Saturday, January 24, 2015

KELUAR 3 HARI DI JALAN ALLAH, PAHALANYA SAMA DENGAN 30 HARI

Mengasingkan diri keluar dijln Allah selama tiga hari dgn membersihkan diri dari fakir dunia. Meninggalkan percakapan dunia dan menyibukkan diri dgn amalan dakwah, beribadah, belajar dan mengajar dan duduk dlm suasana agama sudah pasti akan memberi kesan didlm hati sanubari seseorg itu. “Brg siapa membawa amal yg baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yg membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al An'aam 160). Inilah dasar Keluar 3 hari Dijalan Allah, Pahala nya sama dengan 30 hari. Apabila dalam setahun penuh, pada setiap bulannya keluar dijalan Allah tiga hari saja, maka dalam setahun akan dihitung selamanya keluar di jalan Allah, kita sempurnakan takaza didlm negeri sendiri dan senantiasa mengerjakan terus menerus dengan istiqamah. (Sawanikh Hadhratji, hal 772). 

Pada ayat ini diterangkan dengan jelas bahwa barang siapa berbuat amal baik, maka Allah akan memberikan pahala balasannya di hari akhirat dengan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan hanya dibalas setimpal dgn kejahatannya, sebab Allah tidak akan menganiaya sedikit pun atau merugikan mrk. Yang dimaksud dgn org yg beramal baik di sini ialah org2 mukmin karena amal baik org kafir sebelum masuk Islam tidak akan bermanfaat bagi mereka di akhirat, seperti yg diterangkan di dlm firman Allah: “Itulah petunjuk Allah yg dgnnya Dia memberi petunjuk kepada siapa yg dikehendaki Nya di antara hamba2Nya. Seandainya mrk mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yg telah mereka kerjakan.” (QS. Al An'am 88)

Dan yang dimaksud dgn balasan sepuluh kali lipat di sini belum termasuk apa yg dijanjikan Allah dgn balasan yg jauh lebih banyak dan berlipatganda dari itu lagi kpd org2 yg membelanjakan hartanya di jln Allah sampai 700 kali spt disebutkan dlm firman Allah atau hadis qudsi: Artinya: “Jika kamu meminjamkan kpa Allah pinjaman yg baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasan semuanya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun.” (QS. At Taghabun 17). Di dlm hadis Nabi Muhammad saw. banyak dijumpai ttg balasan amal baik dan amal jahat sehingga diterangkan juga pahala balasan terhadap org2 yg belum mengerjakannya hanya sekadar niat dan putusan atau ketetapan hatinya. 

Hal ini tersebut dlm sebuah hadis qudsi yg diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah yg menceritakan dgn terjemahannya sbg berikut: “Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman kpd malaikatnya, "Apabila hambaKu hendak mengerjakan sesuatu pekerjaan jahat, jgnlah dituliskan (jgn dicatat) sbg suatu kesalahan sebelum dikerjakannya dan apabila dikerjakannya, catatlah baginya satu kesalahan (kejahatan) dan jika ditinggalkannya (tidak jadi diperbuatnya) karena Aku (karena Allah), maka tulislah baginya satu kebaikan dan apabila ia hendak mengerjakan kebaikan dan tidak dikerjakannya, maka tulislah baginya satu pahala kebaikan dan apabila dikerjakannya, maka tulislah sampai 700 kali lipat pahala kebaikan baginya."

“Perumpamaan (nafkah yg dikeluarkan oleh) org2 yg menafkahkan hartanya di jln Allah adalah serupa dgn sebutir benih yg menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap2 bulir: 100 biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yg Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al Baqarah 261). Dlm ayat ini Allah swt. menggambarkan keberuntungan org yg suka membelanjakan atau menyumbangkan harta bendanya di jln Allah, yaitu utk mencapai keridaanNya. Hubungan antara infak dan hari akhirat adalah erat sekali karena sebagaimana diketahui, seseorg tak akan mendpt pertolongan apa pun dan dari siapa pun pada hari akhirat itu, kecuali dari hasil amalnya sendiri selagi ia masih di dunia, antara lain amalnya yg berupa infak di jln Allah. Betapa mujurnya org yg suka menafkahkan hartanya di jln Allah oleh ayat ini dilukiskan sbg berikut: bahwa org tersebut adalah spt seorg yg menyemaikan sebutir benih di tanah yg subur. Benih yg sebutir itu menumbuhkan sebatang pohon dan pohon itu bercabang tujuh, setiap cabang menghasilkan setangkai buah dan setiap tangkai berisi seratus biji sehingga benih yg sebutir itu memberikan hasil sebanyak 700 butir. Ini berarti 700 kali lipat.

