Thursday, January 22, 2015

MENINGGALKAN ANAK ISTERI UNTUK PERJUANGKAN AGAMA

Dari Ummu Sulaiman ra., bahwa Nabi SAW. berkata kpdnya, “Bersabarlah engkau! Demi Allah! Sejak tujuh hari ini keluarga Rasulullah SAW. tidak mempunyai sesuatu pun utk di makan, dan sudah tiga hari api tidak di nyalakan di bawah panci mereka. Demi Allah! Seandainya aku meminta kepada Allah agar bukit-bukit Tihamah dijadikan emas, pastilah Allah akan mengabulkannya.” Dengan riwayat2 ini, apakah dpt dikatakan bahwa Rasulullah SAW. telah sengaja menzalimi keluarganya, krn sibuk dlm berdakwah sehingga menyebabkan keluarga beliau sendiri kelaparan hingga berbulan2? Na’udzubillah min dzalik! 

Anak dan istri berpisah sementara utk kepentingan agama tidak hanya dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagian istri2 nabi pun mengalaminya. Misalnya, Siti Hajar istri Ibrahim as. yg ditinggalkan sendirian hanya bersama bayinya di tengah gurun pasir gersang tanpa ada perbekalan yg mencukupi, semata2 demi membantu tugas dakwah dan perjuangan agama suaminya. “(Ibrahim berkata), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yg tidak bertumbuh2an di dekat rumahMu yg dihormati.” (QS. Ibrahim 37).  

Ibrahim as. tidak meninggalkan keluarganya untuk tiga hari, empat puluh hari atau empat puluh bulan, tetapi beliau telah meninggalkan keluarganya 13 tahun! Dan ternyata, setelah diuji dengan harus meninggalkan anak dan istrinya selama bertahun2, demi menunaikan tugas dakwah dan menyeru manusia kpd agama, justru lahir dari keturunan Ibrahim as., nabi2 dan rasul2 Allah. Apakah kita akan katakan bahwa Ibrahim as. adalah lelaki yg tidak bert/jwb terhadap keluarganya dan menyia2kannya? Bagitu juga istri Nabi Musa as. yang ditinggalkan oleh Musa as. sendirian di tengah hutan untuk berdakwah kepada Fir’aun. Allah SWT berfirman, “Ketika ia (Musa as.) melihat api, lalu ia berkatalah kpd keluarganya, “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api. Semoga aku dpt membawa sedikit dgnnya kpdmu atau aku akan mendapat petunjuk.” (QS. Thaahaa 10) 

Pada ayat selanjutnya Musa as. diperintah, “Pergilah kepada Fir’aun sesungguhnya ia telah melampaui batas.” Lalu apakah Nabi Musa as. juga di tuduh telah menzhalimi keluarganya dan menyia-nyiakannya, karena telah meninggalkan istrinya di tengah hutan belantara semata-mata karena ia telah diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun selama 40 hari? Selain para Anbiya, keluarga para sahabat ra. juga telah berbuat demikian, sebagaimana banyak tertulis di dalam kitab-kitab, salah satu misalnya, adalah kisah hijrahnya Abu Bakar ra. ke Madinah. 

Asma’ binti Abu Bakar ra. meriwayatkan, “Ketika Rasulullah saw. keluar untuk hijrah, Abu Bakar ra. pun ikut keluar berhijrah bersama beliau. Abu Bakar membawa seluruh hartanya sebanyak 5000 atau 6000 dirham. Dia pun pergi dgn membawa seluruhnya. Kemudian dtglah kakek kami; yaitu Abu Quhafah ra.. Ia berkata, “Demi Allah, Abu Bakar itu pasti telah menyusahkan kalian dgn harta dan dirinya.” Aku berkata, “Sama sekali tidak! Wahai kakek, sesungguhnya ia telah meninggal kan banyak harta.” Maka aku ambil kerikil-kerikil dan kuletakkan di tempat yang biasa ayahku menyimpan hartanya di lubang di rumahnya. Lalu kututup dengan kain, dan kutuntun tangan kakekku, dan berkata, “Ulurkan tanganmu ke sini, kek. “Dia berkata, “Kalau begini tidak masalah. 

Sungguh dia telah meninggal kan ini untuk kalian. Dia sudah berbuat baik.” Umar bin Khattab ra. berkata, Rasulullah SAW. menyuruh kami bersedekah. Ini bertepatan dan harta yg ada padaku. Aku berkata, “Jika suatu hari aku akan menang di atasnya.” Lalu aku dtg dgn setengah hartaku, lalu Rasulullah SAW. bertanya, “Sepertiga.” Lalu dtg Abu Bakar ra. membawa seluruh harta yg ada padanya. Maka Rasulullah SAW. bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yg kamu tinggalkan utk ahli keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan utk mrk Allah dan RasulNya.” Berkata Umar, “Aku memang tidak akan menang di atas Abu Bakar sedikit pun selamanya.”

