Friday, January 11, 2013

KISAH SAHABAT NABI ABDULLAH BIN AMR BIN ASH RA.

Abdullah bin Amr bin Ash RA adalah putra dari seorg ahli strategy perang dan negarawan ulung, Amr bin Ash, ttp ia lebih dahulu memeluk Islam dpd bapanya itu. Ia seorg yg soleh, bnyk menghabiskan waktunya utk beribadah, kecuali jika sdg berjihad di jln Allah. Ketika menyandang senjata utk mempertahankan dan meninggikan kalimat-kalimat Allah, ia akan berada di barisan terdpn krn sgt merindukan memperoleh ‘rezeqi’ kesyahidan. Dlm usianya yg masih muda, aktiviti ibadahnya begitu tinggi, siang berpuasa, mlm dihabiskan dgn tahajud dan membaca Al-Quran sehingga ia mampu mengkhatamkannya dlm sehari. Ia begitu zuhud, bahkan tidak pernah ia membicarakan masalah duniawiah sejak ia berba’iat kpd Nabi SAW, padahal lingkungan keluarga termasuk kalangan bangsawan dan kaya-raya. Ketika ia dinikahkan, beberapa hari kemudian ayahnya dtg mengunjungi dan bertemu isterinya. Amr bin Ash berkata, “Bgmn keadaan kalian?”

Isterinya berkata, “Sungguh aku tidak mencela akhlak dan kesalehannya, ttp sptnya ia tidak memerlukan seorg wanita disisinya!!” Amr bin Ash menatap tidak mengerti, ttp kemudian ia mendpt penjelasan, kalau Abdullah bin Amr sama sekali blm menyentuhnya dlm beberapa hari stlh menikah itu. Ia begitu intens beribadah spt biasanya, sehingga Tiada sedikitpun waktu utk isterinya. Hal itu memaksa Amr bin Ash melaporkannya kpd Rasululah SAW, sehingga beliau campur tgn utk ‘mengerem’ semangat ibadahnya. Ttp di hadapan Rasulullah SAW, Abdullah bin Amr justru berkata, “Ya Rasulullah, izinkanlah saya menggunakan sepenuh tenaga saya utk beribadah kpd Allah?” 

Nabi SAW bersabda, “Jika engkau melakukan semua itu, badanmu akan lemah, matamu akan sakit krn tidak tidur semlman. Sesungguhnya badanmu punya hak, keluargamu juga punya hakdan para tamupun punya hak atas dirimu…!” Maka terjadilah “tawar-menawar” antara Abdullah dan Rasulullah SAW dlm soal ibadahnya. Kalau umumnya manusia akan meminta izin beribadah seringan dan sesedikit mungkin, maka Abdullah meminta izin utk beribadah sebnyk dan seberat mungkin. Dlm soal puasa misalnya, Nabi SAW menyarankannya agar berpuasa 3 hari dlm sebln, ttp Abdullah minta tambahan, diberi dua hari dlm seminggu, masih minta tambahan lagi, akhirnya dittpkan Nabi SAW sehari berpuasa sehari berbuka, yakni puasanya Nabi Daud AS.

Begitu juga dlm soal mengkhatamkan Al-Quran, pertama Nabi SAW menyarankannya utk khatam sebln sekali saja. Abdullah melakukan penawaran, sehingga Nabi SAW menetapkan 20 hari sekali, kemudian 10 hari sekalidan seminggu sekali. Ttp Ibnu Amr bin Ash masih meminta lebih lagi, akhirnya Nabi SAW menetapkannya utk khatam Al-Quran setiap 3 hari sekali (dlm riwayat lain, lima hari sekali). Begitu juga soal solat mlm, beliau melarang Abdullah menghabiskan waktu mlm utk solat sunat terus-menerus, harus ada waktu utk mengistirahatkan tubuhnya dgn tidurdan mempergauli isterinya. 

Walau telah dinasihati langsung oleh Nabi SAW, semangatnya utk beribadah tidak segera mengendor begitu saja, ttp ia tidak melalaikan kewajiban dan hak-hak keluarga, badan, tamu dan lain-lainnya. Ibadahnya dgn intensitas tinggi masih saja berlangsung tanpa boleh dihalangi lagi. Melihat keadaannya itu, Nabi SAW akhirnya bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak tahu, boleh jadi Allah akan memanjangkan umurmu…!!” Benarlah apa yg disabdakan Nabi SAW, ia mencapai usia tua, tubuhnya mulai lemah dan tulangnya seakan tak mampu menygga tubuhnya dlm waktu lama. Ia susah payah menetapi amal istiqamah yg telah “dijanjikannya” kpd Nabi SAW di masa mudanya. Ia jadi menyesal mengapa tidak menerima nasihat beliau saat mudanya itu. Ia seringkali berkata, “Aduhai malangnya nasibku, mengapa tidak aku ikuti keringanan yg diberikan Rasulullah SAW…!!”

