLEH PELIHARA HAMBA SEKS?

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (kehormatannya), kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela” (QS.Al-Muminun:5-6)

Perhambaan bukan produk agama Islam. Perhambaan itu sudah ada jauh sebelum Al-Quran diturunkan. Di zaman Romawi dan Yunani Kuno, Parsi kuno, China dan hampir seluruh peradaban manusia di masa lalu telah dikenal perhambaan. Dan semua itu terjadi berabad-abad sebelum Islam datang. 

Sedangkan negeri Arab termasuk negeri yang belakangan mengenal perhambaan, sebagaimana belakangan pula dalam mengenal kebejadan moral. Minuman keras, pemerkosaan, makan uang riba, menyembah berhala, poligami tak terbatas dan budaya-budaya kotor lainnya bukan berasal dari negeri Arab, tetapi justru dari peradaban-peradaban besar manusia. 

Saat itu dunia mengenal perhambaan dan berlaku secara mendunia iaitu tiap hamba ada tarif dan harganya dan ini sangat berpengaruh pada mekanisme pasar dunia saat itu. Boleh dikatakan bahawa hamba adalah salah satu komoditi suatu negara. Dia boleh diperjual-belikan dan dimiliki sebagai pelaburan layaknya ternak. 

Dan hukum dunia saat itu membenarkan menyetubuhi hamba milik sendiri. Bahkan semua tawanan perang secara otomatis menjadi hamba pihak yang menang meski hamba itu adalah keluarga kerajaan dan puteri-puteri pembesar. Ini semua terjadi bukan di Arab, tapi di peradaban-peradaban besar dunia saat itu. Arab hanya mendapat imbasnya saja. 

Dalam keadaan dunia yang centang perenang itulah Islam diturunkan. Bukan hanya untuk dunia Arab, kerana kejahiliyahan bukan milik bangsa Arab sendiri, justru ada di berbagai peradaban manusia saat itu. Maka wajar bila Al-Quran banyak menyebutkan fenomena yang ada pada masa itu termasuk perhambaan. Bukan berarti Al-Quran mengakui perhambaan, tetapi merupakan petunjuk untuk melakukan kebijakan di tengah sistem kehidupan yang masih mengakui perhambaan saat itu. 

Tuduhan selanjutnya adalah dalam Islam diperbolehkan menggauli hamba dengan berpandukan hanya pada QS A-Nisa:24 tanpa memperhatikan ayat sebelum dan sesudahnya. Padahal di ayat ini Allah malah menganjurkan untuk menikahi bukan menggauli. 

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali hamba-hamba yang kamu miliki sebagai ketetapanNya atas kamu dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian. (Yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" 

“Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita-wanita merdeka lagi beriman, dia boleh mengawini wanita yang beriman, dari hamba-hamba yang kamu miliki, Allah mengetahui keimananmu, sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, kerana itu kahwinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan penzina dan bukan pula wanita yang mengambil laki-laki sebagai peliharaannya dan apabila mereka telah menjaga diri dengan berkawin, kemudian mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini hamba) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyarakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.An-Nisa: 24-25). 

Dari berpedoman kepada satu ayat ini saja, dapat disimpulkan bahawa dilarang seorang Muslim untuk menggauli hambanya yg bersuami tanpa proses pernikahan telah terjawab sudah. 

Pertama, Konteks pembicaraan di ayat 24 adalah sambungan dari pembicaraan di ayat 23 sebelumnya, yaitu tentang wanita-wanita yang diharamkan untuk dinikahi (muhrim). Lalu pada ayat 24 disebutkan satu lagi macam wanita yang dilarang, yaitu mereka yang masih dalam status bersuami. Kemudian dilanjutkan oleh Allah, "Kecuali hamba-hamba yang kamu miliki". Kerana konteksnya adalah mengenai siapa-siapa yang tidak boleh dinikahi, maka tafsiran ayat "illa maa malakat aemaanukum” di sini adalah "Kecuali hamba-hamba wanita yang kamu miliki dapat dinikahi, walaupun masih dalam status punya suami. Dalam banyak penafsiran dijelaskan bahawa hamba wanita yang bersuami namun dapat dinikahi yang dimaksud pada ayat tersebut adalah hamba-hamba yang ikut menjadi tahanan perang dan atau dijual oleh tuannya. Jika seorang hamba wanita ikut dalam tawanan dan suaminya tidak tertahan, maka oleh sebahagian ulama dianggap telah bercerai dengan sendirinya. Demikian pula, jika seorang hamba wanita dijual oleh tuannya, sementara suaminya tidak ikut terjual bersamanya, maka secara otomatis pula terceraikan dari suami tersebut. Dengan demikian, jika seorang Muslim ingin menikahi budak wanita seperti ini boleh kerana tidak lagi berstatus bersuami. 

