Friday, August 12, 2016

TANDA-TANDA LEMAHNYA YAKIN

“Tanda-tanda bergantung kepada amal, kurangnya pengharapan ketika terjadi lemahnya amal.” Sebagai seorang hamba Allah swt, manusia wajib mengabdi kepada-Nya, kerana untuk itulah ia diciptakan. Pengabdian itu harus dijadikan sebagai landasan segala aktiviti kehidupan di jalan-Nya. Supaya pengabdian itu dapat berjalan dengan baik, maka manusia harus melandasi pengabdiannya dengan 2 Sifat; Pertama Sifat Raja’ atau berharap dan kedua Sifat Khauf atau Takut. 

Allah swt yg mengajarkannya dalam firmanNya: “Khabarkanlah kepada hamba2Ku, bahawa Sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”. (QS. Al-Hijr; 15/49-50). Ayat diatas menyatakan dengan tegas, bahwa kedua sifat tersebut harus diterapkan manusia dlm hidupnya secara seimbang, tidak boleh berat sebelah. Maksudnya manusia tidak boleh menggantungkan harapan dan menyandarkan rasa takut kecuali hanya kepada Allah swt.

Sifat Raja diperlukan agar manusia tidak terjerumus ke dalam lembah putus asa. Kerana sebesar apapun dosa seorang hamba, pengampunan Allah kepada yang dikehenda ki-Nya lebih besar dan lebih luas tak terhingga. Sedangkan dengan Sifat Khauf dimaksudkan agar seorang hamba tidak sewenangnya dan tidak mudah lepas kawalan. 

Sebab, sekecil apapun dosa yg sudah diperbuat, oleh kerana tidak ada seorang pun yang pernah mengadakan perjanjian dengan Allah swt sehingga mendapatkan jaminan dimasukkan ke Syurga, maka tidak ada jaminan bagi seseorang untuk selamat dari dosa yang sudah diperbuatnya. 

Amal Batin Adalah Buah Amal Lahir: Amal ibadah lahir, baik solat, puasa, zakat sedekah, zikir, fikir, mujahadah maupun riyadah, apabila dilaksanakan dengan benar, semata-mata mengharapkan redha Allah, akan membuahkan amal batin yakni ketakwaan di dalam hati dan keyakinan kepada Allah. Jika amaliyah tersebut dapat dilaksanakan secara istiqamah, sehingga iman dan yakin semakin meningkat, maka seorang hamba akan mendapatkan Ma’rifatullah, yakni mengenal kepada Allah swt. 

Yang demikian itu telah disimpulkan Allah dalam suatu ayat tentang “hikmah yang terkandung” dalam perintah ibadah puasa di bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS.Al-Baqoroh(2); 183).

Maksudnya, ibadah puasa, seperti juga ibadah-ibadah yang lainnya, apabila dilaksanakan dengan dasar iman serta semata-mata hanya menjalankan perintah-Nya, akan membentuk manusia menjadi seorang hamba yang bertakwa, artinya ibadah merupakan saranan latihan bagi manusia agar karakternya dapat berubah menjadi lebih baik. Manakala hikmah terbesar “puasa” dapat menjadikan seorang hamba bertakwa kepada Tuhannya, maka dengan ayat ini dapat disimpulkan bahwa amal lahir, apabila dilaksanakan dengan benar dapat membuahkan amal batin yaitu Ma’rifatullah.

Namun demikian, apabila tumbuhnya kekuatan yakin atau Ma’rifat itu selalu berkaitan dgn amalan lahir, dan ketika suatu saat amal lahir itu sedang lemah menjadikan keyakinan atau Ma’rifatnya lemah, sehingga pengharapan kpd Allah menjadi lemah pula, maka melemahnya pengharapan kepada Allah itu merupakan tanda bahwa sesungguhnya orang tersebut hakikatnya belum bertawakkal kepada Allah, melainkan baru bertawakkal kpd amal ibadahnya. 

Akibatnya, ketika ia sedang jauh dari amaliyah yg dijalani itu, ia kembali akan kehilangan kepercayaan diri lagi. Oleh krn itu, hati seorg hamba harus selalu siap menghadapi kepastian takdir-Nya, baik dlm keadaan sedang jalan wiridnya maupun tidak.  Seorang SALIK harus siap di dalam hatinya, bahwa selain yang keluar dari kehendaknya (iradah) sendiri, pasti itu adalah kehendak Tuhannya. 

Untuk itu, apapun bentuknya yang terjadi di dalam realiti dan dari siapa pun datangnya kalau kehendak Tuhan sudah datang di hadapannya, seorg hamba yg berma’rifat akan sanggup menyongsong realiti tersebut dengan hati selamat. Mereka mampu berprasangka baik (husnudh-dhon), walau sedang dihadapkan dgn kematian sekalipun. Jadi, istiqamah itu bukan hanya dlm amal perbuatan lahir dan wirid2 khusus saja, namun juga dan yg utama itu adalah istiqamah hati. Yakni, dlm keadaan yg bagaimanapun, baik sedang wirid maupun tidak, hatinya tetap hanya bersandar kepada Allah. 

Berharap dan takut hanya kpd “pemeliharaan” Sang Pemelihara Alam Semesta. Sesungguhnya org2 yg mengata kan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kpd mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembira lah kamu dgn (memperoleh) Syurga yg telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fush Shilat; 30).

No comments:

Post a Comment