Wednesday, March 16, 2016

CARA MENGHINDARI MAKSIAT

Alkisah. Seorang lelaki mendatangi Ibrahim bin Adham dan berkata: “Wahai Abu Ishak, aku telah melakukan perbuatan maksiat (penyimpangan). Terangkan kepadaku bagaimana caranya agar aku berhenti melakukannya!”

Ibrahim bin Adham bertanya, “Jika engkau menerima dan melakukan 5 perkara berikut ini, maka engkau tak akan terkena bahaya maksiat”. “Apakah 5 perkara itu, wahai Abu Ishak?” tanya lelaki itu.

“Pertama, jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka jangan memakan rezeki-Nya!” “Lalu, darimana aku bisa makan? Bukankah semua yang ada di bumi adalah rezeki-Nya”. “Maka dari itu, layakkah engkau memakan rezeki-Nya, tapi di sisi lain kau bermaksiat kepada-Nya?!!” “Hmmm. Tentu saja tidak. Lalu, apa yang kedua?”

“Kedua, jika kau hendak bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di negeri-Nya!” “Hmmm. Ini lebih sukar daripada yang pertama, wahai Ibrahim bin Adham. Jika penjuru timur dan barat serta yang ada di antara keduanya merupakan milik Allah, dimanakah aku bisa tinggal?!” “Maka, pantaskah engkau memakan rezeki-Nya dan tinggal di negeri-Nya, lalu kau bermaksiat kepada-Nya?” Ibrahim bin Adham balik bertanya. “Hmmm. Tentu saja tidak. Lalu, apa perkara yang ketiga?”

“Ketiga, jika kau ingin bermaksiat, carilah tempat yang tidak terlihat oleh-Nya. Lakukan maksiat di tempat tersebut!” “Wahai Ibrahim bin Adham, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bukankah Dia mengetahui segala yang tersembunyi?!” “Kalau begitu, apakah kau layak memakan rezeki-Nya, tinggal di negeri-Nya, tapi bermaksiat kepada-Nya padahal Dia melihat dan mengetahui apa yang kau lakukan”. “Hmm. Apa yang keempat?”

“Keempat, jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, katakan kepadanya, ‘Tundalah sampai aku bertobat!” “Hahaha. Mana mungkin permintaanku diterima?!” “Wahai fulan, jika kau tak mampu menolak datangnya kematian sebelum bertobat serta sadar bahwa kematian tidak bisa ditunda, bagaimana mungkin kau berharap selamat?” “Hmmm. Apa yang kelima?”

“Jika malaikat Zabaniyyah mendatangimu pada Hari Kiamat untuk menyeretmu ke neraka, maka jangan mau pergi bersamanya!” “Tentu aku tak akan sanggup melakukannya.” “Kalau begitu, bagaimana mungkin kau berharap kesalamatan?!” “Wahai Ibrahim bin Adham, cukup! Cukup! Aku memohon ampun dan bertobat kepada Allah.” (Ibrahim bin Adham dalam Ma’a Allah).

No comments:

Post a Comment