Dengan demikian, QS An-Nisa: 24 yang sering disalah fahami sebagai ayat pembenaran untuk menggauli hamba tanpa nikah, justeru sesungguhnya sebaliknya. Kejelasan ini semakin nampak jika baca secara teliti QS An-Nisa: 25. 

Ayat 25 dimulai dengan "Dan jika kamu tidak memiliki kemampuan untuk menikahi wanita-wanita merdeka". Artinya, konteksnya adalah menikahi bukan menzinahi. 

Kalimat ini lalu dilanjutkan, “Fa mimmaa malakat aemaanukum minmfatayaatikumul muminaat.” Jika diterjemahkan, “Dia boleh mengahwini wanita yang beriman, dari hamba-hamba yang kamu miliki". Potongan ayat ini saja sudah jelas, bahawa jika tak mampu menikahi wanita merdeka (biasanya kerana maharnya terlalu mahal) maka demi menjaga kehormatan lelaki tersebut, tidaklah mengapa menikahi (mengawini) wanita mukmin dari kalangan hamba. Jadi bukan kerana tidak mampu menikahi wanita merdeka, lalu boleh menggauli hamba tanpa nikah. 

Akan semakin jelas, jika anda baca lanjutan ayat tersebut 

“Fankihuuhunna biizni ahlihina, waatuuhunna ujuurahunna bil maruuf” (Maka nikahilah mereka, (yaitu hamba-hamba wanita tersebut) dengan izin walinya dan berikanlah maharnya dengan cara yang baik). 

Jadi jelas dari ayat QS An-Nisa:24-25 Islam menganjurkan untuk menikahi hambanya jika tidak mampu menikahi wanita merdeka. Dengan demikian, jika ada orang yang memahami bahawa hukum Islam (apalagi dengan embel kata klasik) pernah menghalalkan hubungan seksual dengan hamba wanita yg bersuami tanpa nikah, adalah keliru dan pertanda kekurangan telitian dalam melihat ayat-ayat Al-Quran. 

Hukum perhambaan hilang dengan cara berangsur-angsur seperti kasus haramnya khamar, tidak langsung menyebut khamar haram, tetapi yang dahulu turun perintah adalah perintah menjauhi solat dalam keadaan mabuk, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendekati solat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan dan jangan pula orang yang junub kecuali sekedar lewat sampai kalian mandi.” (An Nisa: 43) 

Lalu dilengkapi dengan ayat lain sebagai pelengkap hukum Haramnya Khamar: 

Dan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaitan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (Al-Maidah: 90). 

Begitu juga dengan menghapus perhambaan dan menzinahi hamba. Jika di ayat QS. Al-Muminun:5-6, diperbolehkan untuk menyetubuhi hamba, maka di ayat selanjutnya yaitu An-Nisa:24-25, Allah menganjurkan untuk menikahinya jika tidak sanggup menikahi wanita merdeka. Dan islam adalah agama yg menghapus perhambaan secara perlahan2, begitu banyak kafarat dg cara membebaskan hamba bahkan bagi orang yg membebaskan hamba maka akan mendapat pahala yg sgt besar dari Allah. “Barang siapa memerdekakan seorang hamba mukmin, maka Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari neraka dengan setiap anggota tubuh budak itu.” (HR Muslim, No: 2775)

No comments:

Post a Comment