Monday, April 4, 2016

KEDAHSYATAN SHALAWAT NARIYAH

Suatu malam, saya dikejutkan dengan suara telpon dengan berita yang sangat mengagetkan. Seorang sahabat lama mengadukan tentang masalah yang sedang dihadapinya. Ingin rasanya segera menghentikan pembicaraannya, karena saya ikut merasakan deritanya yang begitu dahsyat. Sebagai sahabat yang baik, saya harus menjadi pendengar yang baik pula. Dia bukanlah seorang yang buta dalam masalah agama. Pendidikannya pun cukup tinggi. Bahkan, ekonomi keluarganya dahulu, jauh di atas rata-rata teman SMA kami. Namun, takdir membawanya lain. Allahlah yang telah menentukan urut takdir bagi setiap hamba-Nya. 

Sebut saja, nama sahabatku ini adalah Karim. Seorang yang berumur 40-an tahun, memiliki seorang istri dan 3 orang anak. Usahanya bangkrut sejak 2 tahun lalu. Istrinya meninggal dunia karena kanker payudara. Sedangkan, anak lelaki terakhirnya, meninggal dunia dalam pelukannya di atas motor dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Kini, dia tinggal di daerah padat penduduk di bilangan Jakarta Timur. Dia menyewa rumah petakan di dekat pasar Prumpum, di dekat pekuburan, di tepi sebuah sungai yang kumuh.

“Saya sedang galau. Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku,” katanya sambil mengakhiri ceritanya. “Kembali kasih,” jawabku sambil tertawa. “Bolehkah aku dapat satu ijazah darimu, sahabat?” tanyanya. “Ijazah apa? Ijazah S 1 atau S 2? Nanti saya fotokopi,” candaku. Sebab, setahuku dia adalah orang yang anti tawassul, shalawat, dan wirid, apalagi tahlil. Jadi, saya tidak akan mudah terjebak pada caranya meminta. Dulu dia aktif dalam kegiatan organisasi sosial keagamaan yang konon modern dan selalu menyerukan jargon “Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.” “Bukan itu. Ijazah wirid, apa saja. Biar saya tenang dan cepat beres masalah saya,” jawabnya serius.

“Ahh… Jangan minta sama saya. Datang saja ke Kyai.” “Sudahlah. Kasih saja. Wirid apa saja. Saya percaya sama kamu. Kita tidak perlu berdebat seperti dulu. Atau beri saja shalawat yang paling ampuh.” “Hmmm… Apa ya?” “Saya sedang galau. Tolong saya. Saya dikejar-kejar rentenir. Saya bisa diusir dari kontrakan. Anak saya bisa nggak makan. Pikiran saya buntu.” “Baiklah. Tapi, kamu harus amalkan secara teratur. Jangan putus kewajiban syariat yang lain.” “Siap.”

“Baca Shalawat Nariyah setelah shalat fardu.” “Koq shalawat Nariyah? Nggak ada shalawat yang lain? Harus berapa kali bacanya?” tanyanya. “Mau nggak? Koq, sudah dikasih malah ngeyel?!” “Ok. Mau. Tapi, berapa kali?” tanya Karim. “Karena kamu tanya berapa kali, saya minta kamu baca 4444 kali.” “Hmmm. Berarti lama banget. Nggak akan bisa sehari semalam. Apa boleh kurangi? Berat sekali, Mas.” “Begini saja. Coba, kamu baca Shalawat Nariyah setiap habis shalat fardhu 21 kali. Bisa nggak?” Sengaja menantang keseriusannya. “Oh kalau itu bisa Insya Allah. Tapi, sampai berapa kali?” tanya Karim.

“Kalau kamu baca rutin, tiap habis shalat, mestinya sampai 40 hari pun bisa lebih dari 4000. Tapi, kalau nanti kamu mau lebihkan jumlahnya juga nggak apa-apa. Jangan terjebak pada hitungan. Karena intinya adalah kesadaran dirimu untuk bershalawat kepada Nabi, menyadari kelemahan dan kehinaanmu, serta bermunajat kepada Allah melalui tawassul kepada Nabi. Nikmati saja gerak batinmu. Serahkan semua beban masalahmu kepada Allah, sambil tetap terus berusaha mencari rezeki yang halal. Gempur terus dengan zikir, istighfar sebanyak-banyaknya. Minta ampunan Allah setiap saat. Nggak perlu pakai hitungan,” kataku.

