Thursday, January 3, 2013

KISAH 3,000 SAHABAT MELAWAN 200 RIBU PASUKAN ROMAWI

Pertempuran paling heroik dan dahsyat yang dialami umat Islam di era awal perkembangan Islam adalah saat mereka yang hanya berkekuatan 3,000 orang melawan pasukan terkuat di muka bumi saat itu, pasukan romawi dengan kaisarnya Herculis yang membawa pasukan sebanyak 200,000 orang. Pasukan besar tersebut merupakan pasukan gabungan antara kaum Nasrani Romawi dan Nasrani Arab sekitar dataran Syam, jajahan Romawi. Perang terjadi di daerah Mutah, sehingga sejarawan menyebutnya perang Mutah (sekitar Jordan sekarang), pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 8 H atau tahun 629 M.

LATAR BELAKANG PEPERANGAN

Penyebab perang Mutah ini bermula ketika Rasulullah Saw mengirim utusan bernama al-Harits bin Umair al-Azdi ra yang akan dikirim ke penguasa Bashra (Romawi Timur) bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi. Di tengah perjalanan, utusan itu dicegat dan ditangkap penguasa setempat bernama Syurahbil bin Amr al-Ghassani, pemimpin dari bani Gasshaniyah (daerah jajahan romawi) dan dibawa ke hadapan kaisar Romawi Herculis. Setelah itu kepalanya dipenggal. Dan pada tahun yg sama, 15 orang utusan Rasulullah dibunuh di Dhat-al-Talh daerah disekitar negeri Syam (Irak). Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah saw dibunuh dalam misinya. Pelecehan dan pembunuhan utusan negara termasuk menyalahi aturan politik dunia. Membunuh utusan sama saja ajakan untuk berperang. Hal inilah yang membuat Rasulullah marah.

Mendengar utusan damainya dibunuh, Rasulullah Saw sangat sedih. Setelah sebelumnya berunding dengan para Sahabat, lalu diutuslah pasukan muslimin sebanyak 3,000 orang untuk berangkat ke daerah Syam, sebuah pasukan terbesar yang dimiliki kaum muslim setelah perang Ahzab. Rasulullah Saw sadar melawan penguasa Bushra berarti juga melawan pasukan Romawi yang gagah dan terbesar dan terhebat di muka bumi ketika itu. Namun ini harus dilakukan kerana boleh saja suatu saat pasukan lawan akan menyerang Madinah. Kelak pertempuran ini adalah awal dari pertempuran Arab-Byzantium.

Rasulullah Saw bersabda, “Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila dia gugur pimpinan dipegang oleh Jaafar bin Abu Thalib, bila dia gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah, (saat itu beliau meneteskan air mata), selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang pedang Allah dan akhirnya Allah swt memberikan kemenangan.” (HR Bukhari).

Ini pertama kali Rasulullah saw mengangkat tiga panglima sekaligus kerana beliau mengetahui kekuatan militer Romawi yang tak tertandingi pada waktu itu.

Ketika pasukan ini berangkat Khalid bin al-Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang hendak memperlihatkan itikad baiknya sebagai orang Islam. Masyarakat ramai mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu dan Rasulullah Saw juga turut mengantarkan mereka sampai ke Tsaniatul Wada, diluar kota Madinah dengan memberikan pesan kepada mereka, “Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak, jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon.” Rasulullah Saw mendoakan dan kaum Muslimin juga turut mendoakan dengan berkata, “Allah menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat.”

Komandan pasukan itu semula merencanakan hendak menyergap pasukan Syam secara tiba-tiba, seperti yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sebelumnya. Dengan demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa kemenangan. Mereka berangkat sampai di Maan di bilangan Syam dengan tidak mereka ketahui apa yang akan mereka hadapi di sana.

JALANNYA PEPERANGAN

Kaum Muslimin bergerak meninggalkan Madinah. Musuh pun mendengar keberangkatan mereka. Dipersiapkanlah pasukan sangat besar guna menghadapi kekuatan kaum Muslimin. Kaisar Heraclius mengerahkan lebih dari 100,000 tentara Romawi sedangkan Syurahbil bin Amr mengerahkan 100,000 tentara yang terdiri dari kabilah Lakham, Juzdan, Qain dan Bahra. Kedua pasukan itupun bergabung. Berdasarkan maklumat, pasukan tersebut dipimpin oleh Theodore, saudara Herkulis.

