Wednesday, August 17, 2016

DI DUNIA ADA SYURGA, SURGA DUNIA MAKRIFATULLAH

Metode penjabaran kalimah Tauhid LA ILLAHA ILALLAH selain menjabarkan tentang mengenal diri, adanya 4 tingkat ilmu, juga menjabarkan tentang adanya 4 tahap keyakinan.

1. Keyakinan dalam ilmu Syariat duduknya ditubuh, disebut ILMU YAKIN. Iaitu : Yakin benar sesuai apa kata Guru dan atau pada apa yang tertulis di kitab2 termasuk pada Al-Quran dan Hadits, Ijma dan Qiyas jumhur para 'Ulama. Org2 yg duduk di keyakinan ini disebut Muslim kerana hanya mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya saja dari apa yang tersurat atau tertulis baik yang ada dikitab termasuk Al-Qur'an dan As-Sunnah maupun dari apa yang disampaikan oleh Guru/Mursyid/Pembimbing.

2. Keyakinan dalam ilmu Tarekat/Thoriqoh duduknya dihati, disebut 'AINUL YAKIN. Iaitu : Yakin benar sesuai apa kata hati/sanubari. Org2 yg duduk di keyakinan ini disebut Mu'min karena telah mampu berketetapan dengan membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya, jadi tidak tergantung dari apa yang di sampaikan oleh Guru ataupun dari apa yang tertulis di Kitab2 termasuk Al-Qur'an dan Hadits, Ijma dan Qiyas. Jadilah Org2 Mukmin kerana akan banyak mendapat karunia dari Allah swt sebagaimana firman-Nya. "Dan sampaikanlah berita gembira kepada org2 Mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (Al-Ahzab:47). Hadist Qudsi, berkata Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah s.a.w bersabda : Allah berfirman : "Hamba-Ku yang Mukmin adalah lebih Kucintai daripada setengah para Malaikat-Ku”. [HR. Thobaroni]

3. Keyakinan dalam Ilmu Hakekat/Hakiqot duduknya di Jiwa, disebut HAKKUL YAKIN. Iaitu : Yakin benar sesuai apa kata Jiwa.Keyakinan pada Jiwa yang dikatakan sebenar-benarnya Guru/Mursyid Murabbi adalah Nur Muhammad Rasulullah s.a.w sebagai pemegang Kunci pintu Surga/Miftahul Jannah dan keyakinan pada Nyawa ini berdasarkan Firman Allah swt dalam Al-Qur’an: "Allah mengilhamkan kepada Jiwa/Nyawa itu jalan Kefasikan dan Ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah org yg mensucikan Jiwa/Nyawa itu, dan sesungguhnya merugilah org yg mengotorinya (SYAMS:8-10)”.

4. Keyakinan dalam Ilmu Makrifatullah duduknya di Rahasia, disebut KAMALUL YAKIN atau Yakin yang sempurna.  Iaitu : Yakin benar karena Allah semata ( Kontak Langsung ). Keyakinan pada tingkatan ini hanya dimiliki oleh orang yang bertaqwa dan telah dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata'ala atau biasa disebut sebagai Kekasih Allah swt atau Auliya. Keyakinannya berdasarkan atas penyaksian yang terjadi dalam perjalanan Spiritual yang di perjalankan oleh Allah swt sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur'an:"Aku tidak menghadirkan mereka ( Iblis dan anak cucunya ) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri, dan tidaklah aku mengambil org2 yang menyesatkan itu sebagai penolong…" ( Al-Kahfi 51 )

Penyaksian yang terjadi termasuk bertemu dgn Allah swt sebagaimana yang di isyaratkan dalam Hadist, Rasulullah saw berkata: "Seseorang diantara kamu akan bercakap-cakap dengan Tuhannya tanpa ada penterjemah dan dinding yang mendindinginya." ( HR. Bukhori ) “Sesungguhnya ada sebagian ilmu yang diibaratkan permata yang terpendam, tidak dapat mengetahuinya kecuali Ulama Billah. Apabila mereka mengungkapkan ilmu tersebut maka tidak seorangpun yang membantahnya kecuali org2 yg tidak paham tentang Allah.” ( Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi RA )

