Saturday, July 23, 2016

PESAN MAKRIFAT

Nabi Khidir ketika berpisah dgn Nabi Musa, dia (Musa) berkata, “Berilah aku wasiat”. Jawab Nabi Khidir: 

1. Wahai Musa, jadilah kamu org yg berguna bagi org lain, Janganlah sekali-kali kamu menjadi org yg hanya menimbulkan kecemasan diantara mereka sehingga kamu dibenci mereka. Jadilah kamu org yg sentiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah sampai mengerutkan dahimu kpd mereka. Janganlah kamu keras kepala atau bekerja tanpa tujuan. Apb kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruannya saja, kemudian tangisi dosa2mu, wahai Ibnu Imron!” (Al Bidayah Wan Nihayah dan Ihya Ulumuddin).

2. Diriwayatkan bahawa setelah Khidir akan meninggalkan Nabi Musa, dia (Khidir) berpesan kepadanya: “Wahai Musa, pelajarilah ilmu2 kebenaran agar kamu dapat mengerti apa yg belum kamu fahami, tetapi janganlah sampai kamu jadikan ilmu2 hanya sbg bahan omongan kosong/berdebat” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Asakir).

3. Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasehat itu tidak pernah merasa jemu seperti kejemuan org2 yang mendengarkan. Memberi nasehat kepada org lain janganlah mengharapkan sesuatu imbalan apapun kecuali ridha Allah dan tugas menyampaikan. Tugas menyampaikan dan mensyiarkan agama Allah adalah tugas setiap umat muslim, firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 32 mengatakan, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar2 Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”. Dan kita sendiri jangan merasa bosan2 untuk mendengarkan para penceramah itu termasuk tholabul ilmi yang diwajibkan pada setiap muslim, walaupun ilmunya banyak.

4. Maka janganlah kamu berlama-lama dalam menasehati kaummu.  Berilah nasehat singkat, padat, berisi dan yang penting tidak membosankan. Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang harus kamu rawat dan pelihara dari hal-hal yang bisa memecahkannya. Iman didalam hati belum tentu sudah kokoh tanpa djaga dan dirawat dan dipelihara karena lapisan luar hati masih dipenuhi oleh hawa Nafsu yg selalu mengajak ke arah perbuatan yg kurang baik. Maka dari itu waspadalah dalam menjaga hati jangan sampai hati terpengaruh dari hasutan syaitan yg cara penyusupan penyerangannya melalui hawa Nafsu. Apabila hati sudah terkena pengaruh hawa Nafsu pecahlah hati ini. Dan hati-hatilah dlm menjaganya.

5. Kurangilah usaha2 duniawimu dan buanglah jauh2 dibelakangmu, karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati selamanya. Dunia yang kita tempati ini tidaklah selamanya kita tempati dan setelah selesai hidup kitapun pindah di alam lain, maka kumpulkan amal kebajikan untuk modal menuai di akhirat nanti. Jangan buang2 masa, tanamlah amalmu utk menggapai kebahagiaan di alam akhirat, apabila tidak ditanami amal kebajikan apa yg diambil disana kita akan rugi di dunia dan di akhirat.  Waktu kita di dunia hanya sebentar, tidaklah lama sebagaimana keterangan surat An Naziyat ayat 46: “Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) diwaktu sore atau di pagi hari”.

6. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala2 akhirat nanti. Semua makhluk yang bernama manusia beramar ma’ruf nahi munkar. Mengerjakan amal yang baik untuk bekal di akhirat serta mencegah hal yang munkar untuk diri sendiri dan dilanjutkan kepada org lain yg menjalani hal yg munkar yg dilarang.

7. Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang dilakukan kaummu. Sabar dalam menghadapi kemaksiatan dilingkungannya, ini bukan berarti diam tetapi sabar dalam bentuk berusaha mencegah dan menggantikan dengan perbuatan yang baik. Apabila mengalami kesulitan, bersabarlah, mencari solusinya dan jalan keluar yang baik.

