Wednesday, August 17, 2016

TERBUKANYA HATI UNTUK MENERIMA MAKRIFATULLAH

“Apabila Allah swt berjehendak membukakan Wijhah hatimu untuk menerima makrifat, maka tidak peduli lagi walau amalmu sedikit. Hal itu kerana Allah s.w.t membukakan hatimu semata-mata kerana Allah swt berkehendak memperkenalkan diriNya kepadamu. Ketahuilah bahawa sesungguhnya makrifat itu didatangkan untuk mu dan amalmu adalah bentuk persembahan untukNya. Mana yang lebih tinggi nilainya bagimu, apa yang datang darimu atau apa yang didatangkan darimu?”

WIJHAH adalah semata pemberian Allah SWT kepada hamba yang dikehendaki. Letaknya didalam hati sebagai buah ibadah yang dilakukan. Dengan Wijhah itu seorang hamba dapat melaksanakan tawajjuh (menghadap dan wushul) kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya, yang artinya: “Sesungguhnya aku menghadapkan hadapanku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak menoleh kepada yang selain-Nya (hanifa) dan aku bukanlah termasuk org2 yg menyekutukan Tuhan.” (QS: Al-An’am: 79). Dgn WIJHAH itu pula seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan dan kedekatan disisi Tuhan-Nya: “Seorg terkemuka (mempunyai wijhah) didunia dan diakhirat dan termasuk orang yang didekatkan (kpd Allah swt).” (QS: Ali-Imran: 45). 

Yang demikian itu, apabila pintu Wijhah itu telah dibuka (didalam hati), atau seorang hamba itu telah mendapatkan futuh, maka seorang hamba akan dapat bermakrifat dengan-Nya..Makrifat artinya mengenal dan yang dimaksud adalah mengenal Allah SWT (Makrifatullah). Orang yang Makrifatullah adalah orang yang kenal kepada Allah swt. Kenal kepada nama2Nya, sifat2Nya, kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan akhlaq dan perbuatan-Nya. Kenal baik secara rasional (teori ilmiah) maupun secara spiritual (perasaan dalam hati). Namun yang dimaksud makrifatullah adalah lebih dominan kepada kenal secara spiritual. Seorang hamba yang Makrifat adalah seorang hamba yang bertaqwa kepada Tuhannya, dan sanggup berbuat benar (shiddiq) dan tidak salah dihadapan Tuhannya. Demikian itu karena ia tahu apa yang dikehendaki Tuhannya untuk dirinya.Semakin seorang hamba bermakrifat kepada Allah SWT maka ia akan menjadi semakin mencintai-Nya, karena ia semakin mengetahui dan semakin merasakan, bahwa Allah SWT telah berbuat kebaikan yang sangat banyak kepada dirinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik kepadamu.” (QS: Al-Qoshosh: 77)

Semakin seorang hamba mencintai Tuhannya, semakin itu pula ia mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki. Sebab, hanya kepada yang dicintailah seseorang akan mampu melaksanakan pengabdian yang benar. Demikian juga, semakin seorang hamba itu mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya berarti derajatnya disisi Allah SWT akan menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, orang yang paling bermakrifat dan paling bertaqwa dan paling mulia disisi Allah swt adalah Rasulullah saw. Hal itu karena beliau paling mencintai dan paling dicintai oleh Allah swt. Untuk mencapai makrifatullah secara terori, seorang hamba akan diperjalankan oleh tarbiyah Allah swt dengan dua cara:

1. Kehendak yng datangnya dari atas kebawah. Artinya, semata-mata wijhah yang ada didalam hati yang asalnya tertutup dibuka oleh Allah swt. Hijab-hijab mata hati dihapuskan. Penutup pintu rahasia dibukakan. Seperti orang menyalakan lampu, maka yang asalnya gelap menjadi terang, yang asalnya tidak kenal kemudian menjadi kenal. Bagaikan mendung ketika sirna matahari kemudian berada diatas kepala. Hal itu karena Allah swt memang berkehendak mengenalkan diri kepada hamba-Nya, tidak dengan sebab yang lain, tidak dengan sebab amal ibadah yang telah dikerjakan. Yakni, seorang hamba menjadi mengenal kepada-Nya semata-mata karena Allah SWT adalah dzat yang Maujud. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Allah-lah kemudian biarkan mereka bermain-main dalam kesesatannya”. (QS: Al-An’am: 91)