Pengajian Diri Dan Pengkajian Rasa. Sepertinya bisa jadi kita baru bersyariat walau sudah merasa pintar (ibarat itu baru menaiki kapal besar). Namun belum bertarikat (ibarat belum menggerakkan jalannya kapal diatas /tengah lautan sesuai haluan dgn methode perjalanannya). Lalu bagaimana mungkin kita mencapai Hakikat (ibarat mencapai dan tahu serta mengenal Cahaya-Nya lu'lu uwal marjan didasar lautan, menggapai pulau cinta dengan sebutan tanam manisnya buah keimanan dalam didikan hati kebenaran sejati). Sebait syair: “Hakikat adalah akhir perjalanan mencapai tujuan, menyaksikan cahaya nan gemerlapan, dari Makrifatullah yang penuh harapan”. 

Syari’at, Tarikat dan Hakikat tentu saling bertautan antara satu sama lain. Maka apabila Syari’at merupakan peraturan, Tarikat merupakan pelaksanaan, dan Hakikat merupakan tujuan pokok yakni pengenalan Tuhan yang sebenar2nya. Itulah sejatinya kesempuranaan tujuan perjalanan. Semisal tentang bersuci-taharah, menurut Syari'atnya berbersih diri dengan air. Sedang tarikatnya bersih diri lahir dan batin dari hawa nafsu. Kemudian Hakikatnya bersih hati dari selain Allah.  Semuanya itu untuk mencapai Ma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benarnya mengenal. Ingat slogan tak kenal maka tak sayang...Contoh lagi menurut Syari’at bila seseorang yang akan melaksanakan sholat, wajib mustaqbila qiblati, karena al-Qur’an menyebutkan : “Hadapkanlah mukamu ke Masjidil Haram ( Ka’bah) di Mekkah”. 

Menurut Tarekat, hati wajib menghadap kepada Allah berdasarkan ayat al-Qur’an yang menyebutkan : "Fa’budunii ( sembahlah Aku )."Menurut hakikat, bahwa kita menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya. Sebagaimana sebuah hadits yang berbunyi : "Sembahlah Tuhanmu seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Tuhan pasti melihat kamu.” Selanjutnya menurut Ma’rifat ialah mengenal Allah untuk siapa dipersembahkan segala amal ibadah itu yang dengan khusyu’ seorang hamba dalam sholat merasa berhadapan dengan Allah, ketika itu perasaan bermusyahadah berintai-intaian dan bercakap-cakap (komunikatif) dengan Allah seolah-olah Allah berkata : "Innanii Ana Allah Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, maka kehadiran hati berkata : Anta Allah ( Engkaulah Allah). Lalu Allah berkata lagi : "Aqimish-sholata lizikrii“(Bersholatlah untuk mengingat-Ku). 

Jadi kalau kita ibadah bukan hanya memotori dan menggemakan diri dengan kata-kata mesti ikhlas-ihklas-ihklas dan benar sesuai tuntunan saja namun belum sejatinya bila masih terlintas atas beban keta'atan itu sendiri.

Ihklas itu sebuah cerminan dari kecintaan sehingga melaksanakan perintah bukan karena titah aturan semata tapi keredhaan kasih yang nyata yang hanya didapat dari proses mengenal. Kenali dirimu bila engkau ingin mengenal Tuhanmu, kenali diri itu makna bimbingan atas jiwa dan hati. Contoh paling mudah iaitu apabila kita mencintai kekasih kita tentu kita dengan ikhlas dan rela melakukan apapun tanpa dipinta apalagi diminta. Semoga catatan singkat ini dapat difahami dan diresapi serta bermanfaat adanya.

No comments:

Post a Comment