Wednesday, February 4, 2015

MUHAMMADIYAH, NAHDATUL ULAMA DAN JAMAAH TABLIGH

Semasa belajar di Mekkah, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah bersahabat dgn Maulana Muhammad Ilyas, pendiri Jamaah Tabligh (JT), gerakan dakwah mendunia yg berpusat di New Delhi India. Demikian ditulis oleh Zaim Uchrowi dlm bukunya Authorized Biography “Muhammad Amien Rais Memimpin dgn Ruhani Ruhani (cetakan ke III, Juni 2004 hal 160). Di kota suci tersebut, KH Ahmad Dahlan diceritakan juga berteman dgn KH Hasyim Asyari, pendiri NU (Nahdlatul Ulama). 

Kalau KH Ahmad Dahlan bersahabat dgn KH Hasyim Asyari, maka ada kemungkinan besar KH Hasyim Asyari juga kenal dan bersahabat dgn Maulana Muhammad Ilyas, karena mrk semua hidup dan pernah menimba ilmu di kota suci dlm kurun waktu yg hampir bersamaan. Dari gambar KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari yg beredar di masyarakat, mereka berdua selalu digambarkan sbg sosok berjanggut yg selalu mengena kan surban dan gamis, pakaian yg sekarang kayaknya asing dan jarang digunakan oleh para aktivis kedua gerakan tersebut, kecuali mungkin oleh sedikit kyai pesantren yg tinggal di kpg (mungkin dianggap tidak substansial?).

Sementara gambar/foto Maulana Ilyas sendiri, sejauh ini tidak ada yg diedarkan (beliau juga tidak menghendakinya). Ttpi, kalau kita dilihat dari para aktivis gerakan yg beliau perintis dan dari buku2 yg ditulis tentang beliau, penampilan beliau sehari-hari saya kira juga tidak akan jauh berbeda dari kedua tokoh tersebut. Dari nama gerakan yg dipakai oleh ketiga gerakan tersebut juga menunjukkan semangat yg sama utk menghidupkan kembali agama sesuai dgn yg dicontohkan oleh Rasulullah saw. Muhammadiyyah, secara harfiyah dapat diartikan sbg pengikut Muhammad. NU (Nahdatul Ulama) secara harfiah bermakna kebangkitan para ulama. Ulama sendiri, sebagaimana disebutkan dlm hadits, adalah pewaris para nabi dan penghulu para nabi adalah nabi Muhammad saw. 

Sdgkan nama Jamaah Tabligh tidak lah diberikan oleh Maulana Ilyas sendiri, nama ini diberikan oleh org lain. Maulana Ilyas sendiri tidak memberikan sebuah nama pun utk gerakan beliau, seandainya harus ada nama, maka beliau lebih suka memberi nama gerakan ini dgn nama “Harakatul Iman” (Gerakan Iman). Kisah di atas adalah sekelumit contoh kecil mengenai hubungan dan persentuhan antar tokoh 3 gerakan Islam tersebut. Jika penelusuran dilakukan lebih mendlm, maka penulis yakin, antar tokoh2 gerakan Islam bisa ditemukan persentuhan yg lebih luas lagi. 

Gambaran sementara org bahwa hubungan antara berbagai gerakan Islam adalah tidak harmonis, tidak bisa bekerja sama dan saling bertentangan sama lain adalah gambaran yg terlalu dibesar2kan. Para tokoh pendiri gerakan sendiri memberi teladan yg sgt baik bagaimana mrk harus bergaul dan saling menghormati satu dgn lainnya.

Sekarang ini kita hidup di zaman global dimana kita tidak mungkin hidup dalam sebuah enclave yang tertutup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia ini kita harus berhubungan dgn org lain, yang berasal dari negara, agama, bangsa dan bahasa yg berbeda. Maka utk kepentingan menghidupkan kembali agama, kebutuhan utk kerjasama satu dgn lainnya mesti lebih dibutuhkan lagi, tanpa kita harus menanggalkan identitas dan ciri khas kita masing2. 

Dua buah contoh sederhana dlm hal ini mungkin bisa disebutkan disini. KH Hasyim Muzadi, ketua PBNU yg sering digambarkan sgt kritis terhadap gerakan Transnasional, entah dilakukan secara sadar atau tidak, dlm sebuah kolomnya di harian Kompas pada bulan Ramadhan tahun 2006, pernah mengutip pendapat dari sebuah kitab yang dijadikan pegangan oleh para aktivis Jamaah Tabligh di seluruh dunia, yaitu kitab Fadhilah Amalnya Maulana Zakariya Kandahlawy. Beliau mengutip dari buku itu dlm konteks pentingnya kita memanage waktu dlm kehidupan kita, terutama kaitannya dgn bulan Ramadhan.

Sementara itu di Yogyakarta, seorang cucu KH Ahmad Dahlan, Muhammad Iftironi, juga aktif di kegiatan Masjid Ittihad, Jalan Kaliurang Km 5.5, markaz Tabligh di Yogyakarta, beliau juga sering melakukan perjalanan dakwah keliling dari satu masjid ke masjid yg lain. Dlm kehidupan sehari-hari, beliau juga lebih sering tampil dgn pakaian “kebesaran” spt kakeknya, yaitu berbaju gamis dan bersurban. Pak Iftironi insyaAllah juga sedang belajar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad (Muhammadiyah) sejati spt dulu yg dilakukan oleh kakeknda tercinta. 

Cth2 kecil semacam itu saya kira cukup menyejukkan dan seharusnya bisa dikembangkan lebih luas lagi dlm kehidupan sehari-hari. Kalau ketiga pendiri gerakan tersebut bisa saling bersahabat dan berteman satu sama lain, maka tidak ada alasan bagi kita utk tidak mencontohnya. Tantangan bagi umat Islam untuk bangkit kembali sgt berat, baik dari internal maupun eksternal. Maka saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi kita untuk saling membesar2kan perbedaan, saling curiga, mencela dan saling menyebarkan fitnah satu sama lain. Marilah kita saling berfastabiqul khairat utk mencari keredhaan Allah swt.

No comments:

Post a Comment