Wednesday, March 16, 2016

TIGA HAL YANG HARUS DIWASPADAI

Rasulullah SAW bersabda: 

وَمَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضِيْقَ المَعَاشِ فَكَأَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخِطًا عَلَى اللهِ وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ

“Bagi siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), maka dia seakan-akan mengeluhkan Rabbnya. Bagi siapa di pagi hari bersedih karena urusan duniawinya, maka pada pagi itu sungguh ia tidak puas dengan ketetapan Allah. Bagi siapa yang menghormati seseorang karena kekayaannya, maka sungguh telah hilang 2/3 dari agamanya.” Melakukan syikayah (pengaduan) atas nasib buruk yang dialami seseorang kepada orang lain termasuk petanda tidak ridho atas bagia yang telah diberikan oleh Allah. Kita tidak boleh melakukan syikayah, kecuali kepada Allah, sebab syikayah kepada Allah termasuk do’a. 

Hal ini sebagaimana disebutkan dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Rasulullah bersabda : 

أَلَا اُعَلِّمُكُمْ الكَلِمَاتِ الَّتِي تَكَلَّمَ بِهَا مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ حِيْنَ جَاوَزَ البَحْرَ مَعَ بَنِى إِسْرَائِيْلَ فَقُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ قُوْلُوْا اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ المُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

“Maukah kalian aku ajarkan doa yang dibaca nabi Musa a.s ketika melewati laut bersama bani Isra’il, kami (para sahabat) menjawab: tentu saja mau ya Rasulullah, beliau bersabda: “Bacalah ‘Allahumma laakal hamdu wa ilaikal musytakaa, wa antal musta’an, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘Azhiim.” (ya Allah , segala puji hanya bagi-Mu, hanya kepada-Mu lah kami mengadu, dan hanya kepada-Mu lah kami meminta I sauda, Tiada daya (untuk menjauhi maksiat) dan tiada kekuatan untuk taat, kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Al-A’masy berkata: “sejak aku mendengar do’a tersebut dari saudara kandungku, Al-Asady Al-Kufy menerima do’a tersebut dari ‘Abdullah ra, maka aku tidak pernah meninggalkannya. Al-A’masy juga berkata: “aku pernah bermimpi didatangi seseorang, dia berkata: “Wahai Sulaiman, tambahkanlah pada do’a tersebut kalimat ini: 

وَنَسْتَعِيْنُكَ عَلَى فَسَادٍ فِيْنَا وَنَسْأَلُكَ صَلَاحَ أَمْرِنَا كَلِّهِ

Dan kami memohon pertolongan kepada-Mu atas segala kerusakan yang pada diri kita dan kami memohon kepada-Mu diberikan kebaikan atas segala urusan kami. Orang yang di pagi hari bersedih karena urusan duniawi dikatakan telah membenci Rabbnya, karena hal ini mencerminkan bahwa dia tidak ridha dengan qadha’ Allah, tidak bersbar atas cobaan-Nya, dan tidak beriman dengan qadar-Nya, padahal semua yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha’ dan qadar Allah.

Seseorang dilarang memuliakan orang lain karena hartanya, karena menurut syari’at, seseorang hanya boleh memuliakan orang lain karena keshalihan dan keilmuannya. Orang yang memulikan harta di atas segala-galanya, itu berarti telah menghina ilmu dan keshalihan.

Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani qaddasallahu sirahu (semoga Allah mensucikan rahasianya) dalam pesannya mengatakan: “Setiap mukmin tidak boleh lepas dari tiga hal berikut:

a. Melaksanakan perintah Allah
b. Menjauhi larangan Allah, dan
c. Menerima qadha’ dan qadar.”

(Dikutip dari Kitab Nasha’ihul ‘Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani).

No comments:

Post a Comment