Mendengar kekuatan musuh yang begitu besar, kaum Muslimin berhenti selama dua malam di daerah bernama Maan wilayah Syam guna merundingkan apa langkah yang akan diambil. Beberapa orang berpendapat, “Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah saw, melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar lagi atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan.”

Tetapi Abdullah bin Rawahah tidak menyetujui pendapat tersebut. Bahkan ia mengobarkan semangat pasukan dengan ucapan berapi-api, “Demi Allah swt, sesungguhnya apa yang kalian tidak sukai ini adalah sesuatu yang kalian keluar mencarinya yaitu syahid (gugur di medan perang). Kita tidak berperang kerana jumlah pasukan atau besarnya kekuatan. Kita berjuang semata-mata untuk agama ini yang Allah swt telah memuliakan kita dengannya. Majulah! Hanya ada salah satu dari dua kebaikan, menang atau gugur (syahid) di medan perang.” Lalu mereka mengatakan, “Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar.”

Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200,000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya pada masa sebelum itu.

Perlu kita ketahui, tentara di medan perang dibagi menjadi lima pasukan, yaitu pasukan depan, belakang, kanan, kiri dan tengah sebagai pasukan inti. Tentara musuh dengan jumlah yang sangat banyak mengharuskan seorang tentara dari sahabat melawan puluhan tentara musuh. Akan tetapi, tentara Allah yang memiliki kekuatan iman dan semangat jihad untuk meraih kemulian mati syahid tidak merasakannya sebagai beban berat bagi mereka sebab kekuatan mereka satu banding sepuluh sebagaimana digambarkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya, “Jika ada di antara kalian 20 orang yang bersabar maka akan mengalahkan 200 orang.” (QS. Al Anfal: 65)

Tentara Allah sebagai wali dan kekasih-Nya yang berperang untuk meninggikan agama-Nya, maka pasti Allah bersama mereka. Adapun orang-orang kafir sebanyak apapun bilangan dan kekuatan mereka, maka ibarat buih yang tidak berarti apa-apa.

Kisah Syahidnya Para Pahlawan Yang Berperang

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA ZAID BIN HARITSAH

Sesuai perintah Rasulullah, pasukan Islam dipimpin Zaid bin Haritsah dengan bendera di tangannya. 3,000 pasukan Islam melawan 200,000 tentara Romawi jelas tak seimbang. Zaid bertempur dengan gagah berani. Sampai kemudian sebuah tombak Romawi menancap di tubuhnya. Darah segar assaabiquunal awwalun tumpah di bumi Mutah. Andaikan memiliki air mata, tanah di sana sudah menangis sejak tubuh mulia itu terjatuh. Zaid tergeletak sudah. Syahid.

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA JAAFAR BIN ABU THALIB

Melihat Zaid jatuh, Jaafar bin Abu Thalib segera melompat dari punggung kudanya yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya

Jaafar bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Beliau maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya sampai akhirnya, pasukan musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya. Jaafar berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat sambil bersenandung:

Wahai … 
Syurga nan nikmat sudah mendekat
Minuman segar, tercium harum
Tetapi engkau Rum…Rum…
Menghampiri siksa
Di malam gelap gulita, jauh dari keluarga
Tugasku.. menggempurmu..

Sampai suatu ketika, ada seorang pasukan Romawi yang menebas tangan kanannya hingga putus. Darah suci pahlawan Islam tertumpah ke bumi. Lalu bendera dipegang tangan kirinya. Rupanya pasukan Romawi tidak rela bendera itu tetap berkibar. Tangan kirinya pun ditebas hingga putus. Kini ia kehilangan dua tangannya. Yang tersisa hanyalah sedikit lengan bahagian atas. Dalam keadaan demikian, semangat beliau tidak surut, Jaafar tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Ada diantara mereka yang menyerang Jaafar dan membelah tubuhnya menjadi dua. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar Ra, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bahagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA ABDULLAH BIN RAWAHAH

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, setelah terlihat kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga…
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga…
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati…
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti…
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini…
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati…!”

(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Jaafar yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).

Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!”

Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taKdir Allah Swt yang menentukan, bahawa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadrat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid.

Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi dan tercapailah puncak idamannya, “Hingga dikatakan, yaitu bila mereka melewati mayatku, “Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah Swt dan benar ia telah terpimpin! Benar engkau, ya Ibnu Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!”

