Saturday, March 12, 2016

MERASAKAN KEHADIRAN ALLAH

Salik dan Matin setiap hari sibuk beribadah. Shalat dan zikir selalu menghiasi kesadaran ruhani mereka. Ketika bekerja, mengajar, belajar, beristirahat, dan dalam keadaan apapun mereka selalu berzikir. Keduanya juga selalu sibuk dengan amalan sunah di malam hari. Namun, karena rasa ingin tahu yang besar, Salik mendatangi Matin di Sor Baujan (di bawah Pohon Trembesi) seperti biasa.

Salik (S): Bro, saya bingung dengan perasaan saya?
Matin (M): Hahaha. Galau?! Kayak ABG saja?
S: Saya serius...Saya sedang galau.
M: Galau kenapa? Putus cinta? Nggak punya uang?
S: Bukan itu! Tapi, bingung, sebenarnya bagaimana merasakan kehadiran Allah dalam diri?

M: Memang kamu belum pernah merasakan?
S: Saya khawatir, saya hanya GR doang...Takut hanya perasaan saya saja.
M: Hahaha...Itu lebih baik. Daripada nggak GR sama sekali.
S: Apa perasaan hati ini benar? Apa getar hati dan pikiran saya saat zikir atau shalat itu sudah benar?
M: Memang apa yang kau rasakan, Sobat?

S: Selama ini saya sudah ikut tarekat. Sering zikir jahr dan khafi. Saya jalani saja sesuai perintah guru. Saya merasakan kedamaian dan ketentraman. Ibadah saya semakin rajin. Tapi, akhir-akhir ini, saya sering merasakan sesuatu saat zikir “Allah..Allah” dalam hati.
M: Wah...itu sudah bagus Bro. Coba ceritakan apa yang kamu rasakan?
S: Selama ini, saya sering berzikir dalam hati setiap kali mengiringi keluar-masuknya nafas. Saya selalu membarengi nafas dengan menyebut “Allah...Allah,” ketika duduk, berdiri, berjalan, bekerja, pokoknya setiap saat.
M: Itu sudah benar, apa masalahmu?

S: Tiba-tiba saya merasakan ada sesuatu yang lain dalam diri saya. Saya seolah merasakan kehadiran Allah dalam diri ini, ada sesuatu kekuatan di luar diri saya yang mengendalikan. Diri saya ini seolah tidak ada, hilang begitu saja. Tubuh ini bergerak, bicara dan diam karena ada kekuatan lain yang menggerakkan. Saya bingung, ini perasaan apa? Saya berusaha mengelakkan perasaan ini dan segera menghentikan zikir.
M: Hmmmm. Memang ada sesuatu selain Allah, yang tidak dikendalikan oleh Allah? Memang ada, segala sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya? Kamu sebenarnya sedang belajar tentang hakikat dirimu.

S: Maksudmu? Zikir saya sudah benar? Sesuai ajaran Islam? Sudah ada yang mencontohkan?
M: Benar! Itu zikir yang biasa diajarkan di sejumlah tarekat.
S: Maaf, selama ini saya jarang baca buku. Untuk mendengarkan nasihat guru sufi kadang malas-malasan. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
M: Hmmm. Buktinya, kamu mengikutinya.

S: Mengikuti apa?
M: Zikirmu itu dalam tarekat Naqsyabandi disebut Huwasy Dardam.
S: Huwasy Dardam? Apa itu?
M: Saya tidak tahu, ini bahasa Persia atau India atau Eropa Timur. Ini istilah dalam tarekat Naqsyabandi untuk menyebut zikir dalam tarikan nafas. Uwais Al-Qarni pun melakukan itu. Abu Bakar As-Siddiq pun melakukan hal itu.

S: Lalu, perasaan saya itu bagaimana?
M: Benar. Kamu berarti telah melakukan pemeliharaan zikir dengan keluar masuknya nafas, agar kalbumu tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap merasakan kehadiran Allah pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Ketika kau menarikkan dan menghembuskan nafas, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam kalbumu. Hanya ingat kepada Allah, ini adalah jalan untuk memudahkan dekat kepada Allah SWT.

S: Apakah perasaan saya bukan halusinasi?
M: Bukan! Itu bukan halusinasi!
S: Lalu, apa namanya?
M: Itu nyata Bro! Zikir itu untuk mencapai kesadaran akan kehadiran Allah dalam diri. Dengan kesadaran akalmu, kau harus yakin seyakinnya bahwa Allah meliputi semua makhluk-Nya, lebih dekat dari urat nadimu. Zikir itu untuk mencapai kesadaran itu, baik dalam gerak, diam, sendiri atau dalam keadaan banyak orang. Nah, kamu sudah merasakannya. Jaga itu sebagai kesadaran batinmu! Kesadaran akal dan pikiranmu!

S: Tapi, bagaimana agar saya merasakannya setiap saat?
M: Zikir itu untuk menghidupkan kesadaran. Kalau kau mabuk, tidak ingat apa-apa itu justru masalah!
S: Iya, tapi bagaimana?
M: Ini salah satu tahapan yang harus dilalui bagi salik. Kesadaran batinmu itu harus tetap dijaga hingga membuahkan akhlakul karimah. Dalam setiap keadaan, jiwamu harus terus terikat, tersambung dengan-Nya; merasakan kehadiran Allah dalam diri. Hingga semua prilaku, pikiran dan perasaan tetap ditujukan kepada Allah. Lalu, menghasilkan amal shaleh. Bukan hanya GR, lalu asyik dengan fenomena gaib tapi tidak berimplikasi pada akhlak.
S: Ohhhh.

M: Jika kau hanya terjebak pada fenomena gaib saja, tetapi menghilangkan kesadaranmu sebagai hamba, lupa amanah sebagai khalifah di dunia, lupa tugas dan kewajiban sebagai suami, ayah, dan pemimpin umat, maka itu bermasalah! Berarti fenomena zikirmu hanya menjadi halusinasi semata. Zikir itu untuk mencapai kesadaran Ilahi dalam kehidupan.
S: Hmmmm. Terima kasih sobat!

No comments:

Post a Comment