Thursday, June 2, 2016

SEBENAR-BENAR MENGENAL DIRI

Rasulullah SAW bersabda: “ZAHIRU RABBI WAL BatinU ABDUHU” . Yang artinya : Zahir Tuhan itu ada pada Batin HambaNYA, yakni pada Ilmu Hakikat. Pada Ilmu Hakikat inilah yang sebenarnya untuk meng-Esakan Allah. Dengan adanya keterangan tersebut di atas, maka Kenalilah Diri agar sempurna untuk mengenal Allah SWT. Allah SWT berfirman: “KHALAKAL INSANA MINTIY”. Yang artinya: Aku jadikan insan Adam dari tanah, dan tanah itu dari Air, Airpun dijadikan dari Nur Muhammad, maka Roh dan Tubuh tersebut bernama NUR MUHAMMAD. 

Pada Roh dan Tubuh inilah segala kaidah, yang Insya Allah kita akan melihat kesempurnaan Zat Wajibal Wujud, karena tubuh kita yang kasar ini tidak dapat mengenal Allah, sebab Fana. Siapa yang dapat mengenal atau meresapkan Nur Muhammad SAW berarti ia mengenal atau meresapkan Tuhannya, karena itu adalah kenyataan dari Wujud Allah yang kita miliki, seperti penglihatan, pendengaran dan sebagainya yang berasal dari pada NUR.

Firman Allah Ta’ala: “KADJA AKUM MINALLLAHINNURI” Yang artinya Segala sesuatu/ apa saja yang menimpa kamu adalah daripada Allah yaitu Nur. Firman Allah Ta’ala: “KAD JA AKUMUL KAKKUMIR RABBIKUM” . Yang artinya Segala sesuatu/ apa saja dari masing-masing kamu adalah hak daripada Tuhan dari NUR kepada NUR.  Di sinilah sampai pelajaran segala Ilmu dari Aulia dan Ambiya asalnya mengenal Allah.  Demikian pula pendapat Arifbillah serta kelakuannya karena ia mengenal Diri-NYA berasal dari kejadian NUR.

Firman Allah Ta’ala dalam Hadist Qudsi: “KHALA ILA JALI WAKHALAKHUL ASY YA ILA JALIK” . Yang artinya “Aku jadikan kamu karena Aku, dan Aku jadikan Alam semesta karena Engkau Ya Muhammad.” Rasulullah SAW bersabda: “ANA MINALLAHI WALMU’MINUNKAMINNI” Yang artinya “Aku dari Allah, dan segala Mu’min dari Aku”. Maka dari itu, berpeganglah kepada NUR MUHAMMAD, baik sewaktu beribadat maupun di luar dari beribadat. Syeikh ABDUR RAUB berkata: “Yang sebenar diri adalah Nyawa, yang sebenarnya Nyawa adalah Nur Muhammad atau Sifat, yang sebenarnya Sifat adalah Zat Hayyun akan tetapi La Gairi (tidak lain)".

Sebagian pendapat dari Alim Ulama adalah bahwa yang sebenarnya Diri adalah Roh, Tatkala masuk pada Diri atau Tubuh bernama Nyawa,  Tatkala keluar masuk, bernama Nafas, Bila inginkan sesuatu, bernama Nafsu,  Dan apabila dapat memiliki sesuatu barang bernama Ikhtiar, Dan bila dapat membuat sesuatu barang bernama Akal atau Ilmu.  Inilah yang sebenarnya Diri. Karena pada diri inilah zahirnya Tuhan.

Mengenal diri ada terbagi 3 (tiga) bagian :

- Harus mengetahui asal diri (seperti tersebut diatas).
- Matikanlah diri/tubuh kita yang ada ini (mati Ma’nawiyah).
- Setelah Fana diri di dalam diri, Uludiyah Allah Ta’ala dalam Ilmu Allah Ta’ala yang Qadim adanya.

Allah SWT berfirman dalam Hadist Qudsi: “MAUTU ANTAL KABLAL MAUTU”  Yang artinya Matikanlah dirimu sebelum kamu mati (mati yang sebenarnya).

Mematikan Diri adalah sebagai berikut: “LAA QADIRUN, WALA MURIDUN, WALA ‘ALIMUN, WALA HAYYUN, WALA SAMI’UN, WALA BASIRUN, WALA MUTAKALLIMUN”. 

