Friday, January 11, 2013

KISAH SAHABAT NABI AMR BIN ASH RA

Amr bin Ash merupakan salah satu tokoh Quraisy yg paling gencar menghalangi dakwah Nabi SAW dan menyiksa org2 lemah yg masuk Islam. Krn itu Nabi SAW sempat berdoa kpd Allah agar menurunkan azab kpd 3 org, yg salah satunya adalah Amr bin Ash. Ttp kemudian turun ayat yg melarang Nabi SAW melakukan hal itu, yakni mendoakan keburukan bagi manusia (Surah Ali Imran:128). Amr bin Ash memiliki kemampuan yg tinggi di bidang politik dan strategi, krn itu ia menyadari bahawa dgn dikukuhkannya perjanjian Hudaibiyah, agama Islam yg dibawa Nabi SAW akan mencapai ketinggian yg tidak mungkin dpt dibendung lagi oleh org Quraisy. Ttp pengamatan yg tajam ini blm cukup utk membawanya kpd Islam, ia justru berkata kpd teman2 dktnya, “Marilah kita bergabung dgn Raja Najasyi di Habsyah dan menjadi anak buahnya. Jika Muhammad menang atas kaum Quraisy, kita sudah ada di sisi Najasyi. Ttp jika kaum kita yg menang, maka kita adalah org yg telah mrk kenal, Tiada sikap yg muncul dari mrk kecuali kebaikan saja.”

Teman2nya itu menyetujuinya. Amr bin Ash mmg telah cukup dikenal oleh Najasyi, raja Habsyah, krn ia pernah menjadi duta kaum Quraisy ketika kaum muslim hijrah ke Habsyah. Ia memanfaatkan hubungan baiknya ini agar boleh terselamatkan, ketika pertentgn dua kubu, Kaum Quraisy dan org2 Islam, makin memuncak. Amr membawa kulit-kulit yg disamak, salah satu barang yg sgt disukai Najasyi, sbg hadiah dlm jumlah yg cukup besar. Setibanya di Habsyah dan bersiap menghadap Najasyi, tampak utusan Nabi SAW, Amr bin Umayyah adh Dhamri, masuk menemui Najasyi berkaitan dgn keberadaan Ja’far bin Abu Thalib dan kaum Muhajirin lainnya di Habsyah. 

Stlh Amr bin Umayyah keluar dari majlis Najasyi, Amr bin Ash memasuki rwangan, ia bersujud spt yg selama ini dilakukannyadan Najasyi menyapanya, “Selamat dtg sahabat karibku, apakah engkau membawa hadiah dari negerimu utkku?” Ketika Amr menyerahkan hadiah kulit-kulit tersebut, tampak sekali kegembiraan dan ketakjuban Najasyi, apalagi jumlahnya cukup bnyk. Pada saat melihat utusan Nabi SAW dtg, muncul niat Amr utk membunuh sahabat Nabi SAW itu, maka ia berkata kpd Najasyi, “Wahai tuanku, aku melihat seorg lelaki yg baru keluar dari majlis ini, ia adalah utusan dari lelaki yg menjadi musuh kami. Serahkanlah ia padaku utk ku bunuh, krn lelaki itu (Muhammad) telah bnyk menghina dan melecehkan pemuka-pemuka kami.”

Mendgr permintaan Amr ini, Najasyi sgt marah dan Amr menangkap ekspresi itu dan ia sgt ketakutan. Kalau saja saat itu bumi terbelah, rasanya ia ingin memasukinya agar terhindar dari kemarahan Najasyi. Krn itu buru-buru ia berkata lagi, “Tuanku, demi Allah, aku mengira tuan tidak menyukai permintaanku itu!!” Najasyi berkata, “Apakah engkau meminta aku menyerahkan utusan dari seorg lelaki yg didtgi Malaikat Jibril, sbgmn ia dtg kpd Musa, agar engkau boleh membunuh utusan itu?” “Wahai tuanku, Apakah ia mmg org yg spt itu?” Tanya Amr. Amr bin Ash tentulah tidak mengerti bahawa telah beberapa hari lamanya utusan Rasulullah SAW tersebut tinggal di Habsyah dan salah satu misinya adalah membawa surah beliau utk menyeru Najasyi memeluk Islam dan ia telah menyambutnya dgn tgn terbuka. Bahkan Najasyi telah mewakili Rasulullah saw melamar Ummu Habibah binti Abu Sufyan utk menjadi isteri beliau. Najasyi berkata, “Kecelakaan bagimu, hai Amr, taatilah aku dan ikutilah dia (Nabi SAW), krn sesungguhnya dia berada di atas kebenaran. Dan dia akan memperoleh kemenangan dari siapapun yg menentangnya, sbgmn Musa bin Imran memperoleh kemenangan atas Fir’aun dan bala tenteranya.”

