Saturday, January 18, 2014

BETAPA SAKITNYA SAKARATUL MAUT

Tidak asing di telinga kita, “Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan.” Hal tersebut tidak luput dari tawa dan tangis, akan tetapi kita harus faham dimana menempatkan tawa dan dimana kita harus menangis. Sebenarnya bukan anjuran untuk kita menangis ataupun tertawa di setiap kejadian, akan tetapi menangislah sewajarnya, dan tertawalah sekadarnya.

Saya tampilkan beberapa cerita fiction di entri ini, salah satunya yang akan dibaca sekarang, yang insyaAllah juga menguatkan iman dan takwa kita, bukan hanya imaginasi sembrono kata orang jawa, yang seperti cerita percintaan anak muda.

Alkisah Tidaklah seorang suami meninggalkan isteri dan anak-anaknya atas aib yang di dera selama hidup di dunia. Wanita manja saat ini berubah mendesak menangis dan menjaga, muka cantik bagaikan ratu kini berubah menjadi sendu. Begitu pula remaja tampan di hadapanku, titis demi titis air mata menluncur di muka yang tak berdaya ini. Syahadat tampak jelas di telinga membuat hati meniru untuk melisankannya.

Sudut ruangan yang sesak dengan tetangga dan kerabat, menyuguhi tangisan dan muka layu. Mereka tampak sabar menunggu, pertanyaannya “Mungkinkah sampai detik terakhir nafas ini di hempas mereka setia menanti?” Dua, tiga tarikan nafas yang mereka kira ajal semakin mendekat, hingga syahadat tiada henti terucap. Satu jam menanti, dua jam menunggu, sampai akhirnya tetangga dan kerabat memutuskan untuk keluar satu demi satu.

Ganasnya maut tak pernah terfikirkan sebelumnya, begitu sakit yang aku derita, sungguh benar ucapan Rasul sakitnya sakratal maut sama dengan tusukan pedang.

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmizi)

Seandainya dulu, aku tinggalkan pekerjaan demi menghadap kepadaNya.
Seandainya dulu, aku tidak lalai dengan solat lima waktu.
Seandainya dulu, aku dahulukan solat dari pada kesibukan dunia yang fana.
Seandainya dulu, aku solat berjamaah lima waktu sesuai perintah nabiNya.
Seandainya dulu, aku berwudhu sebelum adzan berkumandang dan menunggu solat di awal waktu.
Seandainya dulu, aku perbanyak langkah menuju masjid untuk berjamaah demi keredaanNya.
Seandainya dulu, aku tidak ingin di puji karena suara yang merdu dalam mengumandangkan azan di saban waktu.
Seandainya dulu, aku merapikan baju dan berminyak wangi sebelum solat untuk menghadapNya.
Seandainya dulu, aku mantabkan wudhu untuk kesempurnaan solatku.
Seandainya dulu, aku khyusuk dalam solat menghadap kiblat dan hati tertuju kepadaNya.
Seandainya dulu, aku perbanyak zikir, mungkin tidak semalang ini nasib ku.
Seandainya dulu, aku lebih sering berdiam diri di Masjid dari pada bersidai di kedai kopi.
Seandainya dulu, aku sempatkan membaca Al-Quran dan maknanya dengan tidak menunggu waktu senggang dari kerja.
Seandainya dulu, aku mengaji tidak ingin di puji, tidak mengganggu orang tidur di malam yang sunyi.

Kini tersisa anakku yang terus mengerut kening tetap setia menunggu, tatapan yang terus dia tunjukkan. Aku menyesal tidak mengajarkan ilmu tentang kematian, seperti untaian kecil yang di remehkan “Jangan tangisi Ayah ketika maut datang, tapi talqinkan ayah sebagai mana nabi mengajarkan”

Andai saja aku kuat untuk berucap, “Janganlah gembira menikmati harta sepeninggalanku, karena harta itu sebenarnya bukan milik kita.”

Ingin sekali menasihatimu, akan tetapi tenggorakkan ayah tidak sampai untuk mengeluarkan suara, andai aku kuat untuk berucap,

“Jangan sia-siakan waktu, karena waktu cepat berlalu.”

“Anakku, engkau penerus ayah, engkau penerus agama ini, engkau penerus negeri,” aku ingin sekali menasihatimu untuk terakhir kali.

Sekali lagi seandainya aku kuat untuk berucap “Setiap manusia adalah pemimpin, sesuai sabda Nabiku dan Nabimu.”

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya. Seorang imam (pimpinan) adalah pemimpin dan dia akan diminta pertanggungjawaban dari apa yang di pimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang khadam (pembantu) adalah pemimpin pada harta tuannya (majikannya), dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpin.” (HR. Buhari, Muslim, Turmidzi, Abu Daud dan Ahmad Bin Hambal).

