Thursday, June 30, 2016

AKU MENCINTAIMU

MAWLANA SYEIKH NAZIM AL HAQQANI: WAHAI TUHANKU, AKU MENCINTAIMU

Setiap kali kalian berkata, "Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu," itu adalah sesuatu yang sangat indah dari seorang hamba kepada Allah. "Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu." Ketika kalian tengah sendiri, katakan, "Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu."

Katakan tiga kali, "Aku mencintai-Mu." Dengan begitu tidak ada lagi orang yang akan mengalami depresi. Mandilah di malam hari dan kenakan busana yang baik lalu duduklah di sebuah tempat yang kosong, lalu katakan, "Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu." Kalian akan melihat depresi itu akan menghilang dalam tiga malam.

Tidak perlu menggunakan tablet atau obat, tidak perlu. Obat-obatan, untuk siapa? Untuk mereka yang sedang depresi. Depresi adalah hukuman dari Allah (swt) karena hamba-hamba itu tidak memberikan cintanya kepada Tuhan mereka, itu adalah sebuah hukuman. Allah (swt) memberi segala sesuatu tetapi mereka tidak memberi cinta kepada Tuhan mereka. Dia tidak meminta makanan atau minuman atau busana yang bagus kepada kalian; Dia hanya meminta cinta dari kalian. Sultanul Awliya Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil an Naqshbandi.

HANYA BERHARAP PADA TUHAN

Suatu saat Syaikh Khafif (ra) pergi menunaikan haji dengan hanya membawa sebuah ember dan seutas tali untuk menimba air minumnya. Di tengah perjalanan, ia melihat beberapa ekor kijang sedang berdiri di tepian sumur, sedang meminum air dari sumur itu. Ketika Syaikh Khafif (ra) mendekati sumur, kijang-kijang itu pun berlari menjauh dan permukaan air sumur mendadak turun. Dengan sekuat tenaga Syaikh Khafif (ra) berusaha, ia tak juga dapat menimba air sumur itu. ia berdoa kepada Tuhan untuk menaikkan kembali permukaan air sumur itu seperti yang telah Tuhan lakukan untuk para kijang. Lalu Suara Yang Agung menjawab, Kami tak dapat mengabulkan doamu; karena kau lebih bergantung kepada ember dan talimu daripada kepada Kami. Ketika itu juga, Syaikh Khafif (ra) membuang ember dan tali yang dibawanya dan permukaan air sumur pun langsung naik kembali. Segera Syaikh Khafif (ra) menghapus rasa dahaganya. Sepulang dari haji, Syaikh Khafif (ra) menceritakan pengalamannya kepada Syaikh Junaid Al-Baghdadi (ra). Syaikh Junaid Al-Baghdadi (ra) berkata, Tuhan telah menguji ketergantunganmu kepadaNya. Jika saja kau menunggu sedikit lagi, air sumur itu akan meluap ke luar.

AKHLAK PARA WALI: 20 TAHUN PURA-PURA BUTA

Suatu hari menikahlah seorang pemuda. Ketika berduaan dengan isterinya, barulah ia mengetahui bahwa kulit tubuh isterinya penuh dengan bekas luka sakit cacar. Seketika ia berkata pada isterinya. “Sesungguhnya aku buta, aku tidak dapat melihat”. Menyadari suaminya buta, sang isteri pun percaya diri untuk melayani suaminya, sehingga ia dapat berhubungan malam pengantinnya tanpa perasaan malu.

Setelah 20 tahun sang pemuda berpura-pura buta kepada semua orang. 20 tahun kemudian, sang isteri meninggal dunia. Sang Suami pun dapat melihat seperti sedia kala. Saat ditanya, bagaimana ia dapat sembuh dari kebutaannya? sang suami menjawab: 'Sesungguhnya selama ini aku tidak pernah buta, aku hanya berpura-pura buta agar isteriku tidak merasa malu dan sedih”. 

Perhatikan akhlak sang suami di atas, demi menjaga perasaan isterinya, dia rela berpura-pura buta kepada semua orang selama 20 tahun. Sebuah pengorbanan yang luar biasa. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. 'Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya (isterinya) dan di antara kalian semua akulah yang terbaik kepada keluargaku (isteriku). (HR. Tirmidzi) (Dikisahkan oleh Habib Naufal bin Muhammad Al-Aidarus)

No comments:

Post a Comment