Yang Artinya :
- Tidak ada berkuasa ;
- Tidak ada berkehendak ;
- Tidak ada kita tahu ;
- Tidak ada kita hidup ;
- Tidak mendengar ;
- Tidak melihat ;
- Tidak berkata-kata.

Kesemuanya itu hanya Allah, tetapi setelah Fananya seluruh diri/tubuh kita di dalam “UHUDIAH ALLAH" dengan Ilmu Allah yang Qadim.  Dan ketahuilah Sir/Rahasia Allah yang ada dalam Diri/Tubuh kita.. Jika kita tidak mengetahui, maka kita selalu bergelimang Dosa.

Nabi SAW bersabda: “WUJUDUKA ZAMBUN LAA YUGA SIBAHU ZAMBUN” Yang artinya : Bermula dari Adam itu dosa yang amat besar, maka tiap-tiap diri/tubuh yang berdosa itu tidaklah sempurna untuk mengenal Allah, walau bagaimanapun berbaktinya tetap tidak sempurna untuk mengenal Allah, karena berbakti itu adalah seumpama diri/tubuh dengan Roh, maka dari itu ketahuilah Sir Allah yang sebenarnya di dalam Rahasia yang ada.  Allah berfirman dalam Hadist Qudsi: “AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRAHU” Yang artinya Insan itu adalah RahasiaKu dan Akupun RahasiaNya. 

Allah berfirman dalam Hadist Qudsi: “AL INSANU SIRRI WASIARI SIFATI WASIFATI LA GAIRI” . Yang artinya “Insan itu adalah RahasiaKU, RahasiaKu itu adalah SifatKU, SifatKU itu tidak lain dari padaKU. GHAUSUL ‘AZAM berkata: “JISMUL INSANU WANAFSAHU WAKABLAHU WARUHUHU WABASARAHU WA ASNA NURU WAYAZRUHU WARIJLUHU WAKULLU ZALIKA AZHIRTULAHU BINAFSIHI LINAFSI ILA HUWA ILLA ANA GHAIRUH ”  Yang artinya : Diri atau tubuh manusia, hatinya dan pendengarannya, penglihatannya, serta tangan dan kakinya, kesemuanya itu adalah kenyataan bagi DiriKU, tetapi bukan ‘Ainnya dan bukan pula lainnya. Allah itu tidak lain dari Insan, sebab kita ini adalah Hak Allah dan tidak terpisah dari segala kelakuanNYA atau Af’alNYA.

Allah berfirman: “WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUN”. Yang artinya : Ada Tuhan kamu pada diri kamu, mengapa tidak kamu lihat akan AKU, kata Allah, padahal Aku lebih dekat dari matamu yang putih dengan yang hitamnya, dan lebih dekat lagi Aku dengan kamu.

Nabi SAW bersabda: “MAN NAJARA ILA SYAI’AN WALAM YARALLAHUFIHI FAHUWA HATIL”  Yang artinya : Siapa yang melihat pada sesuatu, tidak dilihatnya Allah didalamnya, maka penglihatannya itu batal dan sia-sia belaka. ABU BAKAR SIDDIK R.A berkata: “MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAH HAKABLAHU” artinya "Tidak Aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu”. USMAN IBNU AFFAN berkata: “MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AIRULLAHA” artinya “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah sesertanya”. UMAR IBNU KHATTAB berkata: “MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAHA BADAHU” artinya Tidak aku lihat sesuatu, hanya aku lihat Allah Ta’ala kemudiannya.

ALI BIN ABI TALIB berkata: “MAA RAITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAHA FIHI” artinya “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya”. Itulah isyarat ayat Al Qur’an: “WAKULIL HAMDULILLAH SAYURIIKUM AAYAA TIHI FA’A HIRU NAHA” . Yang artinya : Dan ucapkanlah puji bagi Allah karena sangat nampak bagi kamu pada wujud diri kamu itu sendiri, akan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala, supaya kamu dapat mengenalnya. Demikianlah apa yang dikatakan oleh para sahabat Nabi tersebut di atas, maka pelajarilah ilmu ini bersama guru sebagaimana mestinya, sebab Allah tidak bersatu dan tidak berpisah/ tidak bercerai dengan sesuatu apapun juga.  Inilah jalannya untuk mengenal Allah yang hidup kekal dan abadi yang tidak pernah kita lupakan setiap saat dan waktu maupun di dalam tidur.

No comments:

Post a Comment