Monday, April 4, 2016

ILMU MAKRIFAT KUPU-KUPU

Matin sedang mengamati indahnya kupu-kupu cantik yang terbang di bawah Pohon Trembesi (Sor-Baujan). Salik merasa heran dengan tingkah Matin yang lain dari biasanya. Matin tidak memedulikan kehadiran Salik di sampingnya. Lalu, tiba-tiba:
Matin (M): Hidup manusia itu singkat seperti kehidupan kupu-kupu.
S (S): Apa maksudnya?

M: Hmmmm. Singkat seperti hidupnya kupu-kupu. Saya jadi ingat nasihat KH Zezen Bazul Asyhab dari TQN Suryalaya.
S: Apa katanya?
M: Seperti kupu-kupu....Kupu-kupu...hmmm
S: Hello...Assalamualaikum. Apa kabar? Please, jelaskan, apa maksudnya?!
M: Hmmmm

S: Jangan sampai hilang kesabaranku! 
M: Hahaha...Ciye..ciye..ciye marah nih ye? Sabar keleus!!!
S: Makanya, tolong jelaskan!
M: Usia hidup kupu-kupu sangat singkat. Ada yang usianya hanya 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, atau beberapa bulan usianya tergantung jenisnya. Tapi, amat jarang jenis kupu-kupu yang hidup hingga setahun. Kamu ini jenis kupu-kupu yang mana?
S: Nggak tahu?!

M: Sepertinya, kamu masih belum jadi kupu-kupu. Kamu masih seperti ulat bulu. Menempel di daun jadi hama merusak. Menempel pokok dan ranting jadi layu dan keropos. Menempel di buah, jadi busuk. Kesenggol tangan sedikit jadi bikin gatal-gatal. Pokoknya, ulat jadi musuh petani. Musuh anak-anak. Tampak menggelikan dan menjijikan.
S: Kamu menghina gua?
M:Jangan marah dulu! Ini adalah daur hidup. Aku pun sama. Setiap diri manusia pasti mengalami fase itu. Tentu dengan tingkat daya rusak berbeda-beda. Tergantung, kita ini jenis ulat seperti apa...hahaha.
S: Jadi?

M: Ulat ini hewan yang sangat rakus. Bukan hanya tanaman semusim yang dimangsanya,tapi juga pohon buah-buahan. Pohon bisa gundul daunnya karena hama ulat dalam waktu yang singkat. Banyak jenis hama ulat, terutama dari jenis-jenis ngengat yang menjadi hama pertanian yang serius. Kita jenis ulat yang mana?
S: Hmmm
M: Daur hidup kupu-kupu dimulai dari telur. Lalu telur menetas menjadi ulat. Ulat makan selama berhari-hari, lama kelamaan ulat behenti makan, ulat mulai berubah menjadi kepompong.
S: Lama kelamaan persis seperti Guru IPA di SD Impres.
M: Hehehe.
S: Lalu, apa penjelasan KH Zezen? Saya mau dengar!

M: Kita perlu berkhalwat. seperti ulat menjadi kepompong; diam, menyendiri dan bergelantungan. Khalwat zahir dan khalwat batin. Khalwat bisa dilakukan berbarengan secara zahir dan batin, bisa pula dengan batin saja. Kita bisa menyendiri, di tempat sepi, dalam ruangan, di jam-jam tertentu, melakukan zikir jahar dan zikir khafi seperti kepompong. Bisa juga dengan khalwat batin saja, dengan tetap menjalankan aktifitas manusia,. Saat bekerja, belajar, berjalan, berkendara, makan, dan minum bisa sambil berzikir mengingat “Allah..Allah” dalam batin. Agar kita selalu tersambung kepada Allah setiap saat. Kita hanya bergantung pada seutas benang yang selalu tersambung kepada Allah SWT. Hingga kita bermetamorfosa menjadi kupu-kupu.
S: Hmmmm

M: Kita harus bermetamorfosa seperti kupu-kupu. Menjadi kupu-kupu dengan dua sayap yang indah dan mempesona mata yang memandang. Terbang ke atas menuju kepada Zat Yang Maha Indah. Dua sayap itu seperti ilmu zahir dan ilmu batin. Sesuatu yang indah itu simetris, kedua sisinya sama-sama indah dalam satu bentuk. Seperti kedua sisi syariat dan hakikat. Harus seimbang dunia dan ukhrawi. 
S: Hmmm
M: Manusia tidak bisa terbang menuju kepada Allah hanya dengan satu sayap. Kita tidak bisa terbang atau bermakrifat hanya dengan jalan syariat tanpa pemahaman dan kesadaran hakikat. Berzikir kepada Allah itu tak ubahnya seperti terbang. Dan, kalbu kita sebagai pilotnya, sebagai pemimpin yang mengendalikan seluruh mesin tubuh ini.

S: Lalu, terbang kemana?
M: Terbang menuju kepada Allah; jalan kembali semua makhluk. Maka, kita perlu route, harus tahu jalur atau jalan yang dituju. Karena itu, kita memerlukan “route” Tarekat. Sebab, di depan ada alam-alam yang akan kita lalui, yakni alam mulki, malakut, jabarut dan lahut.
S: Subhanallah.
M: Laa ilaha illa Allah. Laa ilaha illa Allah. Laa ilaha illa Allah. Laa ilaha illa Allah. Laa ilaha illa Allah. Laa ilaha illa Allah.

No comments:

Post a Comment