Mendgr ucapan Najasyi ini, spt ada kilat yg menyambar hatinya, ttp sekaligus membuka mata hatinya hingga hidayah Allah SWT meneranginya. Amr berkata kpd Najasyi, “Maukah engkau membaiat aku atas islam utknya?” “Baiklah!!” Kata Najasyidan ia memba’iat Amr utk memeluk Islam. Amr keluar dari majlis Najasyi dgn pandangan ttg Nabi SAW, yg jauh berbeza dgn ketika ia memasukinya. Ttp ia masih menyembunyikan keislamannya dari sahabat2nya yg menunggu di luar dan mengajak mrk kembali ke Mekah dgn dalih misinya gagal. Diam-diam ia berencana menemui Nabi SAW di Madinah utk menyatakan dan mengukuhkan keislamannya. Beberapa lama kemudian, di suatu pagi yg masih cukup gelap, Amr bin Ash meninggalkan kota Mekah menuju Madinah hingga Tiada org yg mengetahuinya. Ttp ketika smpi di Haddah, suatu tmpt antara Mekah dan Thaif, Amr melihat dua org telah berjln mendahuluinya meninggalkan kota Mekah. Ketika keduanya beristirahat, salah satunya dari mrk menambatkan tunggangannya,dan satunya lagi masuk ke kemah. Stlh makin dkt, ternyata org itu Khalid bin Walid, Amr pun bertanya, “Hendak kemanakah engkau, hai Abu Sulaiman?”

Khalid menjawab kalau akan ke Madinah menemui Nabi SAW utk masuk Islam, tak lama kemudian org yg di dlm kemah keluar, ternyata Utsman bin Thalhah. Amr gembira sekali krn bertemu dgn teman seperjuangan di dlm kekafiran, yg bermaksud sama utk memeluk Islam. Mrk-pun sepakat utk bersama2 menyampaikan ba’iat keislaman di hadapan Nabi SAW. Mrk ber3 smpi di Madinah di awal bln Safar tahun 8 H selepas ashar, mrk mendkti masjid Nabi SAW. Tampak kegembiraan Nabi SAW dan sahabat2nya melihat kedatgnnya, Beliau bersabda, “Mekah telah melepas jantung2 hatinya kpd kita….” Terdgr juga seorg sahabat lainnya berkomentar, “Seluruh penduduk Mekah akan tunduk kpd beliau krn dua lelaki ini…”

Amr merasa, bahawa yg dimaksud dua org itu adalah dirinya dan Khalid bin Walid. Pertama Khalid bin Walid yg berba’iat kpd Rasulullah SAW utk memeluk Islam, Amr menyusul dan diikuti oleh Utsman bin Thalhah. Amr berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku berba’iat kpd mu agar diampuni dosa2ku yg terdahulu.” Nabi SAW bersabda, “Wahai Amr, berba’iatlah krn sesungguhnya Islam menghapus dosa2 yg terdahuludan hijrah juga menghapus dosa2 yg telah lalu.” Sejak keislamannya, ia terjun dlm beberapa pertempuran bersama Rasulullah SAW. Ttp jiwa pemimpin dan kelicinan strateginya baru menonjol zaman khalifah Umar bin Khattab, bahkan ia terkenal dgn sebutan “Penakluk Mesir”, krn pasukan yg dikomandaninya berhasil mengalahkan dan mengusir pasukan Romawi dari sanadan akhirnya Mesir menjadi salah satu negara yg menjadi ikon Islam smpi skrg.