Kini malaikat maut duduk di sampingmu, ayah tidak dapat menjelaskan wujudnya, mahluk ini tidak pernah ayah lihat sebelumnya. Andai di beri kesempatan satu kali lagi untuk beriman kepadaNya, maka tidak akan ayah tinggalkan masjid, mulut ini akan selalu melantunkan ayat-ayatNya, semua harta ayah salurkan kepada anak yatim. Dan tidak tinggal diam atas sumbangan demi penderitaan fakir miskin.

Sungguh menyesal atas perbuatan.

Jika dulu, aku menjadi pemuda yang jujur, pemuda yang bertakwa dan beriman, yang diharapkan oleh Rasulullah (s.a.w), pemuda yang bersih dari maksiat tanpa pencemaran kehidupan jahiliah di akhir zaman.

Jika dulu, aku relakan darah mengalir membela saudara seiman yang berjihad di jalanNya, betapa berharganya diri ini di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

Jika dulu, aku berdagang dengan jujur bersih dari menipulasi dan kecurangan, maka malaikat tidak sekejam ini merenggut nyawa.

Jika dulu, aku serahkan harta kepada ibumu tanpa berbohong kepadanya di setiap waktu, seandainya dulu aku sisihkan waktu luang untuk mu dan ibumu yang itu ertinya tidak mementingkan barang elektronik, handphone kesayangan, laptop kesukaan, serta game kegemaran.

Jika dulu, aku tunduk patuh terhadap orang tua, tanpa mendengus ketika mereka berbicara, tidak senang ketika mereka gembira, tiada acuh ketika di peringatkan, lalu mendoakan setelah solat. Alangkah gembiranya datuk dan nenekmu kelak di hari pembalasan.

Jika dulu, aku bersahabat dengan orang-orang soleh, tinggalkan teman peminum, aku ajak seorang pemabuk untuk berjalan pada kebenaran, seandainya dulu aku mengingatkan tetangga yang tidak benar, meluruskan tetangga yang suka hiburan malam, dan berkomitmen atas semua tindakan.

Sampai akhirnya aku hanya pilu, hanya berangan-angan tentang masa lalu, sungguh dosa ini tidak dapat ditulis meskipun dakwat seluas lautan, kayu seluruh dunia di jadikan pensil, itupun tidak juga cukup menulis dosa yang telah lalu aku perbuat.

Kini tersisa nyawa yang ambang, tidak keluar dan tidak kembali pada raga yang terlentang. Entahlah apakah malaikat menunggu sepi, atau memang nasibku tiada orang tau ketika nafas ini melayang. Para penunggu ajal tidur pulas di sampingku, tak terkecuali anak dan isteriku. Lantunan Quran tidak lagi berkumandang, sungguh aku menginginkan kemerduannya, tapi apalah daya suara yang aku tangkap hanyalah suara ramai seperti di pasar.

Untungnya aku pernah menyatakan keislaman, sehingga di sela nafas yang terisak, meski sulit dan sakit untuk bernafas aku dapat ucapkan dua kalimat syahadat, dalam hati berisyarat. Detik itulah tubuh terasa sakit, tiada tanding di alam dunia.

Dengan cepat jantung mendegup, merenyut, meronta, seakan keluar dari dada. Setelah jantung berhenti berdetak, lalu fungsi jaringan tubuh di matikan, urat saraf mengendur dengan sendirinya, akhirnya tusukan pedang yang terasa beratus kali saat inilah malaikat benar-benar mencabut nyawa dari bawah ujung kaki sampai leher dan dilanjutkan ke otak dan berakhirlah sudah... Innalillahi.

Ketahuilah saudaraku kematian juga akan datang kepadamu. Jika aku merasakan seperti ini semoga engkau lebih mulia dari kematianku. Aku berwasiat sekali lagi, dengan jujur tiada tanding sakitnya sakratul maut.

Jika dirimu masih risau dengan harta untuk disedekahkan segeralah bertaubat, karena seperti yang kebanyakan orang ceritakan, kematian tidak pernah membawa harta, jabatan, dan istana, ataupun kehormatan keluarga meskipun korporat.

Tapi jika engkau risau karena kurang dekatan denganNya. Maka sekarang waktu yang tepat, tingkatkan ibadah, ikuti Rasulullah, tinggalkan mudarat, buang syirik, serta jauhkan kesenangan dunia. Maka engkau akan beruntung kelak pada saat ajal tiba.

Duhai putraku, saudaraku dan kerabat serta keluargaku se-Adam dan se-Hawa, pesan terahhirku, “Bertakwalah kepada Allah Ta’ala."

No comments:

Post a Comment