Karim pun menutup telepon selularnya malam itu. Saya tidak tahu apakah dia langsung memulai membaca shalawat Nariyah malam itu juga, atau langsung tidur. Sedangkan saya sendiri, tak bisa tidur memikirkan beban derita yang baru diceritakannya itu. Karena tak mampu membantu masalah keuangan yang sedang dihadapi Karim, akhirnya saya segera mengambil air wudhu dan memulai berdoa dan membaca Shalawat Nariyah khusus untuk mendoakan sahabatku, Karim. Hingga subuh menjelang saya baru menghentikannya.

Esok harinya, Karim menelpon lagi dan mengabarkan bahwa dirinya sudah mulai mengamalkan bacaan Shalawat Nariyah. Namun, saya tak bertanya berapa kali dia membaca. Saya pun tak bercerita bahwa saya ikut mendoakan dan bershalawat seperti yang dia amalkan. Malam itu, Karim bercerita tentang sewa kontrakan yang sudah menunggak 3 bulan, SPP anak yang sudah telat, dan hutang di warung yang kian menumpuk. Seperti malam berikutnya, saya hanya menyarankan, “Jangan berhenti bacaan Shalawat Nariyahmu.  Pahami, hayati dengan kesadaran batinmu. Jangan terjebak pada angka.” Tujuh hari berikutnya, Karim kembali menelpon sambil menangis, “Terima kasih, “ katanya terbata-bata. 

“Terima kasih…” dia tak mampu meneruskan pembicaraannya. Saya cukup lama menunggu kata-katanya yang lain. Namun, isak tangisnya semakin deras. “Ada apa. Ceritakan saja. Kamu harus tahadduts bi-nikmah,” kataku. “Tahadduts bi-ni’mah itu apa?” tanyanya menghentikan tangisan. “Artinya berbagi cerita tentang nikmat Allah,” jawabku singkat. “Alhamdulillah. Sejak menelpon kamu 7 hari lalu, saya sudah mengamalkan Shalawat Nariyah. Mungkin sudah lebih dari 4444 kali. Tiap malam saya banyak membaca shalawat. Ada ketenangan luar biasa dalam batin saya. Ternyata, saya ini sudah sering mendzalimi diri sendiri, saya banyak dosa, tapi sebenarnya Allah itu sayang banget sama saya,” ungkapnya. “Alhamdulillah. Terus?”

“Tiga hari ini, saya merasakan shalat khusyuk yang luar biasa. Jiwa saya tenang. Seolah-olah Rasulullah ikut merasakan penderitaan saya. Seolah saya tidak sendiri. Bahkan, kemarin malam, saya sempat mimpi bertemu Nabi, dalam satu halaqah bersama sahabat yang lain,” ungkapnya lagi. “Alhamdulillah. Terus?” “Alhamdulillah, saya dapat orderan gede. Saya dipercaya masok telor dari Jawa ke Jakarta. Bantu kawan. Saya kerja jadi tenang banget. Tidak merasa takut dan bingung saat ditagih utang sewa rumah. Saya datangi pemiliknya dan ceritakan masalahnya, ternyata saya nggak jadi diusir. Dia malah kasih saya kerjaan.” “Alhamdulillah. Terus?”

“Terima kasih banget. Ternyata, efek bacaan Shalawat Nariyah itu bisa langsung saya rasakan. Karena, terus menerus saya membaca shalawat, batin saya tenang, akal saya jadi sehat, ada saja ide dan keberanian. Seolah-olah saya seperti habis minum obat manjur. Ibadah jadi semangat, kerja juga jadi semangat,” tuturnya berapi-api. “Alhamdulillah. Teruskan bacaannya, jangan terputus. Kamu harus istiqamah. Anggap saja shalawat ini sebagai bahan bakar ruhanimu yang dapat menggerakkan gerak jiwa dan ragamu menuju kepada keridhaan Allah. Jadikan ia sebagai pembuka pintu makrifat, sekaligus pintu bagi rezekimu.” “Iya sekali lagi, terima kasih. Saya baru menyadarinya. Sungguh dahsyat.”

"Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab Beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan mendapat semua yang didambakan, serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujan pun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

No comments:

Post a Comment