Bayangkanlah betapa bnyk hasilnya apabila benih yang ditanamnya itu lebih dari sebutir. Penggambaran seperti yang terdapat dalam ayat ini adalah lebih jitu dpd misalnya dikatakan secara langsung bahwa benih yang sebutir akan menghasilkan 700 buah. Sebab penggambaran yg terdapat dalam ayat tadi memberikan kesan bahwa amal2 kebaikan yg dilakukan oleh seseorg senantiasa berkembang dan ditumbuhkan oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga menjadi keuntungan yg berlipat ganda bagi orang yang melakukannnya seperti memperkembangkan tanaman yang ditanam oleh seseorang pada tanah yang subur untuk keuntungan penanamnya. Pengungkapan tentang perkembangan yang terjadi pada tumbuh2an seperti yang digambarkan dalam ayat ini telah membangkitkan minat para ahli tumbuh2an untuk mengadakan penelitian dalam masalah itu. 

Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa sebutir benih yg ditanam pada tanah yg baik dan menumbuhkan sebatang pohon, pada umumnya menghasilkan lebih dari setangkai buah bahkan ada yang berjumlah lebih dari lima puluh tangkai. Jadi tidak hanya setangkai saja. Dan setiap tangkai berisi lebih dari satu biji bahkan kadang2 lebih dari enam puluh biji. Dgn demikian teranglah bahwa penggambaran yg diberikan ayat tadi bahwa sebutir benih dilipatgandakan hasilnya sampai menjadi tujuh ratus butir bukanlah suatu penggambaran yang berlebih-lebihan melainkan adalah wajar dan sesuai dengan kenyataan. 

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa semakin banyak penyeledikan2 ilmiah dilakukan orang dan semakin tinggi pengetahuan dan tekhnologi umat manusia semakin tersingkaplah kebenaran apa2 yang terkandung dalam kitab suci Alquran baik mengenai benda2, tumbuh2an, hewan, ruang angkasa dan sebagainya. Banyak riwayat yang berasal dari Rasulullah saw. yang menggambarkan keberuntungan org2 yang menafkahkan harta bendanya di jalan Allah; yaitu untuk memperoleh keridaanNya dan utk menjunjung tinggi agamaNya. Di antaranya ialah hadis yg diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Nasai dan Hakim dari Ibnu Masud bahwa ia berkata, "Seorang lelaki telah datang membawa seekor unta yang bertali di hidungnya lalu orang tersebut berkata: "Unta ini saya nafkahkan jalan Allah." Maka Rasulullah bersabda: "Dengan nafkah ini, anda akan memperoleh di akhirat kelak tujuh ratus ekor unta yang juga bertali di hidungnya.”

Pada akhir ayat ini Allah swt. menyebutkan dua sifat di antara sifat2Nya, yaitu Maha Luas dan Maha Mengetahui. Maksudnya, Allah Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-Nya, karunia-Nya tak terhitung jumlahnya. Dan Maha Mengetahui siapakah di antara hamba2Nya yang patut diberi pahala yang berlipat-ganda, yaitu mereka yang suka menafkahkan harta bendanya utk kepentingan umum, untuk menegakkan kebenaran, dan untuk kepentingan pendidikan bangsa dan agama, serta keutamaan2 yg akan membawa bangsa itu kepada kebahagiaan di dunia dan di akhir. 

Apabila nafkah2 semacam itu telah menampakkan hasilnya untuk kekuatan agama dan kebahagiaan bangsa, maka org2 yang bernafkah itu pun akan dapat pula menikmatinya. Ajaran2 Islam mengenai infak sangat tinggi nilainya. Selain mengikis sifat2 yang tidak baik spt kikir dan mementingkan diri sendiri, infak ini juga menimbulkan kesadaran sosial yg mendalam, bahwa masing2 orang senantiasa saling membutuhkan, dan seseong tak akan dapat hidup seorg diri. Sebab itu harus ada sifat gotong-royong, dan saling memberi, sehingga jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin dapat ditiadakan, persaudaraan dipupuk dengan hubungan yg lebih akrab. Menafkahkan harta di jalan Allah, baik yang wajib seperti zakat maupun yg sunat seperti sedekah, yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat, utk memberantas penyakit, kemiskinan dan kebodohan, utk penyiaran agama Islam dan untuk pengembangan ilmu pengetahuan adalah sgt dituntut oleh agama, dan sgt dianjurkan oleh syariat. 

Sbb itu, terdapat bnyk sekali ayat2 Alquran yg membicarakan masalah ini, serta memberikan dorongan yg kuat dan memberikan perumpamaan ya menggambarkan bagaimana beruntungnya org2 yg suka berinfak dan betapa malangnya org2 yg tidak mau menafkahkan hartanya. Rasulullah saw berwasiat kpd para sahabat, "Wahai sahabatku, apb saat ini kalian mengurangi waktu kalian utk agama Allah sepersepuluh saja, niscaya nushratullah (pertolongan Allah) tidak akan turun, kalian harus mengamalkan agama secara keseluruhan, Ttpi ummatku pada akhir zaman nanti, jika mrk rela meluangkan waktunya sepersepuluh saja utk agama Allah, maka nusratullah akan segera turun.” (HR.Tirmizdi)

No comments:

Post a Comment