Friday, July 22, 2016

BAHAGIA DAN DUKA

Keadaan ruhani manusia itu: bahagia dan duka. Bila duka, maka timbul kecemasan, keluhan, ketidak senangan, pencomelan, penyalahan terhadap perilaku buruk, dosa kerana menyekutukan sang Pencipta dgn makhluk dan sarana2 duniawi, dan akhirnya kekafiran. Bila bahagia, ia menjadi korban kerakusan, kehinaan hawa nafsu. Bila nafsu diperturutkan, ia pun menginginkan yg lainnya dan meremehkan kurnia yg dimilikinya; maka ia tak menghargai kurnia2 ini dan meminta kurnia yg lebih baik lagi, sehingga hal ini menempatkannya dlm rangkaian kesulitan yg tak berakhir di dunia ini atau di akhirat, sebagaimana dikatakan: "Sesungguhnya siksaan paling pedih iaitu bagi pengupayaan yang bukan bahagiannya."

Maka, bila ia dirundung kesulitan yang dikehendaki hanyalah sirnanya kesulitan itu. Ia menjadi lupa akan segala kurnia, dan tidak menghendaki sesuatupun dari hal ini. Bila ia dikurniai kebahagiaan hidup, maka ia kembali menjadi sombong, rakus, membangkang terhadap Tuhannya dan tenggelam dalam dosa. Ia pun lupa akan kesengsaraannya ini dan bencana, yang korbannya adalah dia. 

Maka segeralah ia menjadi lebih buruk daripada kala ia diharu-biru aneka musibah dan kesulitan sebagai hukuman atas dosa2nya, agar ia terjauhkan dari hal-hal ini dan menahannya dari perbuatan dosa di kemudian hari, setelah kemudahan dan kesenangan tak mengubahnya, tetapi keselamatannya terletak dalam musibah dan kesulitan. Andai ia berlaku baik, setelah bencana berlalu darinya, teguh dalam kepatuhan, bersyukur dan menerima nasibnya dangan senang hati, maka hal itu lebih baik baginya di dunia ini dan di akhirat. 

Maka, hidupmu akan kian bahagia. Jadi, barangsiapa menginginkan keselamatan hidup di dunia ini dan di akhirat, maka ia harus senantiasa bersabar, pasrah, menghindar dari mengeluh kepada orang, dan memperolehi kebutuhannya dari Tuhannya, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, dan membuatnya sebagai kewajiban untuk mematuhi-Nya, harus menantikan kemudahan dan sepenuhnya mengabdi kepada-Nya, Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Ia, betapa pun, lebih baik ketimbang seluruh makhluk-Nya.

Maka Pencabutan oleh-Nya menjadi kurnia, Penghukuman-Nya menjadi rahmat, musibah dari-Nya menjadi ubat, janji-Nya terpenuhi. Kemurahan-Nya merupakan kenyataan yang ada. Kata-Nya merupakan suatu kebajikan. Tentu, firman-Nya, di kala Ia menghendaki sesuatu, hanyalah ucapan terhadapnya "Jadi," maka jadilah ia. Maka, seluruh tindakan-Nya baik, bijak dan tepat, kecuali bahawa Ia menyembunyikan pengetahuan ttg ketepatan-Nya dari hamba2-Nya, padahal Ia sendiri begini. 

Maka, lebih baik dan layak bagi para hamba untuk berpasrah dan mengabdi kepada-Nya, iaitu dengan menunaikan perintah2-Nya, menghindari larangan2-Nya, menerima ketentuan-Nya dan mencampakkan belaian makhluk - sebab hal ini merupakan sumber segala ketentuan, menguatnya mereka dan dasar mereka; dan berdiamlah atas sebab dan masa (kejadian-kejadian), dan jangan menyalahkan gerak dan diam-Nya. Pernyataan ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, yang dikutip oleh Ata bin Abbas.

Katanya: "Ketika aku berada di belakang Rasulullah (saw), beliau berkata kepadaku, "Anakku, jagalah kewajiban2 terhadap Allah, maka Allah akan menjagamu; jagalah kewajiban2 terhadap Allah, maka kau akan mendapati-Nya di depanmu.' "

Oleh itu, jika kau memerlukan pertolongan, mintalah kepada-Nya. Pena menjadi kering setelah menulis kan segala yang akan terjadi. Dan jika hamba-hamba Allah berupaya keras memberimu sesuatu yang tak Allah tentukan bagimu, maka mereka takkan mampu melakukannya. Jika hamba-hamba Allah berupaya keras merugikanmu, padahal Allah tak menghendakinya, maka mereka takkan berhasil. Oleh itu, jika kau dapat bertindak berdasarkan perintah-perintah Allah dengan sepenuh iman, lakukanlah. 

Tapi, jika kau tak mampu melakukan yang demikian, maka, tentu, lebih baik bersabar atas apa yang tak kau sukai, sembari mengingat bahawa di dalamnya banyak kebaikan. Ketahuilah, bahawa pertolongan Allah datang melalui kesabaran dan keredhaan, dan dalam kesulitan itu ada kemudahan. Maka, hendaklah para mukmin menjadikan hadis ini sebagai cermin bagi hatinya, sebagai pakaian lahiriah dan ruhaniah, sebagai slogan, dan hendaklah berlaku dengannya dalam segala gerak dan diamnya, agar selamat di dunia ini dan di akhirat, dan semoga mendapatkan kemuliaan darinya, dengan kasih-sayang Allah, Yang Maha Mulia. (Sheikh Abdul Qadir Al Jilani - Futuhul Ghaib).

No comments:

Post a Comment