KABAR SYAHIDNYA PARA KOMANDAN PERANG MUTAH SAMPAI KE RASULULLAH

Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa di Syam, Rasulullah saw sedang duduk beserta para sahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percabila yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka! Seraya memandang berkeliling ke wajah para sahabatnya dengan pandangan terharu, beliau berkata, “Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, dia bertempur bersamanya hingga dia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Jaafar dan dia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula.”. Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya, “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan dia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya dia pun syahid pula”.

Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula, “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga.”

Para sahabat di sisi Rasulullah juga tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Tangis duka. Tangis kehilangan. Kehilangan sahabat-sahabat terbaik. Kehilangan pahlawan-pahlawan pemberani. Namun bersamaan dengan tangis itu juga ada kabar gembira bagi mereka. Bahawa ketiga orang itu kini disambut para malaikat dengan penuh hormat, dijemput para bidadari dan mendapati janji syurga serta ridha Ilahi. Secara khusus kepada Jaafar bin Abu Thalib yang terbelah tubuhnya, ia dijuluki dengan Ath-Thayyar (penerbang) atau zul-Janahain (orang yang memiliki dua sayap) sebab Allah menganugerahinya dua sayap di syurga dan dengan sayap itu ia boleh terbang di syurga sekehendaknya.

BERITA SYAHIDNYA JAAFAR DISAMPAIKAN LANGSUNG OLEH RASULULLAH KEPADA KELUARGA JAAFAR

Rasulullah pun pergi ke rumah Jaafar, didapatinya Asma, istri Jaafar, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.

Asma bercerita, “Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, kerana aku takut mendengar berita buruk.”

Rasulullah memberi salam dan menanyakan anak-anak Jaafar dan menyuruh mereka ke hadapan Rasulullah. Asma kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah saw. Anak-anak Jaafar berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka.

Asma bertanya, “Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Jaafar dan kedua sahabatnya?” Beliau menjawab, “Ya, mereka telah syahid hari ini.”

Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.

Rasulullah berdoa sambil menyeka air matanya, “Ya Allah, gantilah Jaafar bagi anak-anaknya. Ya Allah, gantilah Jaafar bagi istrinya.”

Kemudian beliau bersabda, “Aku melihat, sungguh Jaafar berada di syurga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya.”

STRATEGI PERANG KHALID BIN WALID

Tsabit bin Arqam mengambil bendera komando yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid

Khalid bin Walid ra sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi, ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu mengganti formasi pasukan setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang dan yang dibelakang berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin mendapat bantuan tambahan pasukan baru.

Selain itu, Khalid bin Walid mengulur-ulur waktu peperangan sampai petang hari kerana menurut aturan peperangan pada waktu itu, peperangan tidak boleh dilakukan pada malam hari. Khalid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum muslimin pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan bantuan yang datang dengan membuat debu-debu berterbangan.

Pasukan musuh yang menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahawa pasukan muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahawa kemarin dengan 3,000 orang pasukan saja merasa kewalahan, apalagi jika datang pasukan bantuan. Kerana itu, pasukan musuh merasa takut dan akhirnya mengundurkan diri dari medan pertempuran. Pasukan Islam lalu kembali ke Madinah, mereka tidak mengejar pasukan Romawi yang lari, kerana dengan mundurnya pasukan Romawi berarti Islam sudah menang.

HASIL PEPERANGAN

Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menyebutkan bahawa pertempuran ini berakhir imbang. Hal kerana kedua belah pasukan sama-sama menarik mundur pasukannya yang lebih dahulu dilakukan oleh Romawi. Sedangkan Ibnu Katsir menyebutkan bahawa dalam pertempuran ini kemenangan berada di tangan pasukan Muslimin.

Imam Ibnu katsir mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Swt melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata, “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang di jalan Allah Swt, dengan kekuatan 3,000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin, padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak.”

Sebenarnya tanpa ada justifikasi kemenanganpun akan diketahui ada dipihak siapa. Keberanian pasukan yang hanya berjumlah 3,000 dengan gagah berani menghadapi dan dapat mengimbangi pasukan yang sangat besar dan bersenjata lebih canggih dan lengkap cukup menjadi bukti. Bahkan jika menghitung jumlah korban dalam perang itu siapapun akan langsung mengatakan bahawa umat Islam menang. Mengingat korban dari pihak muslim hanya 12 orang (al-Bidayah wan Nihayah (4/214)). Menurut riwayat Ibnu Ishaq 8 orang, sedang dalam kitab as-Sîrah ash-Shahihah (hal.468 13 orang) sedangkan pasukan Romawi tercatat sekitar 20,000 orang.