Sebuah peristiwa menarik terjadi dlm pertempuran melawan pasukan Romawi di Mesir. Riwayat lain menyebutkan peristiwa ini terjadi di Perang Yarmuk di Syiria, juga melawan pasukan Romawi. Amr bin Ash sbg komandan pasukan muslim yg mengepung benteng Romawi, diundang oleh komandan benteng (Arthabon) utk berunding. Sebenarnya undangan ini hanya jebakan belaka, mrk telah menyiapkan perangkap, jika Amr bin Ash kembali dari pertemuan tersebut, mrk akan menimpakan batu-batu yg telah disiapkan hingga ia tewas. Tanpa prasangka apa-apa, Amr memenuhi undangan tersebut. Stlh terjadi beberapa kesepakatan, Amr akan kembali, ttp ia menangkap suatu gejala yg tidak semestinya. Di luar rwangan, ia melihat beberapa gerakan di atas benteng yg mencurigakan, padahal ia akan lewat di bwhnya. Sedarlah Amr bahawa ia masuk dlm jebakan mrk. Ia berfikir cpt, kemudian kembali menemui Arthabon dan berkata, “Wahai Arthabon, di markas ku di sana, menunggu beberapa sahabat utama Rasulullah, mrklah yg paling didgr pendptnya oleh khalifah Umar jika mengambil keputusan penting. Krn itu aku ingin membawa mrk ke sini utk memantapkan kesepakatan kita ini….”

Arthabon terpancing dgn siasat Amr yg sebenarnya hanya bohong semata, ia berfikir, “Kalau dpt membunuh beberapa tokoh org muslim sekaligus, sebaiknya ditunda saja smpi mrk semua dtg. Apalagi sptnya org ini (Amr bin Ash), bukanlah pimpinan tertinggi dari pasukan muslim tersebut…” Ia segera memberi kode tertentu kpd prajuritnya utk menunda atau membatalkan rencananyadan Amr boleh keluar dari benteng dgn selamat. Ia tersenyum dlm hati melihat Arthabon termakan muslihatnya. Keesokan harinya, Amr mengerahkan pasukannya menyerbu benteng Mesir dgn semangat membara. S'mtara itu pasukan Romawi yg justru tidak siap dgn serangan tersebut. Mrk beranggapan kalau para pimpinan pasukan muslim, spt yg dikatakan Amr, masih akan dtg utk mematangkan perundingan. 

Akibatnya mrk dgn mudah dikalahkan dan benteng tersebut jatuh ke tgn kaum muslimin, berkat kebijaksanaan Amr bin Ash. Amr bin Ash adalah tipikal seorg negarawan ulung dan mempunyai ambisi dlm kekuasaan, namun demikian ia termasuk org yg amanah. Krn itu, Umar bin Khattab ttp mempercayainya memegang jabatan gubernur Mesir walaupun ia hidup bergelimang harta, ttp tentu saja ia dlm pengawasan yg ketat dari Umar. Pernah ia hidup terlalu berlebihan dari kekayaan yg dimilikinya, segera saja Umar mengirim utusan, yakni Muhammad bin Maslamah dan memerintahkan harta Amr dibagi dua, separoh utk Amr bin Ash dan separuhnya lagi diserahkan ke baitul mal utk kemaslahatan kaum muslimin secara umum. Amr pun dgn senang hari menerima keputusan Umar tersebut.

Ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, pena takdir membawa Amr bin Ash pada pilihan berpihak Muawiyah, tentu dgn alasan dan motivasi yg hanya diketahui oleh Amr. Yg jelas, peranan Amr bin Ash sgt besar dlm memenangkan Muawiyah atas Ali bin Abi Thalib, walau dgn cara dan jln yg tidak sepenuhnya benar, dgn cara siasat dan muslihat yg mmg sgt dikuasai oleh Amr bin Ash. Dlm pertempuran Shiffin, ketika pasukan Muawiyah terdesak dan hampir dikalahkan oleh Pasukan Ali, Amr menyarankan kpd Muawiyah utk mengangkat Al-Quran dgn pedang atau tombaknya dan berteriak utk bertahkim/berhukum dgn Al-Quran. Siapapun tahu bahawa Ali bin Abi Thalib org yg sgt mengenal dan menghargai Al-Quran, bahkan ia termasuk salah satu dari “pemimpin-pemimpin” para penulis dan penghafalnya. Salah satu dari lima org, yakni Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Begitu sarannya tersebut dilaksanakan Muawiyah, Ali memerintahkan pasukannya utk menghentikan serangan kpd pasukan Muawiyah. Bnyk sekali kecaman dari sahabat dan tenteranya atas sikapnya ini, ttp Ali tak bergeming. Pada dasarnya Ali mmg tidak menghendaki peperangan tersebut terjadi dan ia juga bukan tipikal org yg ambisius dgn kemenangan, kekuasaan dan jabatan. Maka ketika jln perundingan yg diminta, apalagi berhujjah dgn Al-Quran, serta merta Ali menyetujuinya.

Masing2 pihak mengirimkan juru runding, Muawiyah mengirim Amr bin Ash dan Ali bin Abi Thalib mengirimkan Abu Musa al Asy’ari. Sesungguhnyalah Ali ingin mengirimkan Abdullah bin Abbas krn ia telah mengenal dgn baik karakter Amr bin Ash yg suka bersiasatdan itu akan boleh diimbangi oleh Ibnu Abbas. S'mtara Abu Musa al Asy’ari seorg sahabat yg saleh, yg selalu saja husnudzon pada org lain. Ttp krn majoriti pasukan menghendaki Abu Musa, Ali menyetujuinya. Dlm perundingan dua tokoh sahabat yg berbeza karakter ini, disepakati bahawa kedua pemimpin harus meletakkan jabatannya terlebih dahulu, kemudian diadakan pemilihan langsung terhadap salah satu dari keduanya, siapa yg diba’iat lebih bnyk, dialah yg berhak menjadi khalifah. Masing2 wakil pihak harus berpidato di hadapan seluruh pasukan dan melepaskan jabatan yg diwakilinya, baru stlh itu boleh dilaksanakan pemilihan. Abu Musa menerima perundingan tersebut dgn segala prasangka baiknya kpd Amr bin Ash. Abu Musa menuruti permintaan Amr utk berpidato pertama kali dan menanggalkan jabatan khalifah dari Ali. Stlh Abu Musa turun dari podium, Amr bin Ash mtidak mahuti kan berpidato, ia berkata, “Sesungguhnya Abu Musa telah menanggal kan jabatan khalifah dari pemimpin nya, Ali bin Abi Thalibdan saya pun menyatakan hal yg sama. Selanjutnya, dgn ini saya menetap kan Muawiyah sbg khalifah dan Amirul mukminin yg bertggjwb atas penuntutan darah khalifah Utsman bin Affan, hendaklah kalian berba’iat kpdnya.”

Abu Musa al Asyari terperangah kaget dgn perkataan Amr bin Ash, sama sekali ia tidak menygka muslihat tersebut. S'mtara Ali tampak tenang, sptnya ia telah menduga hasil dari pertemuan dua tokoh tersebut. Pasukan Ali yg seblmnya telah terpecah belah krn penghentian pertempuran yg diambang kemenangan makin kacau balau. Sebhg berbalik memusuhi Ali, sebhg lagi keluar dari pasukan utama. Inilah peran besar Amr bin Ash dlm membalik keadaan, dari kekalahan total menjadi kemenangan pihak Muawiyah atas pihak Ali bin Abi Thalib.Ttp menjelang ajalnya di tahun 43 hijriah, ketika itu ia menjabat gubernur Mesir di masa pemerintahan Muawiyah, seolah2 ia menyadari semua langkah2 keliru dlm bersiasat dan bermuslihatdan ia berdoa, “Ya Allah, aku ini org yg tak luput dari kesalahan, mohon Engkau memaafkannya, aku ini org yg tak sunyi dari kelemahan, mohon Engkau memberikan pertolongan. Jika Engkau tidak melimpahkan rahmat kurniaMu, celakalah nasibku, Ya Rabbi!!”

No comments:

Post a Comment