8. Hai Musa, tumpahkanlah seluruh pengetahuan (ilmu) mu, karena tempat yang kosong akan terisi oleh ilmu yang lain. Kewajiban manusia yang berilmu untuk membagi ilmunya kepada orang lain yang memerlukan, bukan ilmu yang diberikan kepada orang lain itu habis tetapi malah sebaliknya justru bertambah banyak. Apa sebabnya?. Karena, ilmu yang kita berikan kepada orang lain dengan ikhlas dan ridha, Allah pun ridha menambah ilmu Nya kepada orang tersebut.

9. Janganlah kamu banyak membicarakan ilmumu itu, karena akan dipisahkan oleh kaum ulama’. Membicarakan ilmu yang sudah dicapai dengan ilmu mukasyafah dengan orang yang diluar kelompoknya yang masih dibawah jauh dari ilmu yang dicapai, maka akan terjadi kurang baik bagi dirinya juga bagi orang lain. Pendapat mengenai hal ini, Imam Al Ghozali mengatakan, Pengetahuan2 yang begini yang hanya boleh dikemukakan melalui isyarat, tidak diperkenankan untuk diketahui setiap manusia. Begitulah halnya dgn org yg berpengetahuan tersebut tersingkap padanya, dia tidak boleh mengungkapkannya kpd org yg pengetahuan tersebut tidak tersingkap atasnya. (Sufi dari Z.Z. hal. 181).

10. Maka bersikaplah sederhana saja, sebab sederhana itu akan menghalangi aibmu dan akan membukakan taufiq hidayah Allah untukmu. Menjalani kehidupan dengan kesederhanaan ini berarti sudah meninggalkan kehidupan keterikatan dengan keduniawian. Banyak tokoh-tokoh Sufi yang tadinya hidup dalam kemewahan ditinggalkannya untuk hidup dalam kesederhanaan. Dengan hidup sederhana hatinya tidak disibukkan dengan harta. Ibadah kepada Allah lebih tenang dan khusu’, dalam pendekatannya kepada Allah serasa tak mengalami kesulitan.

11. Berantaslah kejahilanmu dengan cara membuang sikap masa bodohmu (ketidak pedulian) yang selama ini menyelimutimu. Menahan dan menyingkirkan sifat-sifat yang kurang baik bukan main susahnya kalau tidak dilandasi dengan dzikir kolbu, sebab dzikir kalbu dapat mengikis sifat-sifat yang kurang baik yg sekian lama membelenggu diri. Dengan dzikrullah yang dikerjakan di kalbu, disamping menghilangkan sifat2 yg kurang baik, sifat2 yg baik pun menguasai diri dan menambah ketenangan dan ketentraman hati.

12. Itulah sifat orang-orang arif dan bijaksana, menjadi rahmat bagi semua. Orang2 arif Billah, orang2 Sufi kebanyakan adalah para wali Allah yang menjadi rahmat bagi semua orang.

13. Apabila orang bodoh datang kepadamu dan mencacimu, redamlah ia dengan penuh kedewasaan serta keteguhan hatimu. Meredam kemarahan orang yang memarahi di awali melatih penahanan hawa Nafsu dan meredam keinginan hawa Nafsu yang ingin bergolak. Setelah mampu meredam hawa Nafsu, meredam amarah orang lain dengan kelembutan sifat dan keteguhan hati.

14. Hai putra Imron, kamu sadari bahwa ilmu Allah yang kamu miliki hanya sedikit. Ilmu yang dipunyai manusia itu hanya sedikit, itupun Allah lah yg memberinya sedangkan ilmu yang Allah miliki tak terhingga sebagaimana di surat Luqman 27: “Dan seandainya pohon2 di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis2nya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

15. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan yg ada pada dirimu atau bersikap sewenang2 adalah menyiksa diri sendiri. Menutupi kekurangan diri sendiri juga sama dgn menutup diri yg tidak mahu menerima dari luar diri. Akhirnya kebodohan yg didapatkan sebaiknya sifat terbuka atau keterbukaan dari segala hal akan terbukalah hal-hal yg tersembunyi. Termasuk dapat terbukanya ilmu Allah maka jangan tutupi dirimu, terbukalah.