Abdullah bin Amr mempunyai kebiasaan mencatat apapun yg disabdakan Nabi SAW, dlm sebuah catatan yg disebut Shadiqah, hal ini dimaksudkan agar ia mudah menghafalkannya. Rasulullah SAW mmg pernah melarang para sahabat utk mencatat sabda-sabda beliau krn dikhuatirkan akan tumpang tindih dgn ayat-ayat Al-Quran. Ttp kemudian Nabi SAW secara khusus menugaskan beberapa org sahabat utk mencatat firman2 Allah tersebut dan Ibnu Amr bin Ash tidak termasuk di dlmnya sehingga beliau membiarkannya. Beberapa sahabat juga berkata, “Rasulullah SAW juga manusia biasa, terkadang beliau marah dan dlm marahnya ini beliau mengatakan sesuatu. Begitu juga terkadang beliau hanya bercanda dlm ucapannya itu. Krn itu jgn engkau mencatat apapun yg beliau sabdakan!!” Krn nasihat mrk ini, Abdullah bin Amr sempat menghentikan kebiasaannya tersebut. Ttp tampaknya ia merasa ‘gatal’ jika sesaat saja tidak ‘mrkm’ apa yg dilakukan Rasulullah SAW. Krn itu ia bertanya kpd Nabi SAW ttg apa yg dilakukannya, termasuk nasihat beberapa org sahabat, maka beliau bersabda, “Teruskanlah menulis, demi Allah yg jiwaku ada di tgn Nya, setiap perkataanku adalah kebenaran, walaupun aku dlm keadaan marahataupun senang.”

Abu Hurairah juga pernah berkomentar atas kebiasaan Abdullah bin Amr ini, “Di antara para sahabat, Tiada yg menyamai saya dlm hal hafalan hadis-hadis Nabi SAW, kecuali Ibnu Amr bin Ash, krn dia selalu mencatat segala apa yg disabdakan Nabi SAW, sdgkan saya hanya mengandalkan ingatan saja.” Ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, sesungguhnya ia tidak ingin berpihak kpd kedua kelompok sbgmn dianut beberapa sahabat spt Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaiddan beberapa sahabat lainnya. Ttp menjelang terjadinya perang Shiffin, ayahnya, Amr bin Ash yg berpihak kpd Muawiyah mendtginya dan mengajaknya berperang di pihaknya. Abdullah bin Amr berkata, “Bgmn mungkin? Rasulullah SAW telah berwasiat kpdku utk tidak menaruh pedangku di leher seorg muslim utk selama2nya…..!!” Bukan Amr bin Ash namanya kalau tidak mampu bermuslihat, ia mengemukakan berbagai alasan, terutama menygkut “menuntut bela atas pembunuhan Utsman bin Affan”. Stlh beberapa argumen ayahnya mampu dipatahkannya, akhirnya Amr bin Ash berkata, “Ingatkah engkau wahai Abdullah wasiat terakhir Nabi SAW, beliau mengambil tgnmu dan meletakkan di atas tgnku dan memerintahkan engkau utk taat kpd ayahmu ini? Dan skrg saya menghendaki engkau turut bersama kami, berperang bersama kami!!”

Mendgr argumen ini, Abdullah bin Amr dilanda kebimbangan yg amat sgt. Jauh di dlm hatinya, kebenaran yg sgt diyakininya, ia tidak ingin terlibat dlm pertikaian itu. Ttp ia seakan tidak punya kekuatan menolak ketika diingatkan akan pesan Nabi saw dan janjinya utk melaksanakannya. Akhirnya ia mengikuti pertempuran tersebut dgn setengah hati dan berada di pihak Muawiyah. Ia mengetahui bahawa Ammar bin Yasir berperang di pihak Ali dan masih jelas terngiang nubuwat Nabi saw ttg kematian Ammar bin Yasir di tgn para pendurhaka. Ia hadir juga dlm penggalian parit khandaq ketika Nabi SAW menyabdakan hal itu. Sebhg riwayat menyebutkan, ia tidak pernah mengangkat senjatanya walau ia berada di antara pasukan Muawiyah. Ttp begitu ia mendgr khabar bahawa Ammar bin Yasir telah terbunuh, ia langsung berteriak keras, “Apa? Ammar telah terbunuh dan kalian pembunuh nya? Kalau demikian kalianlah kaum pendurhaka itu, kalian berperang di jln yg salah!!” Abdullah bin Amr berjln berkeliling sambil meneriakkan kata2 tersebut sehingga melemahkan semangat pasukan Muawiyah. Ketika hal itu dilaporkan kpd Muawiyah, ia mmggil Amr bin Ash dan anaknya tersebutdan berkata kpd Amr bin Ash, “Knp tidak engkau bungkam anakmu yg gila ini..!!” Amr bin Ash hanya diam, ttpi justru Abdullah berkata dgn tegas tanpa ketakutan sedikitpun, “Aku tidak gila, ttai aku telah mendgr Nabi SAW bersabda kpd Ammar, bahawa ia akan dibunuh oleh kaum yg durhaka atau aniaya…!!”