Menurut Imam Ibnu Ishaq (imam dalam ilmu sejarah Islam), syuhada perang Mutah hanya berjumlah 8 sahabat saja. Secara terperinci, yaitu (1) Jaafar bin Abi Thalib dan mantan budak Rasulullah saw (2) Zaid bin Haritsah Al-Kalbi, (3) Masud bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah Al-Adawi, (4) Wahb bin Sad bin Abi Sarh. Sementara dari kalangan kaum Anshar, (5) Abdullah bin Rawahah, (6) Abbad bin Qais Al-Khazarjayyan, (7) Al-Harits bin an-Numan bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari dan (8) Suraqah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa Al-mazini.

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam dengan berlandaskan keterangan Az-Zuhri, menambahkan empat nama dalam deretan sahabat Nabi saw yang gugur di medan perang Mutah. Yakni, (9) Abu Kulaib dan (10) Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah Amr bin Amir putra Sad bin Al-Harits bin Abbad bin Sad bin Amir bin Tsalabah bin Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum Anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.

Perang ini adalah perang yang sangat sengit meski jumlah korban hanya sedikit dari pihak muslim. Di dalam peperangan ini Khalid ra telah menunjukkan suatu kegigihan yang sangat mengagumkan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Khalid sendiri bahawa ia berkata, “Dalam perang Mutah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman.” (HR Al-Bukhari 4265-4266)

Ibnu Hajar mengatakan, hadits ini menunjukkan bahawa kaum Muslimin telah banyak membunuh musuh mereka.

Allah Swt berfirman, “Orang-orang yang meyakini bahawa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 249)

IBRAR YANG KITA BOLEH AMBIL DARI PERANG MUTAH

Kita merasa berat padahal kita tidak pernah berjihad. Kita mengeluh sering pulang malam dan kepenatan kerana kita tidak pernah membayangkan mobilitas para sahabat seperti Zaid, Jaafar dan Ibnu Rawahah yang menempuh perjalanan beberapa pekan, lalu berperang beberapa pekan pula. Kita mengeluhkan hari libur yang tersita sehingga jarang berekreasi bersama keluarga kerana kita tak pernah menempatkan diri seperti Zaid, Jaafar dan Ibnu Rawahah yang setiap kali berangkat jihad mereka meninggalkan wasiat pada istri dan keluarganya. Kita mengeluh korban tenaga, kehujanan, sampai terkena flu bahkan masuk rumah sakit. Kerana kita tak pernah membayangkan jika kita yang menjadi para sahabat. Bukan flu yang menyerang tetapi anak-anak panah yang menancap di badan. Bukan panas dan meriang yang datang tetapi tombak yang menghujam. Bukan batuk kerana kelelahan tapi sayatan pedang yang membentuk luka dan menumpahkan darah.

Kita mengeluh dengan pengeluaran sebahagian kecil uang kita kerana kita tidak membayangkan betapa besarnya biaya jihad para sahabat. Mulai dari membeli unta atau kuda, baju besi sampai senjata. Kita mengeluhkan masyarakat kita yang tidak juga menyambut dakwah sementara Zaid, Jaafar dan Ibnu Rawahah bahkan tak pernah mengeluh meskipun berhadapan dengan 100.000 pasukan musuh. Kita merasa berat dan seringkali mengeluh kerana kita tak memahami bahawa perjuangan Islam resikonya adalah kematian. Maka yang kita alami bukan apa-apa dibandingkan tombak yang menghujam tubuh Zaid bin Haritsah. Yang kita keluhkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sabetan pedang yang memutuskan dua tangan Jaafar bin Abu Thalib dan membelah tubuhnya. Yang kita rasa berat tidak seberapa dibandingkan luka-luka di tubuh Ibnu Rawahah yang membawanya pada kesyahidan.

Lalu pantaskah kita berharap Rasulullah menangis kerana kematian kita? Pantaskah kita berharap malaikat datang menyambut kita? Atau bidadari menjemput kita? Kemudian pintu syurga dibukakan untuk kita? Ya Allah, jika kami memang belum pantas untuk itu semua, jangan biarkan kami mengeluh di jalan dakwah ini. Ya Allah, anugerahkanlah hidayah-Mu kepada kami dan janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi hidayah pada kami. Amin.

No comments:

Post a Comment