16. Janganlah kamu buka ilmu ini jika kamu tidak boleh menguncinya. Jangan pula kamu kunci pintu ilmu ini jika tidak tahu bagaimana membukanya, hai putra Imron. Membuka ilmu adalah tugas seorang guru, mursyid, atau pembimbing. Jadi beliau sudah mampu membuka dan menutup ilmu. Kenapa ilmu yang sudah dijalani oleh seorang murid ditutup?, disebabkan si murid ada kesalahan besar yang sudah tidak dapat diajak memperbaiki untuk meluruskan pelajaran ilmunya. Makanya harus ditutup, supaya dibelakang hari tidak ada permasalahan yang lebih besar lagi. Kalau tidak tahu cara menutup ilmu, jangan sekali-kali membukanya walau tahu cara membuka ilmu tersebut.

17. Barang siapa yang menumpuk-numpuk harta benda, dia sendiri bakal mati tertimbun dgnnya hingga dia merasakan akibat dari kerakusannya itu. Sebagaimana kisah kerakusannya Korun, dia seorang yang tamak terhadap harta tidak dipergunakan untuk perjuangan agama Allah, sehingga dia tertimbun hartanya.

18. Namun, semua hamba yg selalu mensyukuri karunia Allah serta memohon kesabaran atas ketentuan2 Nya, dialah hamba yang zuhud dan patut diteladani. Allah pun murka sebagaimana diterangkan dlm surat Ibrahim ayat 34 : “Dan Dia telah memberikan kpdmu (keperluan) dari segala apa yg kamu pohonkan kpd Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. Juga sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim mengatakan : “Dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. sgt mengagumkan keadaan seorg mukmin sbb segala keadaannya utk ia sangat baik dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorg mukmin, jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya dan bila menderita kesusahan ia bersabar, maka sabar itu lebih baik baginya”.

19. Bukankah orang yang seperti itu mampu mengalahkan Nafsu syahwatnya dan dapat memerangi bujuk rayu syaitan? Syaitan membujuk manusia sejak Nabi Adam as. diciptakan di surga, dia iri dengan Nabi Adam karena Nabi Adam diciptakan lebih sempurna dari dia, bahkan dia (iblis) disuruh bersujud kepada Nabi Adam tidak mahu sebab menurut dia, dia lebih dahulu dan lebih tinggi dari Nabi Adam sa. karena dia tercipta dari api. Dengan tidak mahunya iblis bersujud kepada Nabi Adam, diusirlah dia oleh Allah dari surga, dan disuruh menempati neraka selamanya. Iblis mahu menerima itu tapi dia masih meminta tangguh dan dalam penangguhan itu meminta lagi untuk menggoda anak cucu Nabi Adam as. Dan hanya yang ikhlaslah iblis tidak dapat menggoda, sebagaimana firman Allah di surat Al Hijr ayat 30 – 42 : 30.

Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. 31. Kecuali iblis, ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang bersujud itu. 32. Allah berfirman : Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut bersujud) bersama-sama mereka yang bersujud itu? 33. Berkata iblis : Aku sekali-kali akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptaka dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. 
34. Allah berfirman : Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. 35. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. 36. Berkata iblis : Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. 37. Allah berfirman : (kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. 38. Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. 39. Iblis berkata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka. 40. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka. 41. Allah berfirman : Inilah jalan yg lurus, kewajiban Aku lah (menjaganya). 42. Sesungguhnya hamba2Ku tidak ada kuasa kekuasaan bagimu terhadap mereka kecuali org2 yg mengikuti kamu yaitu orang2 yg sesat.