Apakah Abu Bakar ra. dianggap oleh Nabi SAW. sbg suami dan ayah yg zalim kpd keluarganya, krn ia tidak meninggalkan apapun bagi keluarganya ketika berhijrah bersama Rasulullah saw? Bahkan justru Rasulullah saw. Tidak mengingkari pengorbanan Abu Bakar As-Shiddiq ra. Yg menyerahkan seluruh hartanya krn beliau mengetahui kebenaran niatnya. Tindakan Abu Bakar ra. tidaklah menyalahi firman Allah Al-Baqarah, ayat; 219, (Allah SWT berfirman, “Dan mrk bertanya kpdmu apa yg mrk nafkahkan. Katakanlah: " Yg lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat2Nya kpdmu supaya kamu berfikir,”) krn Allah mengakui pengorbanan yg dilakukan oleh seseorg demi agama dan umat. Juga spt sahabat Anas bin Malik ra. Ia memiliki anak yg sulit di hitung krn banyaknya. 

Ia pernah berkata, “Cucu2ku itu mempunyai hitungan tersendiri. Ttpi aku sendiri telah menguburkan 125 anak dari keturunanku. Selain itu, yang masih hidup pun banyak sekali.” Walaupun demikian banyak tggjwb keluarga, terhadap istri dan anak2nya, ia terkenal sbg sahabat yg banyak meriwayatkan hadist dan sering menyertai jihad fisabilillah. Demikian juga, Zubair bin Awwam ra. yg pada waktu mati syahidnya, ia meninggalkan 9 org anak laki2, 9 anak perempuan, dan 4 org istri. Bahkan ada sebagian dari cucunya yg lebih tua dpd anak2nya sendiri. Meskipun demikian, ia merupakan salah seorg sahabat yg banyak meriwayatkan hadist. Ia juga ikut serta dlm banyak peperangan. Sekalipun mempunyai banyak tanggungan keluarga, namun anak2 dan istrinya itu tidak menghalanginya dari kesibukan memperjuang kan agama Allah.

Di dalam kisah lain, diriwayatkan Sa’ad bin Khaitsamah ra. bercerita, “Aku tertinggal dari rombongan Rasulullah SAW. Yang ke Tabuk. Aku pun kembali ke rumah. Di sana kudapati istriku sedang menyiram rumah dengan air (agar menjadi sejuk), maka kukatakan kepada istriku, “Sungguh tidak adil kalau aku masuk rumah dan beristirahat di tempat yg teduh, sedangkan pada saat ini Rasulullah. Sedang berada di tempat yg sgt panas.” Maka segera kusiapkan kantong dan bekalku. Melihat hal itu, istriku berteriak, “Abu Khaitsamah! Hendak kemana engkau?” Kujawab, “Menyusul Nabi saw Ke Tabuk.” 

Setelah itu aku keluar, dan di tengah perjalanan, aku bertemu Umar bin Wahab, lalu aku berkata kepadanya, “Sungguh kamu ini seorang pemberani. Aku ingin tahu di mana Nabi SAW berada. Dan sungguh aku merasa berdosa. Karena itu berjalanlah di belakangku agar dapat kutemui Nabi SAW. empat mata.” Umar pun berjalan mengikuti dari belakang. Ketika aku mendekati pasukan itu, maka orang-orang melihatku dari jauh dan berkata, “Ada seseorang mengendarai kuda ke arah kita!” Rasulullah SAW. berkata, “Ya Rasulullah, celaka aku!” Kemudian kuceritakan kisah perjalananku, maka Rasulullah SAW. mendoakan kebaikan untukku.”

Abu Naufal bin Abi ‘Aqrab menceritakan, “Ketika Harits bin Hisyam akan berangkat dari Makkah menuju ke Syam, maka seluruh penduduk Makkah sangat merisaukan kepergiannya. Semua org kecuali anak2 yg masih menyusui mengantar kepergiannya ke luar kota Makkah. Ketika sampai di bukit Bathha atau dekat tempat itu, maka dia berhenti, dan org2 merasa bersedih, maka dia berkata, “Wahai kaumku! Demi Allah, sesungguhnya aku pergi bukan karena lebih menyayangi diriku dari pada diri kalian, juga bukan karena aku lebih memilih kota lain dari pada kota kalian. Ttpi aku pergi karena memenuhi perintah agama utk berjihad di jln Allah, dan hingga saat ini telah banyak kaum Quraisy yg telah mendahului aku pergi padahal mereka bukan termasuk pemuka atau pun dari keluarga yg berkedudukan tinggi. 

Keadaan kita sekarang ini, demi Allah! Sesungguhnya kita mengorbankan emas di jalan Allah sebanyak gunung2 di kota Makkah, niscaya kita tidak akan melebihi pahala satu hari mereka di jalan Allah. Demi Allah! Seandainya mereka mendahului kita di dunia, maka sekurang2nya kita dapat menyamai mereka di akhirat. Sebaiknya orang yang beramal merasa takut kpd Allah dan amalnya.” Setelah itu diapun berangkat menuju ke Syam, dan dia juga membawa kerabatnya utk ikut serta dan ia tetap tinggal di sana hingga mati syahid, sehingga Allah merahmatinya.” Semua kisah di atas dgn tegas menunjukkan bahwa meninggalkan keluarga utk sementara demi kepentingan agama. Namun penerapannya bagi kita perlu dilakukan dgn sebijak dan sehikmah mungkin, sehingga maksud utk menyebarkan agama menjadi terwujud dgn baik.

No comments:

Post a Comment