“Kalau begitu, knp engkau ikut bersama kami??” Tanya Muawiyah. “Tidak, ” Kata Abdullah bin Amr, “Aku hanya mengikuti wasiat Nabi utk taat kpd ayahkudan aku telah mentaatinya dgn pergi kesini, ttp aku tidak pernah ikut berperang bersamamu…!!” Di tengah pembicaraan tersebut, pengawal Muawiyah mengabarkan kalau pembunuh Ammar ingin menghadap masuk. Abdullah bin Amr langsung berkata, “Suruhlah dia masuk dan smpikan khabar gembira kpdnya, dia akan menjadi umpan api neraka…!!” Muawiyah menjadi murka mendgr perkataannya tersebut, ttp Abdullah bin Amr ttp bertahan dgn perkataannya tersebut, bahawa pembunuh Ammar bin Yasir adalah kaum yg durhaka dan berperang di jln yg salah, begitu Nabi SAW mengabarkan bertahun2 seblmnyadan ia meyakini akan kebenarannya. Ia berpaling kpd ayahnya dan berkata, “Kalau tidaklah Rasulullah menyuruh saya menaati ayah, saya tidak akan pernah menyertai perjlnan ayah ke sini dan kini saya telah memenuhi wasiat beliau…” Stlh itu Abdullah bin Amr kembali ke Madinah dan mengurung diri di mushalla rumahnya. Ia tidak habis2nya menyesali keterlibatannya di perang Shiffin dan berada di pihak Muawiyah. Ia selalu menangis dan mengeluh, “Wahai, apa perlunya aku ke Shiffin… apa perlunya aku memerangi kaum muslimin…!!!”

Suatu hari ia duduk di masjid bersama beberapa org sahabat, lewatlah Husein bin Ali. Stlh menyampai kan salam, ia berlalu masuk ke masjid tanpa memperdulikan kumpulan sahabat. Abdullah bin Amr berkata, “Tahukah kalian penduduk bumi yg paling dicintai penduduk langit? Dialah Husein bin Ali yg baru saja berlalu di hadapan kita. Sejak perang Shiffin, ia tidak mau berbicara dgnku… Sungguh, ridhanya kpdku lebih aku sukai dpd barang berharga apapun juga…!!” Ia meminta tolong kpd sahabat Abu Sa’id al Khudri utk bertemu dgn Husein dan mrk diizinkan utk berkunjung ke rumah cucu kesygan Rasulullah SAW itu. Terjadilah berbagai mcm pembicaraan, smpi akhirnya Husein bertanya, “Apa yg membawamu ikut berperang di pihak Muawiyah?”

Abdullah bin Amr berkata, “Ayahku pernah mengadukan aku kpd Rasulullah krn berpuasa setiap hari, solat mlm sepjg mlm dan mengkhatamkan Al-Quran setiap hari, maka Nabi SAW berwasiat kpdku, ‘Hai Abdullah puasalah dan berbuka, solatlah mlm dan tidurlah, bacalah Quran dan berhenti lahdan taatilah ayahmu…’ Saat perang Shiffin terjadi, ayahku mendtgiku dan memaksaku mengikuti nya dgn membawa wasiat Nabi SAW tersebut… ttp demi Allah, aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah pada perang tersebut” Abdullah bin Amr juga menjelaskan apa yg dilakukannya terhadap Muawiyah stlh terbunuhnya Ammar bin Yasir dan sikapnya meninggalkan pertempuran tersebut. Husein akhirnya ridha kpdnya stlh semua penjelasannya tersebut. Abdullah bin Amr menangis penuh haru. Pada masa pemerintahan Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr meninggal pada usia 72 tahun di mushalla rumahnya, ketika itu ia baru selesai menjlnkan solat dan sdg bermunajat kpd Allah. Sungguh saat akhir yg amat indah (khusnul khotimah) yg amat dirindukan oleh semua kaum muslimin.

No comments:

Post a Comment