20. Dan Dia pula orang yang mengetam buah dari ilmu yang selama ini dicarinya.  Sabda Rasulullah saw. dari Abu Darda ra. mengatakan: “Barang siapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” Dan para malaikat selalu meletakkan sayapnya untuk menaungi orang-orang yang menuntut ilmu, karena senang dengan apa yang mereka lakukan. Dan bagi orang-orang yang alim, dimintakan ampun untuknya oleh penduduk langit dan bumi serta oleh ikan-ikan yang ada di air. Dan keutamaan orang alim terhadap ahli ibadah (yang tidak memiliki ilmu) adalah bagaikan kelebihan sinar bulan atas bintang-bintang lainnya. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (kekayaan dunia), akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil ilmu itu, berarti ia telah mengambil bagian yang sempurna. (HR. Dawud Tirmidzi). (Pesan2 Rasulullah hal. 167- 168).

21. Segala amal kebajikannya akan dibalas dengan pahala di akhirat.  Sekecil apapun amal kebajikan yang kita kerjakan di dunia, Allah akan membalasnya karena di dunia ini kita diwajibkan menanam amal sebanyak-banyaknya, surat Az Zalzalah ayat 7 menerangkan : “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya”.

22. Sedangkan kehidupan dunianya akan tenteram ditengah2 masyarakat yang merasakan jasanya. Jasa seorang pahlawan dikenang sepanjang masa oleh rakyat.

23. Hai Musa, pelajarilah olehmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu dapat mengetahui segala yang belum kamu ketahui, misalnya masalah2 yg tidak dapat dikatakan atau dijadikan bahan pembicaraan saja. Ilmu yg tidak boleh diterangkan itu ada beberapa macam antara lain penyampaiannya memakai bahasa isyarat, bahasa gerak, bahasa misalan, bahasa kias, dan bahasa simbolis. Ada juga yg memakai bahasa kalbu, ada lagi cara penyampaiannya lewat mimpi dan yg setengah sadar. Menerima pelajaran seperti itu semua mmg tidak dapat dikisahkan kpd org yg belum boleh memahaminya. Mempelajari ilmu yg seperti itu dimulai dgn dzikir kalbu dan menghidupkan perasaan antara lain, perasaan lahiriyah/fisik, perasaan akal/otak, perasaan kalbu/hati, serta menghidupkan perasaan indra2 zahiriyah maupun indra2 batiniyah.

24. Itulah penuntun jalanmu dan org2 akan disejukkan oleh hatimu. Menjadi seorang penuntun yg diawali dari dituntun oleh seorang yang sudah ahlinya. Karena kita ini ditunggu oleh mereka maka persiapkan dirimu untuk mereka. Sebab keberadaan sang penuntun ditengah2 mereka hatinya merasa tentram.

25. Hai Musa putra Imron, jadikanlah pakaianmu bersumber dari dzikir dan fakir serta perbanyaklah amal kebajikan. Pakaian taqwa adalah yang paling baik untuk dipakai, dzikir adalah saranan pokok dalam kekokohan taqwa, buahnya dzikir itu bertafakkur. Ketafakkuran menghasilkan perenungan yang di amalkan dalam keseharian berbakti kepada Allah swt.

26. Suatu hari kamu tidak dapat mengelak dari kesalahan, maka pintalah ridha Allah dengan berbuat kebajikan, karena pada saat-saat tertentu akalmu pasti melanggar larangan Nya.

27. Sekarang telah kupenuhi kehendakmu untuk memberi pesan-pesan kepadamu.

28. Pesananku ini tidak akan sia-sia apabila kamu mahu menurutinya.

Setelah itu Nabi Khidir meninggalkan Nabi Musa yg duduk termenung dlm tangis kesedihan dan kepiluan.

No comments:

Post a Comment