2. Kehendak dari bawah kemudian keatas. Artinya terlebih dahulu seorang hamba dikenalkan kepada makhluk2nya, baru kemudian dikenalkan kepada Al-Khaliq (penciptanya), sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yg berlayar dilautan dan membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yg dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat ) tanda2 (Keesaan dan Kebesaran Allah SWT) bagi kaum yg memikirkan,” (QS: Al-Baqarah: 163). 

Yakni pengenalan hamba kepada Sang Pencipta langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yg berlayar serta kemanfaatan yang dapat dimanfaatkan bagi manusia, dan apa yg Allah swt turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah swt hidupkan bumi setelah matinya dan Dia sebarkan dibumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Perhatian dan penelitian seorang hamba terhadap semua itu menghasilkan suatu kesimpulan bahwa Allah swt telah banyak berbuat baik kepada umat manusia dan betapa banyak manusia yang tidak mengetahui dan tidak menyadarinya dan bahkan kafir kpdNya. Hasilnya, kemudian mendorong nya untuk bertaubat dengan Taubatan Nasuha dan meningkatkan diri dlm melaksanakan pengabdian kpa Allah swt. 

Makrifat yg pertama adalah Makrifat yang langsung memancar dari hati dan roh (spiritual) yang kemudian dipancarkan lagi didalam akal dan fikir (rasional ilmiah) yang selanjutnya dapat selalu teraktualisasikan melalui akhlak dan perbuatan. Itu boleh terjadi karena seorang hamba memang telah terlebih dahulu dicintai oleh Allah SWT kemudian ia mencintainya. Makrifat yang pertama ini lebih kuat daripada Makrifat yang kedua karena ia lebih hakiki adanya dan karena sesungguhnya letak Makrifat itu adalah didalam hati. 

Makrifat yang kedua adalah Makrifat hati (spiritual) juga, akan tetapi masuknya terlebih dahulu melalui akal dan fikir (rasional). Yakni pengenalan seorang hamba kepada kejadian yang ada dibumi dan dilangit menjadikannya mengenal kepada Sang Pencipta. Seperti orang yang mengenal buah karya penulis, ketika semakin dalam pengenalannya akhirnya ia ingin kenal kepada penulisnya. Walau jalan masuknya Makrifat yang kedua ini melalui rasional, akan tetapi ketika masuk kedalam spritual (hati), masuknya Makrifat itu semata kehendak Allah SWT. Hanya saja kehendak itu telah didahului oleh kehendak yang sebelumnya, sebagai sebab-sebab yang tersusun tertib untuk mendapatkan akibat yang baik, iaitu pahala dari amal ibadah yang telah dilakukan. 

Bukan karena semata-mata amal ibadah seorang hamba yang menjadikannya bermakrifat kepada Allah SWT, akan tetapi sesungguhnya amal ibadah itulah, yang dijadikan sebagai sebab-sebab untuk dapat terpenuhi suatu proses pematangan ilmu pengetahuan secara rasional, kemudian supaya sampai kepada suatu akibat yang baik, iaitu pendewasaan ilmu dan akhlak secara spiritual. Amal ibadah adalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya sedangkan Makrifat adalah pemberian Allah SWT langsung kepada hamba-Nya; manakah yang lebih tinggi nilainya?  Oleh karena itu, apabila Allah SWT membukakan pintu WIJHAH hati seorang hamba untuk menerima Nur Makrifat, tidak peduli walau hamba-Nya sedang lemah dan sedang sedikit amal ibadahnya, ia pasti akan menerima Nur itu. (Syarah Hikam, Ibnu Athaillah).

No comments:

Post a Comment